harapanrakyat.com,- Catatan masa lampau merekam jelas jejak awal mula penyebaran agama Islam di tanah Jawa. Peristiwa penting ini menjadi bagian dari sejarah Indonesia yang panjang serta amat kompleks.
Baca juga: Candi Gedong dalam Buku History of Java, Terkubur di Bawah Pohon Beringin Blitar
Pada mulanya, transisi kepercayaan masyarakat ini tidak terjadi secara kilat maupun peperangan. Sebaliknya, proses panjang ini memakan waktu hingga berabad-abad sejak era kerajaan lampau.
Awal Mula Masuknya Islam dan Periode Transisi Kepercayaan
Sir Thomas Stamford Raffles mencatat indikasi paling awal masuknya penyebaran agama Islam di Jawa ini tahun 1250. Pada masa itu, terdapat upaya gagal untuk mengislamkan pangeran dari wilayah Sunda.
Kemudian, tokoh penyebar agama bernama Haji Purwa tercatat muncul pada tahun 1112. Ia adalah kakak Prabu Munding Sari dari Kerajaan Padjadjaran yang beralih memeluk Islam.
Ia lalu pulang bersama pendakwah keturunan Arab yang bernama Sayed Abas ke nusantara. Sayangnya, usaha mereka untuk mengislamkan keluarga keraton pada masa itu belum berhasil.
Baca juga: Kronik Sejarah Runtuhnya Kerajaan Majapahit dalam Buku The History of Java
Gelombang dakwah yang lebih besar mulai terlihat menjelang akhir abad keempat belas. Pusat perniagaan seperti kota Gresik menjadi pijakan penting bagi arus penyebaran tersebut. Tokoh perintis dakwah ini adalah Maulana Ibrahim dari tanah Arab. Syiar ini bahkan mulai merambah tingkat elit ketika Raja Chermen berkunjung tahun 1313.
Tujuan utamanya adalah mengajak Raja Majapahit Prabu Angka Wijaya untuk memeluk Islam. Walaupun sang prabu menolak, beliau memberikan kebebasan penuh bagi pendakwah untuk bersyiar.
Runtuhnya Era Kerajaan Majapahit dan Munculnya Demak
Masih dari catatan History of Java, titik balik transisi keagamaan ini dipicu oleh intrik dalam garis keturunan Majapahit sendiri. Raden Patah kemudian berhasil mendirikan basis kekuasaan yang baru di wilayah Bintara Demak.
Kemudian gerakannya pun mendapat legitimasi sangat kuat dari para wali di tanah Nusantara. Tokoh seperti Sunan Ampel dan Sunan Kudus turut mengubah dakwah menjadi gerakan politik.
Akhirnya, ibu kota kemaharajaan Hindu tersebut berhasil direbut oleh kekuatan koalisi pada 1475. Runtuhnya kekaisaran purba ini menandai era agama baru sebagai keyakinan resmi negara.
Setelah kejatuhan kekuasaan tersebut, ajaran baru ini menyebar pesat ke seluruh penjuru pulau. Di bagian barat, Sunan Gunung Jati mengukuhkan kedudukannya di wilayah Cheribon tahun 1334.
Keturunan pemuka agama ini lalu berhasil menundukkan kawasan Banten beserta wilayah tanah Sunda. Armada Portugis yang tiba turut merekam transisi besar ini pada tahun 1511.
Baca juga: Mengungkap Metode Thomas Stamford Raffles Menulis Buku The History of Java
Memasuki abad keenam belas, hampir seluruh pulau perlahan beralih memeluk keyakinan baru. Peneliti mencatat ada sekitar lima puluh ribu pemuka agama tersebar hingga wilayah pelosok.
Meskipun berganti agama, penduduk setempat tidak menjelma menjadi penganut fanatik secara buta. Mereka tetap menjunjung tinggi norma adat warisan para leluhur dari zaman pra-Islam.
Implementasi aturan baru selalu berpadu secara unik dengan adat istiadat masyarakat setempat. Misalnya, peran para penghulu dalam urusan pernikahan sangat menghormati tradisi warga kuno.
Hal ini menegaskan bahwa penyebaran agama Islam di Jawa tidak memusnahkan peradaban yang sudah lama berakar. Sebaliknya, proses panjang ini sukses melahirkan fusi budaya yang sangat luar biasa indah. (Muhafid/R6/HR-Online)

4 hours ago
3

















































