Langkah BI Perkuat Rupiah Undervalued di Tengah Tekanan Global

9 hours ago 12

Langkah BI perkuat rupiah undervalued kian jadi perhatian di tengah dinamika ekonomi global yang belum sepenuhnya stabil. Nilai tukar yang dalam beberapa waktu terakhir dinilai undervalued membuat BI sigap mengambil langkah untuk perkuat rupiah. Apalagi tekanan dari penguatan dolar serta tingginya suku bunga global turut memengaruhi pergerakan rupiah di pasar keuangan domestik.

Baca Juga: Tabungan Valas Tanpa Biaya Admin dan Daftar Bank Penyedia di Indonesia

Sejumlah Langkah BI Perkuat Rupiah Undervalued

Seperti masyarakat ketahui, rupiah terus menghadapi tekanan akibat penguatan dolar AS serta meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan internasional. Bahkan, kondisi tersebut membuat rupiah bergerak fluktuatif. Sehingga memicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap stabilitas mata uang nasional.

Meski begitu, pemerintah bersama Bank Indonesia menilai fundamental ekonomi RI masih berada dalam kondisi yang cukup kuat. Pertumbuhan ekonomi stabil, inflasi terkendali, serta cadangan devisa memadai jadi modal utama menjaga ketahanan rupiah di tengah tekanan eksternal. Bank Indonesia pun menegaskan bahwa pelemahan rupiah yang terjadi saat ini merupakan faktor jangka pendek dan sentimen global.

Artinya, hal tersebut bukan semata-mata akibat kondisi domestik atau faktor internal dalam negeri. Karena itu, sejumlah langkah terus pemerintah dan BI siapkan untuk perkuat nilai tukar rupiah undervalued. Tujuannya supaya rupiah kembali bergerak stabil bahkan berpotensi menguat dalam beberapa waktu ke depan.

“Tadi Pak Menko menyampaikan, berkaitan fundamental kita itu kuat. Pertumbuhan sangat tinggi, 5,61 persen, inflasi rendah, kredit juga tumbuh, cadangan devisa pun kuat. Nah, ini adalah fundamental yang menunjukkan mestinya rupiah stabil dan cenderung menguat,” ucap Perry, Gubernur BI, pada Selasa (5/5/2026).

Pernyataan tersebut Perry sampaikan setelah menghadiri rapat terbatas bersama Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta. Meski fundamental ekonomi solid, Perry juga mengakui adanya tekanan jangka pendek terhadap nilai tukar. Tekanan tersebut berasal dari kondisi global seperti tingginya harga minyak dunia hingga kenaikan suku bunga Amerika Serikat.

Pengaruh Kebutuhan Musiman

Selain faktor eksternal, kebutuhan musiman terhadap valuta asing juga ikut memengaruhi pergerakan rupiah. Permintaan dolar meningkat seiring kebutuhan pembayaran utang luar negeri. Tak hanya itu, repatriasi dividen perusahaan hingga kebutuhan jemaah haji turut menghadirkan pengaruh tersendiri.

“Faktor globalnya apa yang menyebabkan tekanan nilai tukar dalam jangka pendek ini? Adalah satu, harga minyak yang tinggi.”

“Kemudian, suku bunga Amerika yang juga meningkat tinggi. Yield US Treasury 10 tahun sekarang adalah 4,47 persen. Demikian juga dolar yang menguat,” lanjut Perry.

Baca Juga: Memahami Net Foreign Buy Saham dan Pengaruhnya di Pasar Modal

Tujuh Strategi Paling Penting untuk Menjaga Stabilitas Rupiah

Untuk menghadapi tekanan tersebut, BI telah melaporkan tujuh langkah strategis kepada Presiden Prabowo guna perkuat rupiah undervalued. Strategi pertama melalui penguatan intervensi di pasar valuta asing, baik domestik maupun offshore. Langkah ini bertujuan menjaga keseimbangan pasar serta menahan gejolak nilai tukar agar tidak bergerak terlalu tajam.

Opsi kedua dan ketiga fokus pada penguatan arus modal masuk dan sinergi antara kebijakan fiskal maupun moneter. Bank Indonesia terus mendorong investor masuk melalui instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Fungsinya yakni menutup arus keluar dana dari pasar saham atau Surat Berharga Negara (SBN).

Selain itu, BI juga aktif membeli SBN di pasar sekunder untuk menjaga stabilitas pasar obligasi nasional. Strategi keempat dan kelima adalah dengan menjaga likuiditas perbankan tetap longgar. Ini sekaligus membatasi pembelian dolar AS di pasar domestik. Kebijakan pembatasan pembelian dolar berlaku dengan menurunkan batas transaksi valuta asing per individu setiap bulan.

“Jadi dulunya 100 ribu dolar per orang per bulan, kita turunkan 50 ribu dolar per orang per bulan. Itu yang kami langsung koordinasi dengan KSSK untuk penguatan,” pungkas Perry.

Sementara itu, strategi keenam dan ketujuh mengarah pada penguatan intervensi di pasar offshore. Sekaligus peningkatan pengawasan terhadap aktivitas perbankan dan korporasi yang memiliki transaksi dolar tinggi. Pengawasan berlangsung bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) guna memastikan stabilitas sistem keuangan tetap aman.

Baca Juga: Fakta IPO WBSA, Target Dana Sampai Rp306 Miliar

Berbagai langkah yang BI tempuh dalam perkuat rupiah undervalued menunjukkan keseriusan pemerintah membangun sektor keuangan nasional. Langkah BI perkuat rupiah undervalued juga menjadi sinyal bahwa koordinasi antara pemerintah, Bank Indonesia dan OJK kian intensif.  Dengan langkah terukur dan respons cepat, Indonesia diharapkan mampu menghadapi tantangan ekonomi internasional secara lebih baik. (R10/HR-Online)

Read Entire Article
Perayaan | Berita Rakyat | | |