harapanrakyat.com,- Perayaan hajat laut di Kabupaten Pangandaran tahun ini menghadirkan warna baru, yang belum pernah dilakukan pada penyelenggaraan sebelumnya. Jika biasanya tradisi tahunan masyarakat nelayan ini identik dengan prosesi syukuran laut dan penghormatan kepada para leluhur, kali ini generasi muda dilibatkan secara aktif melalui berbagai kegiatan seni dan literasi budaya.
Baca Juga: Tiga Makna Penting di Balik Tradisi Hajat Laut Pangandaran
Rangkaian kegiatan berlangsung menjelang peringatan 1 Muharam 1448 Hijriah, yang akan mencapai puncaknya pada Selasa, 16 Juni 2026. Pelajar dari tingkat SD, SMP, hingga SMA terlibat dalam berbagai perlombaan yang tersebar di sejumlah titik kawasan pesisir Pangandaran. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya menanamkan kecintaan terhadap budaya lokal, sekaligus memperkuat nilai-nilai keagamaan.
Perayaan hajat laut yang mengusung tema “Budaya Terawat, Aqidah Terjaga”, para peserta menampilkan kreativitas mereka melalui lomba melukis, menulis cerita, hingga sejumlah cabang seni lainnya. Suasana perlombaan pun terasa unik karena berlangsung di area pesisir, memanfaatkan tempat pelelangan ikan dan ruang-ruang terbuka yang teduh di bawah pepohonan.
Selain menjadi ajang kompetisi, kegiatan ini sebagai media edukasi agar pelajar memahami makna Hajat Laut yang sesungguhnya. Tradisi tersebut tidak hanya dimaknai sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil laut yang melimpah. Tetapi juga, sebagai warisan budaya yang harus dijaga dan diteruskan oleh generasi berikutnya.
Baca Juga: Tak Ada Jumat Kliwon di Bulan Muharram, Hajat Laut Masyarakat Basisir Pangandaran 2026 Ditiadakan
Alasan Perayaan Hajat Laut Pangandaran Libatkan Pelajar
Tokoh masyarakat Pangandaran, Susi Pudjiastuti, menilai keterlibatan pelajar menjadi langkah penting untuk menumbuhkan rasa bangga terhadap daerah sendiri. Menurutnya, kecintaan terhadap kampung halaman harus ditanamkan sejak usia dini, agar generasi muda memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan budaya tempat mereka tumbuh.
Ia menegaskan, bahwa Pangandaran memiliki kekayaan alam dan budaya yang patut dibanggakan. Karena itu, momentum perayaan hajat laut dimanfaatkan untuk membangun kreativitas, sekaligus memperkuat ikatan emosional anak-anak dengan daerahnya.
“Anak-anak harus bangga memiliki Pangandaran. Mereka perlu memahami nilai yang terkandung dalam tradisi ini, sehingga tumbuh rasa memiliki dan keinginan untuk menjaga daerahnya,” kata Susi, Senin (15/6/2026).
Susi juga berharap, generasi muda dapat menjadi garda terdepan dalam menjaga kebersihan dan keindahan kawasan wisata Pangandaran. Menurutnya, keberlanjutan pariwisata tidak hanya bergantung pada pembangunan fisik, tetapi juga pada kesadaran masyarakat dalam merawat lingkungan.
Transformasi Tradisi Menjadi Ruang Edukasi
Sementara itu, Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Pangandaran, Jeje Wiradinata mengatakan, sedikitnya 16 cabang lomba diselenggarakan dalam rangkaian perayaan hajat laut tahun ini. Seluruh kegiatan dirancang untuk mengasah kreativitas, sekaligus membangun karakter generasi muda.
Menurut Jeje, lomba melukis dan mengarang cerita menjadi sarana efektif untuk menumbuhkan kecintaan terhadap alam dan budaya Pangandaran. Melalui karya-karya yang dibuat, para pelajar diajak mengenali keindahan daerahnya serta memahami pentingnya menjaga warisan budaya yang telah diwariskan para leluhur.
“Kami ingin anak-anak tidak hanya mengenal Pangandaran sebagai tempat tinggal, tetapi juga memahami nilai budaya, sejarah, dan kekayaan alam. Dari sana akan tumbuh rasa cinta, tanggung jawab, dan kepemimpinan untuk menjaga daerah ini di masa depan,” katanya.
Baca Juga: Budaya dan Religi Bersatu di Hajat Laut 2026, Pangandaran Siapkan Pesta Rakyat Spektakuler
Dalam perayaan hajat laut tahun ini, panitia menyediakan total hadiah senilai Rp122 juta bagi para pemenang dari berbagai jenjang pendidikan. “Hajat Laut tahun ini diharapkan tidak hanya menjadi tradisi tahunan masyarakat pesisir, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran budaya bagi generasi penerus. Sehingga, nilai-nilai luhur yang diwariskan leluhur tetap hidup dan berkembang di tengah perubahan zaman,” harapnya. (Kiki/R5/HR-Online/Editor: Adi Karyanto)

9 hours ago
5

















































