Sejarah Desa Sade mendadak jadi perbincangan pasca mengalami musibah kebakaran hebat pada 22 Agustus 2026. Sebelum terbakar, Desa Sade merupakan kampung adat yang terkenal dengan sejarah dan keunikannya. Namun kini, kawasan budaya tersebut luluh lantah setelah api melahap sebagian besar permukiman adat.
Baca Juga: Menelusuri Jejak Sejarah dan Era Baru Monumen Pers Nasional di Solo
Kebakaran terjadi di hari Sabtu malam dan membuat ratusan rumah terdampak. Data awal menyebut 129 rumah ludes terbakar serta sekitar 320 warga terdampak. Musibah tersebut tentu menjadi pukulan besar bagi masyarakat Suku Sasak. Sebab, Desa Sade bukan sekadar kawasan permukiman. Kampung ini menjadi ruang hidup masyarakat yang menjaga berbagai tradisi leluhur selama ratusan tahun.
Mengenal Sejarah Desa Sade
Sade tidak bisa dilepaskan dari perjalanan masyarakat Suku Sasak di Pulau Lombok. Lokasinya berada di Dusun Sade, Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat. Nama Sade berasal dari istilah “husada” atau “obat”. Konon dulunya, kampung ini merupakan rujukan bagi masyarakat untuk mencari solusi dari berbagai penyakit.
Sejumlah sumber menyebut Sade telah berdiri selama ratusan tahun. Pemerintah melalui laman Indonesia Travel menyebut masyarakat Sade telah mempertahankan tradisi selama sekitar 15 generasi. Sementara itu, laporan resmi lainnya menyebut usia Sade mencapai sekitar 600 tahun.
Ada pula sumber yang mencatat versi sejarah berbeda mengenai awal permukiman Sade. Salah satu penelitian menyebut komunitas pertama menetap di kawasan tersebut pada 1079. Perbedaan catatan menunjukkan bahwa sejarah Sade memiliki berbagai versi yang berkembang melalui cerita masyarakat maupun penelitian. Sehingga tidak perlu menjadi perdebatan.
Baca Juga: Menyusuri Jejak Sejarah Klenteng Tay Kak Sie: Simbol Kesadaran Agung di Jantung Pecinan Semarang
Dalam perjalanan panjang tersebut, masyarakat Sade terus mempertahankan identitas sebagai bagian dari Suku Sasak. Mereka menjaga aturan adat sekaligus meneruskannya kepada generasi berikutnya. Kehidupan adat juga memiliki struktur sosial yang sangat kuat. Generasi penerus memiliki tanggung jawab untuk menjaga keberlangsungan aturan, tradisi, serta nilai yang terwariskan dari para leluhur.
Rumah Tradisional Menjadi Bagian Penting Desa Sade
Keunikan sejarah Desa Sade paling mudah terlihat dari rumah tradisionalnya. Sebelum kebakaran, deretan rumah adat menjadi pemandangan khas yang langsung mengingatkan wisatawan pada kehidupan Suku Sasak. Rumah tersebut menggunakan material alami seperti kayu, bambu dan ilalang. Struktur tradisional ini menjadi bukti bagaimana masyarakat mempertahankan teknik bangunan dari generasi ke generasi.
Atap rumah menggunakan ilalang, sedangkan bagian dinding memanfaatkan anyaman bambu. Material tersebut membuat bangunan terlihat sederhana, tetapi tetap memiliki nilai budaya yang kuat. Sayangnya, bahan-bahan mudah terbakar itu juga membuat api cepat menjalar ketika kebakaran terjadi pada 22 Agustus 2026.
Menariknya, rumah adat Sade tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal para pemiliknya. Setiap bagian memiliki kegunaan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Ruang tertentu digunakan untuk beristirahat, memasak, menyimpan berbagai kebutuhan, hingga menunjang aktivitas keluarga.
Tradisi Menenun yang Turun-Temurun
Sejarah Desa Sade juga lekat dengan aktivitas menenun. Tradisi tersebut menjadi salah satu keterampilan yang turun-temurun. Perempuan Sade senantiasa mengembangkan kemampuan menenun sejak usia muda. Salah satu penelitian mencatat proses belajar menenun dapat berlangsung mulai usia 9 atau 10 tahun dan terus berlanjut hingga seseorang menikah.
Kain tenun tidak hanya memiliki nilai ekonomi. Bagi masyarakat setempat, kegiatan tersebut menjadi bagian dari identitas budaya lokal. Motif khas dan proses pembuatannya mencerminkan keterampilan tradisional yang bertahan di tengah perkembangan zaman. Selain tenun, masyarakat Sade juga menghasilkan berbagai kerajinan. Aktivitas kerajinan kemudian berkembang bersama pariwisata dan menjadi sumber penghasilan bagi masyarakat.
Pintu Gerbang Mengenal Lombok dan Suku Sasak
Selama bertahun-tahun, Desa Sade menjadi salah satu destinasi budaya penting di Lombok. Wisatawan datang untuk melihat rumah adat sekaligus mengenal kehidupan masyarakat Suku Sasak secara langsung. Lokasinya berada di jalur menuju kawasan wisata Kuta Mandalika. Kondisi tersebut membuat Sade cukup mudah dikunjungi wisatawan yang menjelajahi Lombok Tengah.
Sebelum kebakaran, wisatawan dapat menyusuri jalan sempit di antara rumah adat dan melihat aktivitas masyarakat dari dekat. Pengunjung juga dapat berinteraksi dengan pemandu lokal, melihat kerajinan, serta membeli kain tenun dan produk buatan masyarakat. Pengalaman tersebut membuat Desa Sade berfungsi sebagai pintu gerbang untuk memahami sejarah dan kebudayaan Lombok.
Baca Juga: Sejarah Benteng Otanaha Gorontalo, Hasil Kerja Sama Bangsa Portugis dan Raja Ilato
Sejarah Desa Sade menunjukkan panjangnya perjalanan masyarakat Suku Sasak dalam mempertahankan identitas dan tradisi leluhur. Desa Adat Sade telah menjadi bagian penting dari sejarah kebudayaan Lombok selama ratusan tahun. Pemulihan kawasan terus pemerintah gencarkan guna membangun sekaligus menjaga kembali keberlanjutan identitas budaya Suku Sasak. (R10/HR-Online)

4 hours ago
2

















































