harapantakyat.com,- Di wilayah Ciminyak, Desa Rancapanggung, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat (KBB), aliran Sungai Citarum nyaris tak terlihat. Seluruh permukaan Sungai Citarum tertutup rapat eceng gondok yang tumbuh lebat sejauh mata memandang.
Rimbunnya tanaman air itu membuat perahu sulit bergerak. Restoran terapung yang dulu mengandalkan pemandangan indah kini tak lagi bisa menawarkan hal serupa kepada pengunjung.
Warga yang menggantungkan hidup dari Sungai Citarum hanya bisa berharap arus dapat membawa eceng gondok hanyut, dan kembali dapat menangkap ikan.
Baca Juga: Kualitas Air Sungai Citarum Kembali Hitam Pekat
“Memang begini keadaannya, permukaan sungai penuh tertutup eceng gondok. Lama-kelamaan tumbuhnya makin banyak,” ujar Wawan, warga setempat, Minggu (7/6/2026).
Wawan sendiri memiliki usaha makan di dekat Jembatan Ciminyak. Biasanya ia membeli ikan segar langsung dari nelayan dan petambak di sekitar sana. Namun, sudah berminggu-minggu ia terpaksa mengambil pasokan dari daerah lain karena tidak ada lagi yang bisa ditangkap.
“Dulu kami saling bantu dengan membeli ikan hasil tangkapan warga sekitar. Sekarang saja mau menjala atau memancing pun tak bisa. Petambak juga panennya menurun drastis karena terganggu tanaman ini,” tambahnya.
Baca Juga: Menguak Sejarah Sungai Citarum di Provinsi Jawa Barat
Ancaman Nyamuk Akibat Eceng Gondok di Sungai Citarum
Masalah tak berhenti di situ. Penumpukan eceng gondok yang tebal juga menjadi sarang nyamuk yang berkembang biak dengan cepat. Warga yang tinggal di sekitar bantaran sungai merasakan dampaknya secara langsung.
“Saya yang rumahnya agak jauh saja masih diganggu nyamuk, apalagi yang tinggal tepat di pinggir sungai. Sehari saya bisa habis empat bungkus obat nyamuk bakar, kalau tidak begini susah tidur karena terus digigit,” keluh Wawan.
Baca Juga: Heboh Sosok Pocong di Bandung Barat, Polisi Tingkatkan Patroli
Berbeda dengan Wawan, Gandi, warga Kampung Bobojong, melihat hal tersebut pihaknya berinisiatif membersihkannya sendiri. Setiap hari ia terjun ke air hingga sebatas leher, mengangkat eceng gondok satu per satu tanpa alat berat.
Pria berusia 33 tahun ini mulai rutin melakukannya sejak Januari 2025. Ia bekerja selama dua hingga tiga jam setiap hari demi mengurangi penumpukan tanaman.
Sekali waktu ia menghitung, hasil angkatannya bisa mencapai 500 kilogram sehari. “Meski hanya sedikit demi sedikit, saya berharap kondisi ini perlahan membaik,” ujarnya. (Eri/R9/HR-Online/Editor-Dadang)

4 hours ago
8

















































