Kirab Malam 1 Suro Solo: Tradisi Sakral, Ikon Kebo Bule, dan Aturan Tapa Bisu

5 hours ago 6

Kota Surakarta kembali menggelar ritual agung Kirab Malam 1 Suro Tahun Alip BE 1960 yang berpusat di Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Perayaan yang menandai pergantian Tahun Baru Jawa sekaligus 1 Muharram 1448 Hijriah ini berlangsung pada Selasa malam, 16 Juni 2026.

Tradisi yang telah berusia ratusan tahun ini bukan sekadar seremoni, melainkan simbol permohonan keselamatan dan sarana introspeksi diri bagi masyarakat Jawa.

Baca juga: Eksplorasi Budaya Pesisir: Karangbolong Culture Festival 2026 Siap Digelar di Kebumen

Salah satu daya tarik utama dari prosesi Kirab Malam 1 Suro ini adalah kehadiran kawanan kebo bule keturunan Kyai Slamet yang bertindak sebagai cucuk lampah, atau pemandu jalan bagi iring-iringan pusaka suci dalem.

Hewan albino ini memiliki nilai sejarah tinggi sebagai hadiah dari Kyai Hasan Besari kepada Paku Buwono II. Menariknya, perawatan ikon budaya ini membutuhkan biaya operasional yang tidak sedikit. Butuh sekitar Rp 6 hingga Rp 7 juta per ekor setiap bulannya.

Keunikan dan Aturan Ketat Kirab Malam 1 Suro

Baca Juga: Tradisi Bau Nyale Lombok, Festival Unik dari Legenda Putri Mandalika

Bagi para peserta dan penonton, terdapat aturan sakral yang harus mereka patuhi selama prosesi berlangsung. Peserta wajib menjalani Tapa Bisu, yaitu larangan berbicara, ngobrol, atau bercanda.

Aturan tersebut sebagai bentuk perenungan diri atas segala tindakan di tahun yang lalu. Selain dilarang berbicara, peserta juga tidak boleh makan dan minum. Serta tidak memakai alas kaki sebagai bentuk keprihatinan atau tirakat. Serta terus memanjatkan doa sepanjang perjalanan.

Penting bagi wisatawan untuk mengetahui bahwa waktu pelaksanaan Kirab Malam 1 Suro antara Keraton Solo dan Puro Mangkunegaran terkadang berbeda karena perbedaan metode perhitungan kalender.

Keraton Solo biasanya menggunakan patokan kurup Asopon, sementara Puro Mangkunegaran seringkali mengikuti kalender pemerintah atau perhitungan Aboge.

Baca Juga: Melihat Tradisi Larungan Dongdang di Hajat Laut Basisir Pangandaran

Bagi masyarakat setempat, momen ini juga sangat identik dengan tradisi ngalap berkah. Warga rela menunggu hingga berjam-jam untuk mendapatkan sisa air jamasan. Atau bahkan kotoran kebo bule yang diyakini membawa keberuntungan.

Keseluruhan rangkaian ritual Kirab Malam 1 Suro ini tetap menjadi magnet budaya yang kuat sekaligus sarana spiritualitas bagi masyarakat di Solo. (R3/HR-Online/Editor: Eva)

Read Entire Article
Perayaan | Berita Rakyat | | |