Fakta Menarik Sejarah Candi Bahal Sebagai Warisan Kerajaan Sriwijaya

4 hours ago 7

harapanrakyat.com,- Banyak ilmuwan sangat tertarik meneliti sejarah Candi Bahal yang merupakan peninggalan kebanggaan kawasan Sumatera Utara. Kemudian, situs kuno bercorak Buddha Vajrayana ini diperkirakan telah berdiri kokoh sejak abad kesebelas masehi. Bangunan suci ini diyakini sangat berkaitan erat dengan pesatnya pertumbuhan pelabuhan Kerajaan Pannai masa lampau.

Baca juga: Fakta Menarik di Balik Surat Raja Sriwijaya ke Khalifah Umar bin Abdul Aziz

Selanjutnya, nama tempat ibadah purbakala ini diambil langsung dari lokasi asli berdirinya situs tersebut. Kompleks bersejarah tersebut terletak di Desa Bahal, Kecamatan Padang Bolak, Kabupaten Padang Lawas Utara. Masyarakat sekitar juga sering menyebut warisan budaya yang sangat berharga ini dengan julukan Biaro Portibi.

Sejarah Runtuhnya Kompleks Bangunan Candi Bahal Kuno

Sementara itu, kawasan peninggalan purbakala ini secara nyata terdiri atas tiga bangunan utama terpisah. Tiga bangunan kuno tersebut meliputi kompleks biaro pertama, kedua, serta ketiga yang berjajar lurus. Ketiga arsitektur bata merah ini dibangun memanjang sejajar di dekat tepian aliran Sungai Batang Pane.

Lebih lanjut, lokasi yang berdekatan dengan jalur perairan ini merupakan ciri khas Kerajaan Sriwijaya. Air sungai pada masa itu menjadi urat nadi utama bagi kegiatan jalur niaga masyarakat pedalaman. Penggunaan akses sungai ini membuktikan betapa majunya sistem transportasi pada zaman peradaban Nusantara kuno.

Di samping itu, bangunan biaro pertama merupakan kompleks paling besar dalam area situs bersejarah ini. Bangunan ini menyimpan keindahan hiasan papan berukir tokoh yaksa berkepala hewan yang sedang menari. Relik bersejarah berbentuk singa duduk juga bisa ditemukan pada sekitar area dinding bangunan tersebut.

Baca juga: Jejak Emas Kerajaan Sriwijaya di Sungai Musi, Harta Karun Peninggalan Sejarah yang Jadi Buruan 

Bahkan, para ahli arkeologi pernah menemukan sebuah peninggalan Arca Heruka di kompleks bangunan kedua. Arca demonis beraliran Tantrayana tersebut digambarkan sedang menari dengan buas di atas jenazah manusia. Sayangnya, patung peninggalan sakral yang sangat langka ini sudah pecah sejak kisaran tahun 1975.

Sedangkan untuk kompleks bangunan ketiga, bentuk dindingnya memiliki pahatan bermotif menyerupai sebuah daun. Bangunan ketiga ini memiliki jarak yang sangat dekat dengan akses jalan raya setempat. Pengunjung harus melewati jalan setapak serta batas pematang sawah untuk melihat sisa bangunan ini.

Tantangan Pelestarian dan Pengembangan Destinasi Wisata Purbakala

Meskipun menyimpan nilai budaya sangat tinggi, popularitas kawasan pariwisata situs ini belakangan semakin menurun. Banyak pelancong sekarang lebih memilih berkunjung menuju puluhan destinasi rekreasi alam yang serba baru. Kurangnya sarana fasilitas publik membuat kawasan situs bersejarah ini semakin tertinggal dari para pesaingnya.

Sebaliknya, masyarakat sekitar belum sepenuhnya dilibatkan dalam usaha pengelolaan pariwisata daerah yang sangat berkelanjutan. Warga desa masih cenderung pasif sehingga manfaat ekonomi dari kunjungan wisatawan tidak tersalurkan merata. Penerapan konsep pariwisata berbasis komunitas harus segera dilakukan demi memberdayakan seluruh kelompok penduduk lokal.

Baca juga: Mengungkap Peradaban Megalitikum Pasemah Sumatera Selatan, Lebih Tua dari Sriwijaya?

Oleh karena itu, warga sekitar dapat segera membuka ragam usaha kuliner yang menyajikan makanan tradisional. Pembuatan produk kerajinan tangan lokal juga memiliki peluang besar untuk sekadar menarik minat wisatawan. Langkah proaktif ini pastinya akan membuat ekosistem pariwisata daerah menjadi jauh lebih hidup kembali.

Selain itu, promosi digital melalui media sosial wajib untuk terus ditingkatkan setiap hari secara konsisten. Konten kreatif dengan cerita narasi masa lampau sangat efektif untuk mengundang kedatangan kelompok generasi muda. Identitas visual yang kuat akan senantiasa mengembalikan kejayaan situs bersejarah ini pada peta pariwisata nasional.

Saat ini, pemerintah daerah terus berupaya merancang strategi pelestarian aset budaya secara jauh lebih menyeluruh. Berbagai perbaikan infrastruktur jalan mulai dirancang untuk mempermudah jalur masuk bagi para wisatawan asing. Kehadiran fasilitas modern tentu akan selalu mendukung pelestarian sejarah Candi Bahal bagi kelanjutan generasi mendatang. (Muhafid/R6/HR-Online)

Read Entire Article
Perayaan | Berita Rakyat | | |