Jika Anda mencari destinasi healing yang menawarkan perpaduan antara keindahan geologi purba dan balutan mitos yang kental, Sanghyang Heuleut adalah jawabannya. Terletak di kawasan Rajamandala Kulon, Cipatat, Kabupaten Bandung Barat, telaga alami ini kerap dijuluki sebagai “Belitong-nya Bandung” karena jajaran batu granit raksasanya yang memukau.
Aliran airnya yang jernih berwarna biru kehijauan berasal dari Sungai Citarum Purba yang terperangkap di antara tebing-tebing batu kapur menjulang tinggi.
Baca Juga: Curug Cikaracak Bogor, Surga Tersembunyi di Balik Rimbunnya Hutan
Pesona Geologi dan Mitos Sanghyang Heuleut
Secara ilmiah, telaga ini merupakan sebuah cekungan yang terbentuk akibat letusan dahsyat Gunung Api Purba Sunda pada masa lampau.
Keunikan geologi ini menjadikan situs tersebut sebagai bagian dari rangkaian situs “Sanghyang” lainnya di wilayah itu. Seperti Sanghyang Tikoro, Sanghyang Poek, dan Sanghyang Kenit.
Dari sisi legenda, nama Sanghyang Heuleut memiliki makna mendalam. “Sanghyang” berarti sesuatu yang suci, sementara “Heuleut” berarti jeda antara dua waktu. Masyarakat setempat meyakini bahwa tempat tersembunyi ini adalah lokasi para bidadari turun dari kayangan untuk menyucikan diri.
Baca Juga: Pesona Bukit Patrum Klaten: Bekas Tambang Belanda yang Menjelma Jadi Destinasi Instagramable Viral
Bagi para pecinta petualangan, perjalanan menuju lokasi memberikan tantangan tersendiri dengan trekking selama 30 hingga 60 menit menyusuri hutan dan medan berbatu.
Sesampainya di sana, pengunjung bisa menikmati aktivitas seperti berenang di danau berkedalaman 3 meter, cliff jumping dari tebing batu. Hingga fotografi dengan latar tebing putih yang kontras dengan air hijau toska.
Fasilitas dan Waktu Tepat Berkunjung
Fasilitas yang tersedia cukup memadai dengan tiket masuk sebesar Rp 20.000, biaya parkir yang terjangkau. Serta penyewaan pelampung Rp 15.000 demi keamanan saat berenang.
Baca Juga: Purba Sanghyang Kenit Bandung dengan Pesona Alam Eksotis
Sanghyang Heuleut bukan sekadar tempat wisata biasa, melainkan sebuah perjalanan melintasi waktu untuk menyaksikan sisa-sisa keagungan alam purba di Jawa Barat.
Untuk pengalaman terbaik, disarankan berkunjung saat musim kemarau agar mendapatkan pemandangan air yang jernih dan pastikan kondisi fisik Anda prima. Serta gunakan alas kaki yang tepat untuk medan yang licin. Jadi, sudah siapkah Anda mengunjungi “pemandian bidadari” ini di akhir pekan nanti? (R3/HR-Online/Editor: Eva)

7 hours ago
7

















































