harapanrakyat.com,- Penumpukan sampah yang tidak terpilah di Tempat Pembuangan Sementara (TPS) Jalan SL Tobing, Kota Tasikmalaya, kian mengkhawatirkan. Selain itu, fenomena tercampurnya sampah organik dan anorganik di lokasi tersebut kini disorot bukan sekadar masalah estetika kota. Ini juga menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat, terutama kelompok anak-anak.
Pantauan di lapangan, sampah organik tampak bercampur dengan sampah anorganik. Selain itu, kondisi itu memicu bau menyengat yang menusuk hidung dan mengganggu aktivitas warga sekitar serta pengguna jalan.
Ancaman Kesehatan Nyata di Depan Mata
Kondisi carut-marut pengelolaan sampah ini memantik respons keras dari kalangan aktivis mahasiswa. Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) STIKes Respati Tasikmalaya Elsa (22) menegaskan bahwa pencampuran jenis sampah ini menciptakan media sirkulasi penyakit yang sempurna.
”Sampah organik yang membusuk dan bercampur dengan anorganik menjadi media berkembang biaknya lalat, bakteri, dan mikroorganisme berbahaya secara masif. Ketika proses pembusukan berakselerasi akibat tidak adanya pemilahan. Gas yang dihasilkan tidak hanya memicu bau, tetapi juga risiko fatal bagi tubuh,” ujarnya kepada HR Online, Jumat (29/5/26).
Baca juga: Pesantren di Tasikmalaya Konsisten 20 Tahun Tanpa Plastik Saat Kurban Idul Adha
Lebih lanjut, Elsa yang juga mahasiswa jurusan Kesehatan Masyarakat merinci bagaimana rantai penularan penyakit ini bekerja di lingkungan sekitar TPS. ”Lalat yang hinggap di tumpukan sampah tersebut membawa kuman, bakteri, virus, hingga parasit di kaki dan tubuhnya. Lalu memindahkannya ke makanan atau permukaan lain. Ini meningkatkan risiko lonjakan kasus diare, kolera, tifus, disentri, penyakit kulit, hingga keracunan makanan,” paparnya.
Ia juga mengingatkan ancaman tidak kasat mata dari gas pembusukan. Apalagi hal tersebut dapat menyebabkan mual, pusing, hingga gangguan pernapasan kronis jika terhirup terus-menerus.
”Lingkungan kotor mengundang vektor lain seperti kecoak dan tikus yang membawa ancaman penyakit mematikan seperti Leptospirosis. Anak-anak menjadi kelompok yang paling rentan di sini, karena sistem imun mereka belum sekuat orang dewasa, ditambah kebiasaan beraktivitas di luar rumah yang sering abai terhadap higienitas tangan,” tambahnya.
Pemerintah Dorong Pemilahan dari Sumber
Merespons kondisi tersebut, Pemkot Tasikmalaya melalui Kepala Bidang Pengelolaan Sampah Dinas Lingkungan Hidup, Feri Arif Maulana, menyatakan bahwa kunci utama mengurai benang kusut ini berada pada hulu pengelolaan. Artinya, itu di tingkat rumah tangga.
Pihak Pemkot mengaku terus mengupayakan langkah preventif agar volume sampah yang masuk ke TPS seperti di Jalan SL Tobing tidak lagi dalam kondisi bercampur.
Baca juga: Empat Daerah di Bandung Raya Belum Ada yang Optimal Tangani Sampah
”Kami terus melaksanakan upaya sosialisasi dan edukasi secara masif kepada masyarakat terkait program pengurangan sampah langsung dari sumbernya. Jalan keluarnya adalah masyarakat harus mulai memanfaatkan sampah organik dan anorganik dengan cara memilahnya sejak dari rumah atau sumbernya,” kata Feri.
Menurut Feri, jika pemilahan dari sumber berjalan optimal, beban TPS akan berkurang drastis. Selain itu, potensi pembusukan liar yang memicu berbagai vektor penyakit di fasilitas publik dapat ditekan seminimal mungkin. Kendati demikian, tantangan terbesar saat ini adalah mengubah perilaku masyarakat agar disiplin melakukan pemilahan dan peduli terhadap lingkungan hidup. (Rafi/R6/HR-Online)

4 hours ago
3

















































