harapanrakyat.com,- Sinar matahari pagi mulai menghampiri sekelompok petani yang mengayunkan sabit, memotong satu per satu rumpun padi yang mulai menguning di kawasan Gedebage, Kota Bandung, Jawa Barat.
Debu yang membumbung tipis dari tanah persawahan yang retak-retak turut menemani para petani yang mulai berkeringat.
Suara angin kencang dan raungan sepada motor silih berganti turut menjadi latar suara perjuangan para petani di tengah krisis air.
Hasil panen tahun ini jauh dari kata memuaskan. Hal itu akibat musim kemarau panjang yang memukul sektor pertanian perkotaan.
Salah seorang petani setempat, Maman hanya bisa menyapu keringat di dahi sembari menatap tumpukan gabah yang tak seberapa.
Pada musim panen perdana tahun ini, ia terpaksa menelan kenyataan pahit lantaran volume produksi padinya merosot tajam akibat minimnya pasokan irigasi.
Guna menyelamatkan sisa tanaman agar tidak mati mengering sebelum masa panen tiba, Maman harus merogoh kocek lebih dalam. Biaya tambahan itu untuk menyewa dan membeli bahan bakar mesin pompa.
Baca Juga: HTWF 2026, Kota Bandung Pacu Potensi Destinasi Wisata Medis
Langkah darurat menyedot air dari sumber terdekat ini tetap tidak mampu memenuhi kebutuhan air seluruh petak sawahnya.
Proses pemanenan di bawah sengatan panas matahari terasa semakin berat lantaran pendapatan yang berpotensi mereka kantongi justru tergerus drastis.
“Ini baru panen pertama. Kalau musim kemarau sekarang hasil panen berkurang hampir 20 persen. Biasanya kalau kondisi normal, lahan seluas 100 tumbak bisa menghasilkan satu ton gabah, tapi sekarang paling cuma dapat sekitar tujuh kuintal,” tutur Maman di sela aktivitas panennya di Gedebage, Jumat (28/8/2026).
Penggunaan Pompa Air Membuat Biaya Operasional Petani Gedebage Meningkat
Perjuangan pria berusia 54 tahun bersama petani lainnya semakin terasa berat. Penggunaan mesin pompa air secara terus-menerus memicu pembengkakan biaya operasional untuk pembelian bahan bakar minyak.
Di sisi lain, penurunan kualitas dan kuantitas bulir padi membuat nilai jual hasil panen tidak sebanding dengan modal yang telah keluar sejak awal masa tanam.
Kondisi dilematis ini membuat pendapatan para petani di kawasan pinggiran Kota Bandung menyusut hingga separuh dari potensi biasanya.
Maman dan rekan-rekan seprofesinya kini hanya bisa berharap adanya solusi pasokan air berkelanjutan maupun intervensi bantuan dari pemerintah daerah agar ancaman gagal panen tidak berulang pada musim tanam berikutnya.
Baca Juga: BPKAD Jawa Barat Kebut Proses Lelang Pembongkaran Teras Cihampelas
“Pengairannya terpaksa pakai mesin pompa karena sekarang lagi sangat sulit air. Sejak awal musim kemarau kami sudah kesulitan air. Tentu kami rugi, kerugiannya ada kalau setengahnya mah,” kata Maman pasrah meratapi hasil panennya. (Reza/R7/HR-Online/Editor-Ndu)

5 hours ago
8

















































