harapanrakyat.com,- Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Luhut Binsar Pandjaitan, memberikan peringatan serius mengenai potensi tekanan besar terhadap APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) Indonesia. Hal ini dipicu oleh eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah yang berisiko melonjakkan harga minyak dunia.
Ia mengungkapkan bahwa pemerintah saat ini terus memantau situasi di kawasan tersebut. Khususnya gangguan di Selat Hormuz yang merupakan jalur vital perdagangan energi dunia. Ketidakpastian global ini membuat pergerakan harga minyak menjadi sulit diprediksi secara akurat.
Baca Juga: Update Stok BBM Nasional Mei 2026: BPH Migas Pastikan Pasokan Aman, Pertamax Turbo Tahan 61 Hari
Simulasi Kenaikan Harga Minyak Dunia dan Dampaknya
Menurut penjelasan Luhut, terdapat selisih yang signifikan antara asumsi makro dalam APBN dengan realitas pasar saat ini. Asumsi APBN US$ 70 per barel, potensi harga minyak US$ 90 per barel. Serta dampak defisit akibat lonjakan tambahan sekitar Rp 150 triliun hingga Rp 200 triliun.
“Ada selisih US$ 20. Itu berarti bisa tambahan defisit sekitar 150 triliun sampai 200 triliun rupiah hanya dari kenaikan harga minyak dunia,” ujar Luhut dalam keterangannya di Jakarta, Senin (25/5/2026).
Pemerintah memprediksi transmisi kenaikan harga energi global terhadap ekonomi domestik akan mulai terasa signifikan pada Juli mendatang. Masyarakat dan pelaku ekonomi diminta mewaspadai efek pass through terhadap tingkat inflasi, dan aktivitas ekonomi nasional secara keseluruhan.
Baca Juga: Pertamina Hulu Rokan Tegas Soal HSSE, Begini Kata Mitra Kerja
Selain konflik di Timur Tengah, lanjut Luhut, ketegangan antara Rusia-Ukraina juga masih menjadi faktor penekan pertumbuhan ekonomi global dan stabilitas di kawasan ASEAN.
Negara-negara ASEAN, termasuk Indonesia, memiliki ketergantungan tinggi pada bahan baku asal Timur Tengah. Seperti sulfur dan nafta untuk mendukung industri hilirisasi. Jika pasokan terganggu, aktivitas ekspor nasional pun terancam melambat.
Fundamental Ekonomi Indonesia Tetap Kuat
Meskipun dibayangi risiko defisit, Luhut menegaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih berada dalam posisi yang relatif kokoh.
Baca Juga: Lagi, Luhut Akan Ajukan Audit Semua LSM, Kali Ini Soal Pendanaan
Ia juga menjelaskan, beberapa indikator positif pada kuartal I-2026 meliputi pertumbuhan ekonomi Mencapai 5,61 persen, inflasi domestik terjaga di angka 2,4 persen. Pemerintah berkomitmen menjaga defisit tetap di bawah 3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
“Presiden berkomitmen bahwa defisit fiskal tak akan melewati 3 persen. Menurut saya, itu baik untuk menjaga kredibilitas dan kepercayaan investor terhadap Indonesia,” pungkas Luhut. (R3/HR-Online/Editor: Eva)

3 hours ago
5

















































