Modal Gelang Nikah dan Mental Baja, Asep Sutisna dari Ciamis Sukses Jadi Penggerak Ekonomi Desa Lewat BRILink

9 hours ago 8

harapanrakyat.com,- Deru mesin Electronic Data Capture (EDC) terdengar berdecit silih berganti dari Toko Biboy sekaligus agen BRILink di pinggir Jalan Lingkar Selatan, Dusun Babakan, Desa Ciharalang, Kecamatan Cijeungjing, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Tak banyak yang tahu, Asep Sutisna (35) pemilik Toko Biboy di kawasan industri Ciamis itu memulai usaha dari hasil penjualan gelang mahar nikah. Kini, gerai BRILink miliknya menjadi andalan warga sekitar. 

Warga datang tanpa putus. Ada yang menarik uang tunai, membayar tagihan listrik, membeli token, hingga mentransfer uang. Sementara di sudut lain, pengunjung memilih kosmetik, parfum, alat tulis, atau sekadar mencari buket bunga untuk hadiah.

Sulit membayangkan bahwa usaha yang kini menjadi salah satu pusat aktivitas ekonomi warga itu pernah lahir dari kondisi serba kekurangan. Bahkan, modal awalnya berasal dari keputusan berat yang tak mudah dilupakan oleh pemiliknya, Asep Sutisna.

Pria yang kini dikenal sebagai agen BRILink sukses itu pernah menjual gelang emas pernikahannya demi mempertahankan hidup keluarga dan memulai usaha kecil-kecilan.

“Orang tua bilang menjual emas mahar nikah itu pamali. Tapi waktu itu kami benar-benar kepepet. Saya hanya berpikir bagaimana caranya keluarga tetap bisa makan dan usaha bisa jalan,” kenang Asep saat ditemui harapanrakyat.com, Senin (8/6/2026).

Baca Juga: Kisah Helmi Bangun Seblak Chacha Jadi Kuliner Hits di Ciamis

Asep Sutisna Asal Ciamis Meninggalkan Gaji Tetap demi Masa Depan Anak

Sebelum menjadi pengusaha, Asep dan istrinya, Neni Sumarni (35), adalah karyawan di sebuah department store di Ciamis. Hampir sepuluh tahun mereka bekerja dengan penghasilan yang relatif stabil. Rutinitas yang sama yang mereka jalankan setiap hari membuat keduanya merasa hidup berjalan di tempat.

Setiap bulan, sebagian besar gaji habis untuk kebutuhan rumah tangga, biaya menjaga anak, susu, dan kebutuhan harian lainnya. Ketika anak-anak mereka masih kecil, pasangan tersebut mulai berpikir untuk mencari jalan lain.

Neni lebih dulu mengundurkan diri dari pekerjaannya. Setahun kemudian, Asep mengikuti langkah yang sama. Keputusan itu bukan tanpa risiko. Mereka kehilangan sumber pendapatan tetap dan harus memulai semuanya dari nol.

Beruntung, orang tua memberikan sebidang tanah yang kemudian mereka manfaatkan untuk membangun bangunan sederhana sebagai tempat usaha. Namun masalah berikutnya segera muncul. Mereka tidak memiliki modal.

Untuk bertahan hidup, Asep sempat menjadi pengemudi ojek online. Ia juga menjual buah salak dengan sistem pesan antar. Apa pun pekerjaan yang menghasilkan uang, dijalani tanpa banyak pilihan.

Titik terberat datang ketika kebutuhan keluarga terus meningkat sementara penghasilan belum menentu. Dalam kondisi tersebut, Asep dan istrinya memutuskan menjual gelang emas pernikahan mereka. Dari penjualan itu, mereka memperoleh uang sekitar Rp 3 juta.

Uang tersebut tidak digunakan untuk kebutuhan konsumtif. Seluruhnya diputar menjadi modal usaha kecil-kecilan. Asep membeli bahan minuman sachet, Pop Ice, Nutrisari, cilok, hingga seblak yang kemudian dijual dari rumah.

Baca Juga: Kisah Pensiunan di Ciamis Menanti Kedatangan Petugas BRI Setiap Bulan

Hari-harinya dimulai sejak dini hari. Ia pergi ke pasar, membuat cilok sendiri, melayani pembeli hingga larut malam, lalu membereskan semua pekerjaan sebelum kembali memulai aktivitas keesokan harinya.

Targetnya sederhana, tetapi menjadi pegangan penting saat itu. Setiap hari harus ada tabungan Rp 100 ribu dari keuntungan usaha untuk menambah modal dan menjaga usaha tetap berputar.

Menangkap Peluang dari Transaksi Keuangan Warga

Modal Gelang Nikah dan Mental Baja, Asep Sutisna dari Ciamis Sukses Jadi Penggerak Ekonomi Desa Lewat BRILinkAgen BRILink Biboy di Jalan Lingkar Selatan, Ciamis pada 2023. Foto: Istimewa

Di sela-sela kesibukan berjualan, Asep mulai melihat peluang lain yang belum banyak digarap di lingkungannya. Melalui aplikasi BRImo di telepon genggamnya, ia membantu warga melakukan transfer, membeli pulsa, hingga menarik uang tunai dalam skala kecil.

