harapanrakyat.com,- Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, kini resmi memantapkan posisinya sebagai pionir industri pesawat amfibi (seaplane) di Indonesia. Serta mendapatkan dukungan penuh dari Kementerian Perhubungan melalui Badan Kebijakan Transportasi (Baketrans).
Melalui kolaborasi antara sektor pariwisata premium dan dunia pendidikan penerbangan, wilayah berjuluk The Sunrise of Java ini diproyeksikan menjadi hub strategis bagi konektivitas wilayah kepulauan di masa depan.
Baca Juga: Bandara Husein Sastranegara Bandung Masih Beroperasi dan Layani Penerbangan Komersial
Santai Seaplane di Indonesia Mulai Beroperasi Juli 2026
Maskapai Santai Seaplane, bagian dari jaringan Seaplane Asia, telah memilih Bandara Internasional Banyuwangi sebagai basis operasional pertamanya di tanah air.
CEO Seaplane Asia, Denis Keller mengatakan, lokasi strategis Banyuwangi sebagai gerbang penghubung Pulau Jawa dan Bali menjadi alasan utama pemilihan pangkalan tersebut.
Layanan yang rencananya mulai mengudara pada Juli 2026 ini akan menggunakan armada Cessna Caravan 208 EX Amphibian.
Pesawat amfibi atau seaplane di Indonesia ini tidak hanya melayani penerbangan wisata (scenic flight) di atas kawasan ikonik seperti Gunung Ijen dan Bromo. Tetapi juga menyediakan rute langsung menuju destinasi eksklusif seperti Bali, Kepulauan Gili, Lombok, hingga Sumbawa Barat.
Selain memanjakan turis dengan pengalaman “lounge-to-lagoon”, operasional pesawat amfibi ini juga dirancang untuk misi kemanusiaan. Termasuk evakuasi medis dan pengiriman logistik ke daerah-daerah terpencil yang sulit terjangkau moda transportasi konvensional.
Pusat Pendidikan Pilot Seaplane Satu-satunya di Asia Tenggara
Baca Juga: Menpar Widiyanti Dorong Pemerataan Investasi Pariwisata, Fokus Kembangkan Destinasi di Luar Bali
Tidak hanya dari sisi komersial, Banyuwangi juga memegang peranan krusial dalam mencetak sumber daya manusia (SDM) penerbangan. Akademi Penerbang Indonesia (API) Banyuwangi telah membuka program Single Engine Sea Class Rating, menjadikannya satu-satunya pusat pendidikan pilot seaplane di Indonesia dan Asia Tenggara.
Langkah besar ini diambil agar Indonesia tidak lagi bergantung pada fasilitas pelatihan di luar negeri, seperti Amerika Serikat atau Australia.
Dengan adanya pangkalan di Teluk Pangpang yang berfungsi sebagai water aerodrome, para pilot kini dapat menjalani pelatihan pendaratan air langsung di Banyuwangi.
Program ini telah menarik minat dari berbagai negara tetangga. Termasuk Malaysia yang mulai mengantri untuk menyekolahkan calon pilot mereka di sini.
Solusi Transportasi Efisien bagi Negara Kepulauan
Pengembangan industri seaplane dinilai sebagai solusi cerdas bagi tantangan geografis Indonesia sebagai negara kepulauan. Pembangunan infrastruktur bandar udara perairan (waterbase) jauh lebih ekonomis dan ramah lingkungan, karena tidak memerlukan lahan daratan yang luas dan mahal.
Baca Juga: Rute Penerbangan Baru, Susi Air Pangandaran-Bandung Hanya 45 Menit
Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, menyambut optimis kehadiran ekosistem pesawat amfibi ini. Menurutnya, layanan tersebut akan mendongkrak pariwisata minat khusus (high-yield tourism). Sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi pesisir melalui konektivitas yang lebih cepat dan efisien.
Dengan dukungan penuh dari Kementerian Perhubungan melalui Badan Kebijakan Transportasi (Baketrans) yang terus melakukan uji coba di berbagai titik potensial, Banyuwangi kini siap terbang lebih tinggi sebagai wajah masa depan aviasi perairan Indonesia. (R3/HR-Online/Editor: Eva)

2 hours ago
2

















































