harapanrakyat.com,- Petani di wilayah Kecamatan Ujungjaya, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, mengaku harga gabah pada musim panen saat ini masih relatif stabil dibanding tahun sebelumnya. Kondisi tersebut cukup menguntungkan karena diiringi harga pupuk yang lebih terjangkau dari beberapa tahun terakhir. Hanya saja petani masih terkendala untuk mendapatkan pupuk Phonska.
Ketua Kelompok Tani Sawah Tengah Ujungjaya, Sunarja mengatakan, harga gabah kering di tingkat petani saat ini berada di kisaran Rp 7.500 per kilogram. Sementara gabah basah sekitar Rp 6.500 per kilogram.
“Kalau gabah basah sekarang sekitar Rp 6.500 per kilo. Dari musim sebelumnya juga masih tetap di angka itu,” kata Sunarja, Kamis (21/5/2026).
Baca Juga: Petani Jagung di Kota Banjar Curhat ke Kapolres; Susah Dapat Pupuk Subsidi Saat Panen Raya
Menurutnya, harga gabah yang cenderung stabil membuat petani masih bisa memperoleh keuntungan. Terlebih biaya pupuk saat ini lebih ringan dari sebelumnya.
“Sekarang pupuk lebih murah, jadi petani merasa lebih terbantu dan hasil penjualan gabah masih cukup menguntungkan,” tambahnya.
Gabah Mudah Terserap, Petani Keluhkan Distribusi Pupuk Phonska
Lebih lanjut Sunarja mengatakan, penentuan harga gabah di lapangan masih dipengaruhi peran tengkulak dan pembelian oleh perum Bulog. Meski demikian, petani tidak mengalami kendala berarti dalam proses penjualan hasil panen.
Baca Juga: Sekda Ciamis Ajak Petani Kurangi Bahan Kimia: Tanah Sehat, Hasil Panen Meningkat
“Gabah sekarang mudah terserap. Biasanya petani tinggal menghubungi tengkulak atau Bulog saat panen tiba. Namun, dengan adanya Perum Bulog tidak hanya membuat harga gabah menjadi stabil, terkadang para tengkulak berkenan menerima harga lebih tinggi dari harga standar Bulog karena khawatir tidak dapat pasokan gabah dari petani,” jelasnya.
Di sisi lain, ketersediaan pupuk subsidi disebut lebih baik dibanding tahun-tahun sebelumnya. Stok pupuk di agen dinilai cukup melimpah dan mudah diakses petani.
Namun, Sunarja mengungkapkan masih ada kendala pada distribusi pupuk jenis Phonska yang terkadang terlambat tersedia di tingkat agen. Kondisi itu menyebabkan jadwal pemupukan mundur dan sedikit memengaruhi hasil produksi pertanian.
“Kalau pupuk urea banyak, tapi Phonska kadang sulit kita dapat tepat waktu. Akibatnya waktu pemupukan jadi terlambat dan sedikit berpengaruh pada hasil panen,” ungkapnya.
Baca Juga: Panen Raya Ubi Cilembu di Tanjungkerta Sumedang Tegaskan Daya Saing Global Komoditas Lokal
Sunarja berharap pemerintah terus menjaga kestabilan harga gabah sekaligus memperbaiki distribusi pupuk subsidi agar kebutuhan petani dapat terpenuhi tepat waktu.
“Kami berharap harga gabah tetap stabil dan penyaluran pupuk lebih lancar. Petani juga berterima kasih karena pemerintah sudah ikut turun tangan membantu sektor pertanian,” pungkasnya. (Aang/R3/HR-Online/Editor: Eva)

3 hours ago
5

















































