Festival Metri Bumi Merapi, Tradisi Syukur dan Strategi Mitigasi Budaya Masyarakat Lereng

11 hours ago 7

Masyarakat yang bermukim di sekitar lereng Gunung Merapi hingga saat ini terus melestarikan warisan leluhur melalui berbagai ritual adat. Termasuk perhelatan Festival Metri Bumi Merapi yang memadukan ekspresi rasa syukur dengan strategi mitigasi bencana berbasis kearifan lokal.

Tradisi ini tidak hanya sekadar arak-arakan budaya, melainkan simbol mendalam bagi permohonan keselamatan dan keharmonisan hidup masyarakat yang berdampingan langsung dengan salah satu gunung api paling aktif di Indonesia.

Baca Juga: Pesona Festival Candi Sojiwan: Merayakan Budaya dan Harmoni di Klaten

Festival Metri Bumi Merapi sebagai Simbol Ruwat dan Rawat Alam

Dengan mengusung tema “Sabda Lereng untuk Semesta”, tahun 2026 ini festival budaya tersebut digelar di Ekowisata Kalitalang, Desa Balerante, Klaten. Acara tradisi ini berhasil menarik perhatian ribuan pengunjung.

Acara yang merupakan bagian dari peringatan Hari Jadi ke-222 Kabupaten Klaten ini menekankan empat pilar utama. Ruwat (budaya), Rekat (kebersamaan), Rawat (alam), dan Ragat (ekonomi) yang ditandai dengan kirab 15 gunungan hasil bumi sebagai perwujudan toleransi lintas agama.

Selain di Klaten, semangat serupa juga terlihat dalam prosesi Labuhan Merapi di Yogyakarta yang dipimpin oleh Juru Kunci Merapi, Mbah Asih. Prosesi ini sebagai bentuk laku spiritual untuk menjaga keseimbangan hubungan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.

Baca Juga: Menjaga Akar, Memeluk Zaman: Inovasi Pemuda di Penglipuran Village Festival XIII

Ritual Metri Bumi dan Sedekah Gunung Lencoh

Keberagaman tradisi Metri Bumi Merapi ini juga meluas hingga ke wilayah Magelang dan Boyolali melalui ritual Merti Bumi dan Sedekah Gunung Lencoh.

Di Boyolali, pelarungan kepala kerbau ke Pasar Bubrah berfungsi sebagai strategi mitigasi non struktural yang menanamkan kesadaran kolektif. Serta kewaspadaan masyarakat terhadap aktivitas vulkanik Merapi.

Integrasi nilai-nilai tersebut menunjukkan bahwa pelaksanaan Metri Bumi Merapi dan ritual pendukung lainnya tetap terjaga kuat di tengah arus modernisasi. Hal ini sebagai upaya menjaga ketentraman hidup warga di zona rawan.

Baca Juga: Jatiluwih Festival VII 2026: Komitmen Melestarikan Warisan Budaya Dunia Melalui Pariwisata Berkelanjutan

Seluruh rangkaian tradisi di seputar Merapi ini menegaskan bahwa kearifan lokal tetap menjadi fondasi penting dalam menjaga kelestarian lingkungan.

Melalui semangat Metri Bumi Merapi, masyarakat lereng gunung membuktikan komitmennya untuk terus merawat harmoni alam demi masa depan yang berkelanjutan bagi generasi mendatang. (R3/HR-Online/Editor: Eva)

Read Entire Article
Perayaan | Berita Rakyat | | |