Transaksi demi transaksi terus bertambah. Melihat peluang tersebut, Asep mengajukan diri menjadi Agen BRILink resmi pada 2018.

Namun harapannya tidak langsung terwujud. Pengajuan itu harus menunggu hampir dua tahun. Selama menanti, ia tetap melayani kebutuhan transaksi warga menggunakan mesin dari bank lain yang dibelinya secara mandiri.

Kesabaran itu akhirnya berbuah manis. Pada 2020, petugas BRI datang membawa mesin BRILink yang selama ini ditunggu. Kehadiran layanan tersebut langsung mendapat sambutan warga.

Posisi tokonya yang berada dekat kawasan pabrik menjadi keuntungan tersendiri. Banyak karyawan menerima gaji melalui rekening BRI, sementara fasilitas ATM belum tersedia di sekitar lokasi.

Setiap masa gajian tiba, toko Asep dipenuhi antrean warga yang hendak menarik uang tunai.

“Dari situ transaksi terus meningkat. Alhamdulillah sampai sekarang berkembang,” katanya.

Seiring meningkatnya transaksi, jumlah mesin BRILink yang dikelolanya juga bertambah. Kini ia mengoperasikan empat mesin BRILink di toko utama serta satu unit di gerai lain yang dikelola istrinya.

Keuntungan yang semula hanya puluhan ribu rupiah per hari kini berkembang menjadi belasan juta rupiah setiap bulan.

Membangun Usaha dari Keuntungan yang Diputar

Kesuksesan BRILink tidak membuat Asep berhenti berinovasi. Keuntungan usaha terus dipisahkan dan dikelola secara disiplin. Sebagian digunakan untuk membangun lima kamar kos yang menyasar karyawan pabrik di sekitar wilayah tersebut. Kos-kosan itu dibangun di depan kios BRILink miliknya.

Ia juga menangkap kebutuhan lain yang sering ditanyakan pelanggan, terutama pekerja perempuan. Dari sana lahir usaha kosmetik, parfum, alat tulis, hingga buket hadiah yang kini menjadi bagian dari tokonya.

Konsep yang diterapkan cukup sederhana, yakni menyediakan berbagai kebutuhan dalam satu tempat sehingga pelanggan yang datang bertransaksi keuangan bisa sekaligus berbelanja.

“Kalau orang datang tarik uang atau transfer, mereka bisa sekalian membeli kebutuhan lain. Jadi saling mendukung,” ujarnya.

Meski telah memanfaatkan fasilitas Kredit Usaha Rakyat (KUR) untuk memperkuat likuiditas transaksi BRILink, Asep mengaku selalu berhati-hati dalam mengembangkan usaha.

Ia memilih membangun unit bisnis baru dari keuntungan yang sudah benar-benar dihasilkan, bukan dari spekulasi menggunakan pinjaman.

Di balik perkembangan usahanya, Asep meyakini bahwa modal terbesar seorang pengusaha bukanlah uang. Menurutnya, banyak orang memiliki akses terhadap modal, tetapi tidak semua memiliki keberanian menghadapi risiko, persaingan, dan kegagalan.

“Kalau soal modal uang, mungkin dulu saya juga bisa pinjam ke bank. Tapi yang paling penting itu mental. Siap atau tidak menghadapi prosesnya,” tegasnya.

Perjalanan membangun usaha tidak selalu mulus. Persaingan, cibiran, hingga berbagai tantangan pernah ia alami. Namun semua itu justru memperkuat keyakinannya untuk terus berkembang.

Gelang emas mahar nikah yang pernah dijual demi bertahan hidup kini hanya menjadi bagian dari kenangan perjuangan. Dari keputusan berat itulah lahir usaha yang tidak hanya menghidupi keluarganya, tetapi juga memudahkan aktivitas ekonomi warga sekitar.

Manfaat keberadaan Agen BRILink tersebut juga dirasakan langsung oleh masyarakat. Abun, warga Dusun Babakan, Desa Ciharalang, Kecamatan Cijeungjing, Kabupaten Ciamis mengaku tidak lagi harus pergi jauh untuk melakukan berbagai transaksi keuangan.

Baca Juga: Tergiur Voucher Belanja Rp2 Juta, Guru SLB di Ciamis Jadi Korban Penipuan Digital

“Dulu kalau mau ambil uang atau bayar tagihan harus ke kota atau cari ATM. Sekarang tinggal jalan kaki ke sini,” katanya.

Abun mengaku memanfaatkan BRILink milik Asep untuk melakukan segala jenis transaksi. “Di sini kan mau transaksi apa saja mulai dari belanja token listrik sampai tarik uang cash buat kebutuhan sehari-hari, semuanya bisa beres di BRILink, sangat menghemat waktu dan ongkos,” katanya. (Fahmi/R7/HR-Online/Editor-Ndu)

Read Entire Article
Perayaan | Berita Rakyat | | |