Monumen Geger Cilegon, Jejak Perjuangan Rakyat Banten Melawan Kolonial Belanda

13 hours ago 8

Monumen Geger Cilegon kembali menjadi perhatian masyarakat setelah diresmikan untuk kedua kalinya pasca revitalisasi pada November 2025. Monumen Geger yang berada di Jalan Jenderal Sudirman, Purwakarta, Cilegon ini merupakan bagian penting dari sejarah Indonesia. Terutama berkaitan dengan peristiwa perjuangan rakyat Cilegon, Banten, dalam melawan penjajahan Hindia Belanda.

Baca Juga: Pesona Baru Wisata Benteng Fort Willem I Semarang Setelah Revitalisasi

Napak Tilas Monumen Geger Cilegon dan Perjuangan Rakyat di Era 1888

Keberadaan Monumen Geger tidak dapat lepas dari “Peristiwa Geger Cilegon” yang terjadi pada 9 Juli 1888. Peristiwa tersebut populer sebagai salah satu perlawanan terbesar rakyat Banten terhadap pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Tepatnya pada akhir abad ke-19. Perlawanan ini bukan muncul secara tiba-tiba, melainkan akibat berbagai tekanan selama bertahun-tahun.

Latar belakang perlawanan juga dipengaruhi oleh letusan dahsyat Gunung Krakatau pada tahun 1883. Bencana tersebut memicu tsunami besar yang menghancurkan kawasan pesisir Selat Sunda. Termasuk Anyer, Merak, Pasauran, Caringin, hingga Carita. Ribuan orang kehilangan nyawa, sementara permukiman, lahan pertanian dan jalur perdagangan mengalami kerusakan parah.

Setelah bencana berlalu, penderitaan masyarakat belum berakhir. Kelaparan, wabah penyakit, hingga kematian hewan ternak semakin memperburuk keadaan. Pemerintah kolonial kemudian mengeluarkan kebijakan pemusnahan kerbau dengan alasan mencegah penyebaran penyakit. Padahal, bagi masyarakat Banten, kerbau merupakan alat utama untuk mengolah sawah sekaligus sumber penghidupan keluarga.

Baca Juga: Toren Air Raksasa Cikampek, Saksi Bisu Kejayaan Kereta Uap dan Perjuangan Kemerdekaan

Di tengah kondisi ekonomi yang sulit, rakyat masih terbebani kewajiban membayar pajak dan menjalani kerja paksa. Minimnya kepedulian pemerintah kolonial terhadap penderitaan masyarakat membuat hubungan antara rakyat dan penguasa tak terkendali. Sampai pada akhirnya muncul gagasan perlawanan secara masif dan kompak dari berbagai kalangan. Sekaligus melatarbelakangi pembangunan Monumen Geger Cilegon kelak.

Aturan Kolonial Menyinggung Agama Tuai Kemarahan

Selain tekanan ekonomi, kebijakan pemerintah kolonial juga masyarakat anggap mengganggu kehidupan beragama. Ini tentu memicu kemarahan masyarakat. Salah satunya adalah aturan yang membatasi adzan, shalawat dan tarhim dengan alasan menjaga ketertiban umum. Bahkan, menara sejumlah musala mengalami pembongkaran oleh pihak pemerintah kolonial.

Bagi masyarakat Banten yang cenderung religius, kebijakan tersebut menjadi bentuk penghinaan terhadap agama Islam. Kehidupan beragama saat itu bukan hanya urusan ibadah, tetapi juga bagian penting dari identitas, budaya dan persatuan masyarakat. Dalam situasi tersebut KH Wasyid bin Muhammad Abbas atau Ki Wasyid hadir sebagai pelopor.

Dalam catatan sejarah Monumen Geger, Ki Wasyid merupakan tokoh ulama yang memiliki banyak pengikut di wilayah Cilegon dan sekitarnya. Selain mengajarkan ilmu agama, Ki Wasyid juga mengajak masyarakat kembali kepada ajaran Islam yang benar. Tepatnya ketika sebagian warga mulai mempercayai praktik-praktik yang menyimpang.

Bersama para muridnya, Ki Wasyid pernah menebang pohon kepuh yang masyarakat anggap keramatkan di kawasan Lebak Kelapa. Tindakan itu membuatnya mendapat sanksi dari pemerintah kolonial pada 18 November 1887. Ia bahkan harus membayar denda cukup besar mencapai 7,50 gulden.

Tidak lama kemudian, tepatnya pada 7 Juli 1888, para ulama mengadakan pertemuan di rumah Haji Akhia, Jombang Wetan. Tujuannya untuk menyusun langkah perlawanan. Dua hari setelahnya, pada malam 9 Juli 1888, kelompok tersebut menyerang pusat pemerintahan kolonial di Cilegon. Serangan ini menjadi simbol perlawanan rakyat terhadap kekuasaan Belanda yang selama bertahun-tahun menindas kehidupan masyarakat.

Dampak dan Akhir Perlawanan

Perlawanan Geger Cilegon menimbulkan korban jiwa dari kedua belah pihak. Dalam serangan terhadap pusat pemerintahan kolonial, sekitar 19 orang Eropa, termasuk pejabat pemerintah dan anggota keluarganya, meninggal dunia. Setelah itu, pemerintah Belanda mengirim pasukan untuk melakukan penumpasan terhadap para pejuang Banten.

Ada sekitar 30 hingga 40 pejuang gugur dalam pertempuran maupun pengejaran. Salah satu tokoh utama, KH Wasyid, juga gugur setelah melakukan perjuangan gerilya di wilayah Ujung Kulon. Selain itu, sejumlah bangunan dan fasilitas milik pemerintah kolonial mengalami kerusakan. Ini membuat aktivitas pemerintahan di Cilegon sempat terganggu.

Meski perlawanan berhasil reda, dampaknya cukup besar bagi pemerintah kolonial. Sebanyak 94 pemimpin dan tokoh perlawanan mendapat hukuman pembuangan ke berbagai daerah di Nusantara. Termasuk Tondano, Gorontalo, Banda Neira, Ternate, Bengkulu, Manado hingga Pariaman.

Pembangunan Monumen Sebagai Penghormatan

Untuk mengenang jasa para pejuang Geger Cilegon, pemerintah RI membangun sebuah monumen. Proses pembangunan Monumen Geger berlangsung pada tahun 1997. Setelah proses pembangunan dan penyempurnaan, monumen ini pertama kali pemerintah resmikan pada 10 November 2019.

Seiring berjalannya waktu, kawasan monumen beberapa kali mendapatkan perbaikan dan penataan. Tujuannya agar tetap terawat serta semakin nyaman masyarakat kunjungi. Revitalisasi terbaru selesai dan resmi buka lagi untuk umum pada 17 November 2025. Kini bangunannya hadir dengan tampilan yang lebih modern tanpa menghilangkan nilai sejarah di dalamnya.

Baca Juga: Benteng Fort de Kock, Peninggalan Belanda Sekaligus Saksi Perang Padri

Monumen Geger sendiri berada di dekat Alun-Alun Kota Cilegon. Aksesnya sangat mudah dijangkau oleh masyarakat maupun wisatawan yang datang dari luar daerah. Letaknya di ruang terbuka menjadikan Monumen Geger Cilegon tidak hanya sebagai landmark kota. Lebih dari itu, ini juga sebagai pengingat bahwa sejarah perjuangan bangsa harus terus kita jaga dari generasi ke generasi. (R10/HR-Online)

Read Entire Article
Perayaan | Berita Rakyat | | |