harapanrakyat.com,- Dalam ajaran Islam, umat Muslim harus sangat mewaspadai ancaman perilaku sum’ah dalam kehidupan sehari-hari. Sifat tercela ini sering kali membuat amal ibadah kehilangan nilai keberkahannya di sisi Allah SWT. Oleh karena itu, kita semua perlu mengenali pengertian serta bahayanya secara mendalam.
Selanjutnya, mari kita pahami terlebih dahulu definisi dari sum’ah secara bahasa maupun istilah. Secara etimologi, kata sum’ah berasal dari bahasa Arab yang memiliki makna mendengar.
Baca juga: Adab Menagih Hutang Agar Silaturahmi Tetap Terjaga, Begini Penjelasan Lengkapnya
Sifat tercela ini berarti tindakan menceritakan amal kebaikan kepada orang lain demi sebuah sanjungan. Para pelakunya selalu lebih tertarik pada pengakuan fana dari sesama manusia.
Perbedaan Sum’ah dengan Riya
Sementara itu, banyak orang sering menyamakan sifat ini dengan perbuatan riya dalam kehidupan. Pada dasarnya, riya adalah amalan ibadah yang sengaja dilakukan agar dilihat oleh khalayak ramai.
Berbeda dengan itu, sum’ah lebih menitikberatkan pada perbuatan lisan yang memperdengarkan amal ibadah. Hal ini tetap merusak keikhlasan ibadah meski orang lain tidak melihat perbuatannya secara langsung.
Kemudian, ulama membagi sum’ah menjadi dua jenis utama yang harus kita hindari. Jenis pertama adalah perbuatan menceritakan amal kebaikan yang memang benar-benar telah dikerjakan.
Baca juga: Taubat yang Tidak Diterima Allah dan Penjelasan Lengkap Berdasarkan Dalil
Jenis kedua merupakan kebohongan ketika seseorang mengaku beramal padahal sebenarnya ia tidak melakukannya. Kebohongan ini jelas jauh lebih dilarang karena menggabungkan dua perbuatan tercela sekaligus.
Sebagai contoh, seseorang rajin membaca Al Quran di rumah saat tidak ada siapapun. Namun, ia lalu menceritakan rutinitas ibadahnya tersebut secara lisan agar dipuji oleh kawan-kawannya.
Lebih lanjut, perbuatan pamer ini juga tergolong ke dalam bentuk kesyirikan yang samar. Nabi Muhammad SAW mengategorikan penyakit hati ini sebagai syirik kecil yang cukup menakutkan.
Selain itu, syirik kecil ini bisa berubah menjadi syirik besar dalam beberapa kondisi. Hal tersebut otomatis terjadi jika pelakunya selalu beribadah hanya demi meraih keuntungan dunia.
Kondisi memprihatinkan ini juga berlaku apabila seseorang selalu beramal di atas landasan sum’ah. Oleh karena itu, umat beragama wajib menjaga kemurnian niatnya dalam berbagai macam kesempatan.
Ancaman Serius bagi Pelaku Sum’ah
Lebih lanjut, dampak buruk dari perbuatan ini sungguh sangat merugikan bagi para pelakunya. Ancaman paling utama adalah batalnya seluruh pahala ibadah yang telah bersusah payah dikerjakan.
Allah SWT sama sekali tidak menerima amalan yang dicampuri oleh niat mencari pujian. Alhasil, pelaku hanya akan mendapatkan kelelahan fisik tanpa ganjaran pahala sedikit pun.
Di samping itu, kebiasaan buruk pamer ini dapat menumbuhkan sifat sombong di dalam hati. Orang tersebut perlahan akan merasa jauh lebih baik daripada individu lain di sekitarnya.
Padahal, kesombongan sangat dibenci oleh agama karena mampu merusak tatanan sosial masyarakat luas. Penilaian beragama di masyarakat juga akan bergeser pada hal-hal yang bersifat pamer semata.
Baca juga: Memahami Makna Larangan Tabarruj dalam Islam Bagi Muslimah Modern
Pada dasarnya, Allah juga berjanji akan mempertontonkan aib para pencari popularitas ini kelak. Jika seseorang mempertontonkan amalnya, Allah akan membongkar niat buruknya kepada khalayak ramai.
Akibatnya, keberkahan hidup mereka perlahan menurun drastis dan menghilang seiring berjalannya waktu. Amal ibadah yang seharusnya menenangkan batin justru membawa kegelisahan akibat terus mencari validasi.
Bahkan, menjaga hati dari cengkeraman perilaku sum’ah memang selalu membutuhkan perjuangan yang konsisten. Anda bisa mulai melatih keikhlasan diri dengan cara memperbanyak ibadah secara sembunyi-sembunyi setiap hari. (Muhafid/R6/HR-Online)

3 hours ago
9

















































