harapanrakyat.com,- Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Jawa Barat turun tangan menangani insiden Tongkang batu bara Nautica 22 yang kandas di perairan Pantai Tanjung Cemara, Kecamatan Sidamulih, Kabupaten Pangandaran.
DKP pun sudah berkoordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) untuk memitigasi dampak tumpahan muatan batu bara sebesar 8.100 ton terhadap ekosistem laut dan pesisir selatan Jawa Barat.
Kepala DKP Jawa Barat, Rinny Cempaka mengatakan, tongkang yang memiliki berat kotor 3.816 Gross Tonnage (GT) tersebut merupakan bagian dari operasional kapal tunda KM Titan 33 yang dinakhodai oleh Nur Alamsyah.
Ia menyebut, DKP Jawa Barat telah menerjunkan personel ke lokasi kejadian sejak 17 Juni 2026 untuk melakukan investigasi awal dan mengukur tingkat kerawanan lingkungan.
“Kami memanggil pihak perusahaan pemilik kapal, PT Trans Logistik Perkasa, untuk menyepakati langkah penanganan jangka pendek. Perwakilan manajemen telah berkomitmen untuk segera memperbaikan fisik tongkang serta membersihkan material batu bara yang mengotori area pantai,” kata Rinny dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (27/6/2026).
Baca Juga: Kapal Tongkang Batubara Kandas di Pantai Sukaresik Pangandaran, Ternyata Sengaja Didamparkan!
Kapal Tongkang Batu Bara Kandas di Pangandaran, Pengawasan Kualitas Air Jadi Indikator Pemulihan
Sebagai langkah lanjutan, DKP Jawa Barat telah menggelar rapat koordinasi khusus dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) pada Jumat 21 Juni 2026.
Hasilnya, DLH akan melakukan pengujian berkala terhadap sampel kualitas air di perairan sekitar lokasi terdamparnya kapal. Hal itu dilakukan guna mengidentifikasi potensi polusi berbahaya bagi biota laut.
“Kami sudah berkoordinasi dengan DLH yang akan mengecek kualitas air sekitar lokasi kejadian untuk memastikan pencemaran terhadap ekosistem laut,” ujarnya.
Rinny menambahkan, pihaknya bersama tim dari Kementerian Lingkungan Hidup dan DLH akan memetakan wilayah terdampak menggunakan pesawat nirawak atau drone. Hal itu bertujuan untuk memastikan objektivitas analisis laboratorium.
“Kami bersama KLH dan DLH melakukan pemetaan udara dengan drone untuk memperoleh gambaran spasial wilayah terdampak,” ucapnya.
Selain itu, kata Rinny, petugas akan mengambil sampel air dan biota laut di enam titik strategis. Enam lokasi itu mulai dari budidaya ikan milik masyarakat dan kawasan konservasi penyu.
Kemudian, wilayah Cagar Alam Pangandaran serta destinasi wisata utama yaitu Pantai Batu Karas, Pantai Batu Hiu, dan perairan sekitarnya.
“Kami akan melakukan survei dan wawancara dengan nelayan serta masyarakat sekitar. Kami ingin menggali informasi langsung terkait dampak yang mereka rasakan,” tuturnya. (Reza/R7/HR-Online/Editor-Ndu)

4 hours ago
2

















































