Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT), kembali menyapa dunia melalui kemeriahan Festival Fulan Fehan (FFF) IV yang berlangsung pada 25 hingga 27 Juni 2026. Mengusung tema besar “Dance for Friendship”, perhelatan tahunan ini tidak hanya menjadi ajang pelestarian budaya luhur. Tetapi juga memperkuat ikatan persaudaraan di wilayah perbatasan Indonesia dan Timor Leste.
Festival ini terpusat di Lembah Fulan Fehan, sebuah hamparan padang sabana luas yang eksotis di Desa Dirun, Kecamatan Lamaknen. Berada di ketinggian sekitar 800 meter di atas permukaan laut (mdpl) di kaki Gunung Lakaan. Lokasi ini menawarkan udara sejuk dengan pemandangan pohon kaktus. Serta kuda dan sapi yang dilepasliarkan oleh penduduk setempat.
Keunikan alam inilah yang mengantarkan Fulan Fehan meraih predikat sebagai Gurun dan Sabana Terbaik di Indonesia pada ajang Anugerah Pesona Indonesia 2020.
Baca Juga: Eksplorasi Budaya Pesisir: Karangbolong Culture Festival 2026 Siap Digelar di Kebumen
Atraksi Kolosal di Festival Fulan Fehan IV 2026
Puncak festival pada 27 Juni menampilkan Tari Likurai secara kolosal. Tari ini merupakan tradisi khas masyarakat Pulau Timor yang secara historis merupakan tarian perang untuk menyambut pahlawan yang menang di medan laga.
Kini, Likurai bertransformasi menjadi tarian penyambutan tamu kehormatan yang melambangkan semangat kerjasama, gotong royong, dan keramah-tamahan.
Selain Likurai, pengunjung juga menikmati suguhan drama musikal “Antama”. Pertunjukan ini mengangkat cerita adat masyarakat Rai Belu mengenai tradisi berburu dengan pengemasan secara modern namun tetap sarat akan nilai-nilai luhur budaya suku Bunak.
Koreografer nasional seperti Eko Supriyanto telah terlibat dalam mengonsep pertunjukan ini agar memiliki daya saing internasional.
Acara Tradisi dan Fashion Show
Agenda Festival Fulan Fehan IV mulai berlangsung pada 25 Juni dengan kegiatan Ukun Naran Bunaq di Desa Duarato. Kegiatan ini memperkenalkan kekayaan tradisi lokal masyarakat suku Bunak.
Baca Juga: Kirab Malam 1 Suro Solo: Tradisi Sakral, Ikon Kebo Bule, dan Aturan Tapa Bisu
Kemudian hari kedua, 26 Juni, dimeriahkan oleh Parade Tenun dan Fashion Show yang melibatkan ratusan peserta dari berbagai kalangan. Termasuk desainer dari Timor Leste, Darwin (Australia), dan berbagai daerah di NTT.
Kegiatan ini bertujuan mempromosikan produk ekonomi kreatif unggulan berupa tenun ikat khas Belu ke kancah global.
Mendorong Pariwisata Lintas Batas (Cross Border Tourism)
Bupati Belu, Willybrodus Lay, menegaskan bahwa Festival Fulan Fehan adalah instrumen strategis untuk memajukan Border Tourism.
Dengan akses yang hanya berjarak sekitar satu jam dari Kota Atambua, festival ini terbukti menjadi magnet bagi wisatawan mancanegara. Khususnya dari negara tetangga Timor Leste yang memiliki kesamaan akar budaya.
Pemerintah Kabupaten Belu berkomitmen untuk terus meningkatkan aksesibilitas dan infrastruktur jalan menuju lokasi guna kenyamanan wisatawan.
Melalui Festival Fulan Fehan IV, Belu memposisikan diri sebagai beranda terdepan Indonesia yang kaya akan warisan budaya luhur dan keindahan alam yang tak tertandingi. (R3/HR-Online/Editor: Eva)

4 hours ago
4

















































