harapanrakyat.com,- Mempelajari sejarah Candi Tikus peninggalan Kerajaan Majapahit yang amat penting bagi pengetahuan sejarah Indonesia. Bangunan suci peninggalan masa lampau ini terletak tepat di Desa Temon, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur.
Baca juga: Mengungkap Misteri dan Sejarah Candi Jawi di Pasuruan Jawa Timur
Situs purbakala bersejarah ini diperkirakan dibangun secara khusus pada sekitar abad ketiga belas hingga keempat belas masehi.
Latar Belakang dan Sejarah Candi Tikus
Pertama-tama, awal mula penemuan Candi bernama Tikus ini berawal dari sebuah laporan pada tahun sembilan belas empat belas. Penduduk setempat secara tidak sengaja menemukan miniatur menara saat mereka sedang berusaha membasmi sarang hama tikus di kuburan. Oleh karena itu, masyarakat sekitar akhirnya sepakat memberikan nama situs kuno tersebut sesuai dengan rentetan kejadian unik tersebut.
Baca juga: Menelusuri Sejarah Candi Badut, Jejak Tertua Peradaban Kerajaan Kanjuruhan di Malang
Kemudian, Bupati Mojokerto saat itu yang bernama Kromojoyo Adinegoro secara resmi melaporkan penemuan situs bersejarah ini kepada pemerintah. Setelah itu, dinas purbakala terkait langsung melakukan upaya pemugaran bangunan secara menyeluruh pada tahun 1984. Sehingga terungkaplah sebuah struktur kolam persegi berbahan batu bata merah yang posisinya berada tiga meter di bawah tanah.
Sementara itu, banyak ahli sejarah meyakini bahwa fungsi utama tempat peninggalan ini adalah sebagai sebuah petirtaan suci kerajaan. Di samping itu, bangunan megah ini juga secara cerdas difungsikan sebagai sistem irigasi serta sarana penyaluran air penduduk. Dengan demikian, masyarakat Kerajaan Majapahit telah menunjukkan kecerdasan yang sangat luar biasa dalam mengelola sumber daya air Nusantara.
Keunikan Arsitektur dan Mitos Masyarakat Setempat
Lebih lanjut, arsitektur bangunan air ini terlihat sangat khas dengan tambahan undakan selasar yang rapi mengelilingi kolam utama. Selain itu, terdapat puluhan pancuran air kuno berbentuk makara dan teratai yang secara luas dikenal dengan sebutan jaladwara. Tentu saja, komponen saluran pembuangan air ini sangat efektif untuk mencegah genangan banjir serta melindungi candi peninggalan kerajaan dari kerusakan.
Sebaliknya, bentuk fisik miniatur menara di bagian tengah kolam dipercaya kuat sebagai perwujudan dari Gunung Mahameru yang disucikan. Walaupun demikian, tata letak bangunan ini memadukan nilai spiritual tinggi dengan teknologi rekayasa sipil yang sangat ramah lingkungan. Sejalan dengan itu, keberadaan situs ini menjadi bukti nyata kehebatan nenek moyang kita dalam menjaga keseimbangan siklus alam.
Baca juga: Sejarah Candi Kidal Peninggalan Kerajaan Singasari yang Ditemukan Thomas Stamford Raffles
Bahkan, sebagian besar masyarakat pedesaan setempat sangat percaya bahwa air dari kolam tersebut terus menyimpan sebuah keajaiban magis. Konon, percikan air suci tersebut diyakini mampu mengusir serangan hama tikus yang sering merusak tanaman padi di sawah. Oleh karenanya, para petani setempat selalu menjaga ketat kelestarian fisik bangunan agar berkah air suci tersebut tetap terjaga.
Keberadaan situs peninggalan bersejarah ini sangat melengkapi keindahan kompleks purbakala di bekas pusat tata kota Majapahit. Para wisatawan masa kini dapat berkunjung untuk mempelajari langsung kehebatan peradaban masa lampau yang sudah berkembang sangat maju. Karena itu, nilai sejarah Candi Tikus akan selalu menjadi warisan budaya berharga peninggalan Nusantara yang wajib terus kita lindungi. (Muhafid/R6/HR-Online)

12 hours ago
12

















































