Merdeka Sudah 81 Tahun! Lansia Penjual Gorengan Keliling di Garut Tak Tersentuh PKH hingga BLT dari Pemerintah

1 hour ago 4

harapanrakyat.com,- Usia merdeka tanah air dari penjajah tidak terasa sudah 81 tahun. Namun dibalik momen Hari Ulang Tahun Republik Indonesia (HUT RI), masih banyak lanjut usia (lansia) yang belum pernah mencicipi bantuan langsung pemerintah. Di Garut, Jawa Barat, seorang lansia masih harus berjuang mencari nafkah sebagai penjual gorengan keliling, karena belum mendapat bantuan selama adanya program PKH hingga BLT.

Baca Juga: Ditinggal Berkebun, Rumah Seorang Kakek di Banjarwangi Garut Hangus Dilalap Si Jago Merah

Mak Imin (82), seorang nenek tua asal Kampung Astana Hilir, Kelurahan Jayawaras, Kecamatan Tarogong Kidul, Garut, masih harus berjibaku mendapatkan rupiah agar dapur di rumah bisa tetap ngebul. Dirinya menolak menjadi peminta-minta, karena menganggap kaki dan tangannya masih mampu mencari uang dengan cara berjualan keliling.

Video keseharian Mak Imin ini kemudian viral, setelah salah satu warga yang jadi konsumen mengunggahnya di media sosial. Mak Imin profesinya yaitu sebagai penjual gorengan cimplung (cemilan khas sunda mirip perkedel).

Video Viral Lansia Penjual Gorengan Keliling Dapat Atensi dari Anggota DPRD Garut

Pasca viral, tepat di Hari Kemerdekaan RI ke-81, Yudha Puja Turnawan, salah satu anggota DPRD Garut dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), mencoba melihat langsung ke kediaman mak Imin.

Kebetulan Mak Imin sedang tidak berjualan, karena kondisinya dalam keadaan sakit. Bagian kaki nenek tua itu bengkak, sehingga sulit berjalan.

Yudha mengaku, setelah melihat langsung ke rumahnya, ternyata ia dan anaknya berada di kategori masyarakat miskin. Rumahnya tidak laik huni, dipastikan membutuhkan uluran tangan dari semua pihak. 

“Pertama saya lihat di medsos, dari tiktok yang update lansia berjualan gorengan keliling di usia senjanya. Kemudian saya memutuskan untuk mengunjunginya. Rumahnya memang tidak laik huni. Dan mak Imin sedang tidak berjualan karena kakinya bengkak sudah 1 minggu,” kata Yudha, Senin (17/8/2026).

Baca Juga: Warga Kota Banjar Kaget Data Desil Bansos Berubah, Lansia Tanpa Rumah Tercatat Masuk Kategori Sejahtera

Mak Imin bukan hanya sebagai penjual keliling saja. Dirinya juga kerap memulung sampah botol bekas agar bisa menambah pundi-pundi rupiah. Ditanya apakah pernah mendapatkan bantuan? ternyata lansia berusia 82 tahun penjual gorengan keliling ini tidak pernah tersentuh beragam program bantuan. 

“Saya bertanya ke beliau, memang berjualan sambil memungut sampah plastik untuk dijual ke pengepul. Tidak mendapatkan bantuan setelah dicek lewat kartu keluarga, dan kependudukan, lalu berkoordinasi dengan pendamping sosial. Tidak mendapatkan bantuan reguler seperti PKH, sembako atau BPNT, dan BLT Kesra,” tambahnya.

Tak Pernah Menerima PKH, Sembako, BPNT hingga BLT Kesra

Meski tidak menerima bantuan sosial reguler, Mak Imin telah mendapatkan jaminan kesehatan. Yudha menjelaskan, persoalan bantuan sosial berkaitan dengan pencatatan tingkat kesejahteraan keluarga atau desil.

Lansia penjual gorengan keliling ini tercatat berada pada desil 5, sehingga belum masuk kategori penerima bantuan sosial reguler yang dimaksud. Karena itu, Yudha meminta pihak kelurahan mengusulkan pembaruan data agar kondisi riil keluarga Mak Imin dapat kembali diverifikasi.

“Jaminan kesehatan dapat, tapi untuk komponen bansos reguler dia tidak dapat. Tentu ini meminta operator kelurahan untuk diusulkan pembaharuan desil. Karena Mak Imin ini ternyata 5, sehingga beliau tidak dapat bantuan,” jelasnya.

Yudha tentu bukan hanya sekedar menengok saja, ia memberikan bantuan langsung berupa sembako serta uang tunai. Anggota dewan ini juga memastikan, agar lansia penjual gorengan keliling ini dapat masuk kedalam kategori warga yang laik mendapatkan program bantuan pemerintah. Sehingga, ia perlu memperjuangkan ke dinas terkait, agar Mak Imin segera tercover macam-macam program bantuan.

Ia berharap Badan Pusat Statistik (BPS) tidak terlalu kaku dalam proses pembaruan data. Selain itu juga memberikan ruang untuk memperbaiki data yang tidak sesuai dengan kondisi lapangan.

“Ketika zaman DTKS kan sebulan sekali bisa berubah. Entah kenapa ketika data terpadu kesejahteraan sosial Mak Imin tidak bisa diperbaiki DTKS-nya. Kalau sekarang kan hanya data tunggal saja, pengampunya desil di BPS,” ujarnya.

Yudha menambahkan, berdasarkan pengakuan BPS, terdapat sekitar 34 persen data dalam Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSN) yang dinilai belum akurat sehingga membutuhkan perbaikan.

Penghasilan Cuma Rp20 Ribu Sehari

Keterbatasan ekonomi Mak Imin terlihat dari penghasilannya yang sangat kecil. Dalam sehari, lansia ini dalam aktivitas berjualan gorengan keliling hanya mampu menghasilkan uang sekitar Rp20 ribu.

Pendapatan tersebut harus digunakan untuk memenuhi berbagai kebutuhan rumah tangga, mulai dari membeli beras, lauk-pauk, minyak goreng hingga kebutuhan sehari-hari lainnya. Sementara hasil dari mengumpulkan botol plastik bekas baru dapat diuangkan sekitar satu kali dalam sepekan.

“Ya di Indonesia atau di Kabupaten Garut, lansia masih harus berjuang mencari rupiah untuk bertahan hidup dengan pendapatan yang memprihatinkan. Saya tanya ke Mak Imin pendapatannya hanya Rp 20 ribu per hari, itu maksimal,” kata Yudha.

Circle ekonomi keluarga mak Imin ternyata dirasakan oleh anak-anaknya. Tidak ada yang bisa membantu orang tuanya, karena anak dari lansia penjual gorengan keliling ini profesinya sebagai pencari sampah botol bekas. Bedanya, anak Mak Imin idak berjualan keliling, hanya fokus terhadap pemanfaatan botol bekas saja.

“Informasinya anaknya yang satu sedang sakit, dan anaknya yang lain sebagai pencari sampah botol bekas saja. Jadi bedanya kalau Mak Imin sambil jualan, anah-anaknya fokus di satu pekerjaan itu saja,” pungkasnya.

Baca Juga: Data Desil Berubah, Warga di Kota Banjar Kaget Tak Dapat Bantuan

Hingga berita ini ditulis, harapanrakyat.com belum dapat mengonfirmasi kepada pemerintah kelurahan setempat maupun instansi terkait, mengenai status penerimaan bansos Mak Imin. (Pikpik/R5/HR-Online/Editor: Adi Karyanto)  

Read Entire Article
Perayaan | Berita Rakyat | | |