harapanrakyat.com,- Kehadiran ruang publik idealnya bukan sekadar tempat melepas penat, melainkan juga wadah pemantik intelektualitas. Semangat inilah yang terus dirawat oleh Komunitas Maca Tasik. Secara konsisten setiap akhir pekan, mereka menyulap ruang publik menjadi altar gerakan literasi yang hidup dan membumi.
Baca Juga: Pojok Baca Nahdliyin Kota Banjar, Inisiatif Baru Perkuat Literasi Generasi Muda
Aksi nyata ini kembali terlihat pada Minggu (7/6/2026) pagi di samping taman Masjid Baiturrahman, Desa Sukaasih, Kecamatan Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya. Puluhan buku tertata rapi, mengundang perhatian warga dan pemuda setempat untuk singgah, membaca, atau sekadar bertukar pikiran.
Koordinator Komunitas Maca Tasik, Febrianti Nur Zakiyah mengungkapkan, bahwa ikhtiar merawat nalar kritis ini bukan perkara instan. Gerakan ini telah berjalan bertahun-tahun, demi mengikis angka ketidakpedulian terhadap literasi di daerah.
”Kami sejak tahun 2021 berusaha untuk terus konsisten membangun gerakan literasi di Kabupaten Tasikmalaya,” ungkap perempuan yang akrab disapa Feby ini kepada harapanrakyat.com, Minggu (7/6/2026).
Berawal dari 4 Mahasiswa, Komunitas Maca Tasik Kini Rutin Hidupkan Literasi
Mengenang masa awal terbentuknya, Feby menceritakan, bahwa Maca Tasik lahir dari keresahan akademik segelintir mahasiswa. Berawal dari obrolan warung kopi, wadah ini bertransformasi menjadi gerakan yang inklusif.
Komunitas ini berawal dari empat orang mahasiswa, yaitu Feby, Muhammad Rafi Faza, Ahmad Fadhlan, dan Adin Wardini. “Awalnya tahun 2021 kami hanya berempat berkumpul membahas buku dan fenomena sosial. Lambat laun, ada yang menghubungi lewat pesan singkat ingin ikutan. Akhirnya, beberapa orang bergabung untuk baca buku dan diskusi bersama di Cipasung,” kenang Feby.
Kini, fokus komunitas Maca Tasik meluas. Melalui agenda rutin “Lapak Buku” setiap Minggu pagi di Singaparna, mereka tidak hanya menyediakan bacaan gratis, tetapi juga menjadi pemantik diskusi kritis mengenai realitas sosial yang terjadi di tengah masyarakat.
”Bukan hanya baca buku. Kami juga membahas fenomena sosial, seperti anak putus sekolah, pendidikan mahal, kekerasan seksual, kemiskinan, korupsi, hingga pencemaran lingkungan,” tambahnya.
Melalui konsistensi di ruang publik ini, komunitas Maca Tasik berharap pemuda tidak bersikap apatis terhadap persoalan daerah.
Baca Juga: Respons Lonjakan Kasus Kekerasan Anak, Tunas Taman Jingga Datangi Sekolah di Tasikmalaya
”Kami berharap mudah-mudahan dengan gerakan kecil ini, dapat mengajak anak muda khususnya, untuk bersama-sama menambah wawasan. Selain itu juga, meningkatkan kepekaan sosial untuk melakukan perubahan lebih baik ke depan,” pungkas Feby. (Rafi/R5/HR-Online/Editor: Adi Karyanto)

7 hours ago
9

















































