harapanrakyat.com,- Teriakan korve atau corvee menggema di Stadion Galuh Ciamis, Jawa Barat pada Jumat (6/2/2026). Teriakan penyemangat itu terdengar kala Bupati Ciamis Herdiat Sunarya memimpin Apel Aksi Nyata Ciamis Lebih Bersih, bagian dari Gerakan ASRI (Aman, Sehat, Resik, dan Indah).
Herdiat berdiri di mimbar apel, menghadap peserta dari berbagai instansi. Para peserta berjejer rapi di tengah lapangan. Mereka tidak memakai baju dinas seperti biasa, tetapi berseragam lapangan.
Dalam sambutannya, Herdiat mengajukan satu pertanyaan. “Are you ready?” Seruan itu dijawab serempak oleh peserta apel, “Siap, siap, siap!”
Tak lama berselang, Herdiat kembali mengangkat suaranya. “Corvee… corvee!” Teriakan itu menggema di lapangan dan langsung diikuti ribuan peserta apel hampir tanpa jeda. Herdiat kemudian melanjutkan yel-yel penyemangat dengan berteriak, “Ciamis…Ciamis!” Para peserta pun menjawabnya dengan teriakan, “Adipura, Adipura!”
Baca Juga: Ciamis Tetap Jadi yang Terbaik, Bupati Herdiat Galakkan Aksi Korve Massal Respon Darurat Sampah
Arti Korve atau Corvée yang Diteriakkan Bupati Ciamis, Istilah Lama dari Prancis
Bukan sekadar yel-yel penyemangat, istilah korve atau corvée ternyata memiliki makna yang cukup dalam. Corvée, atau kerap disebut korve, merupakan bentuk kerja wajib tanpa upah yang bersifat sementara.
Pada masa lalu, sistem ini diberlakukan oleh negara atau penguasa feodal kepada rakyat, khususnya petani, sebagai pengganti kewajiban pajak. Umumnya, corvée digunakan untuk mengerjakan proyek kepentingan umum seperti pembangunan jalan dan jembatan, atau mengelola lahan milik penguasa.
Secara historis, istilah ini berasal dari Prancis dan dikenal luas di Eropa pada era abad pertengahan. Praktik serupa juga ditemukan dalam berbagai peradaban kuno, mulai dari Mesir, Romawi, Tiongkok, hingga masa kolonial.
Berbeda dengan perbudakan, corvée biasanya dibebankan kepada masyarakat yang secara status merdeka. Mereka diwajibkan menyumbangkan tenaga sebagai bentuk kewajiban kepada negara atau penguasa, bukan dalam bentuk pembayaran uang. Jenis pekerjaan yang dilakukan meliputi pemeliharaan infrastruktur, kegiatan pertanian, serta berbagai tugas tambahan lainnya.
Dalam dunia modern saat ini, khususnya di Indonesia, istilah korve mengalami pergeseran makna. Kini, korve lebih sering digunakan untuk menyebut kegiatan kerja bakti atau penugasan tambahan, terutama di lingkungan militer dan organisasi pemerintahan.
Istilah corvée sendiri bukan hal baru di lingkungan pemerintahan. Di Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) Jatinangor, Kabupaten Sumedang, istilah ini sudah lama dikenal sebagai bagian dari pembentukan disiplin dan tanggung jawab sosial praja. Di IPDN, corvée identik dengan kerja bakti bersama sebagai sarana menanamkan nilai kepemimpinan, kepedulian lingkungan, dan semangat kolektif.
Arti istilah korve juga merujuk pada kerja bersama atau kerja wajib yang dilakukan masyarakat untuk kepentingan umum, seperti membersihkan lingkungan, memperbaiki jalan, atau pekerjaan sosial lainnya. Korve juga dimaknai sebagai kerja bakti kolektif yang berarti semua turun tangan, tanpa kecuali, demi kepentingan bersama.
Baca Juga: Persoalan Penanganan Sampah Jadi Sorotan, Dedi Mulyadi Ingin Daerah Lain Mencontoh Kabupaten Ciamis
Korve Bukan Apel Seremonial
Makna inilah yang ingin ditegaskan Herdiat dalam Gerakan ASRI (Aman, Sehat, Resik, dan Indah). Bukan sekadar apel seremonial, tapi ajakan agar seluruh elemen ikut bergerak membersihkan lingkungan.
Herdiat menegaskan, gerakan ini merupakan tindak lanjut langsung dari arahan Presiden RI dalam Rapat Koordinasi Nasional di Sentul, Bogor, beberapa waktu lalu.
Dalam forum itu, Presiden menyoroti persoalan sampah yang semakin serius dan mulai berdampak pada sektor pariwisata nasional. Pemerintah pusat, kata Herdiat, bahkan menyiapkan sanksi tegas bagi daerah yang dinilai lalai dalam urusan kebersihan.
Ia menyebut, di sejumlah wilayah, persoalan sampah sudah berujung pada konsekuensi hukum bagi pejabat yang bertanggung jawab.
Di tengah sorotan tajam tersebut, Ciamis justru mencatat hasil positif. Herdiat mengungkapkan kunjungan mendadak Menteri Lingkungan Hidup ke Ciamis pada Minggu (1/2/2026).
Tanpa agenda resmi, menteri turun langsung ke lapangan. Mulai dari berdialog dengan warga hingga meninjau operasional bank sampah.
Hasil evaluasi itu cukup membanggakan. Dari 514 kabupaten dan kota di Indonesia, Ciamis dinilai masih berada di peringkat teratas dalam hal kebersihan.
Herdiat menyebut, Menteri Lingkungan Hidup secara langsung menyampaikan bahwa Ciamis tetap menjadi daerah dengan skor kebersihan tertinggi secara nasional.
Baca Juga: Ciamis Kota Terbersih ASEAN, Kok Disidak Menteri Lingkungan Hidup?
Penggunaan istilah korve oleh Herdiat menyiratkan pesan bahwa menjaga kebersihan bukanlah sekadar urusan teknis, tetapi lebih dari itu yakni budaya yang harus ditanamkan sampai ke sudut sempit ruang publik di Ciamis.(R7/HR-Online/Editor-Ndu)

18 hours ago
8

















































