Tradisi Pasola Sumba, Tampilkan Peperangan dengan Kuda dan Tombak

10 hours ago 12

Tradisi Pasola Sumba merupakan salah satu dari banyaknya daya tarik tradisional di Nusa Tenggara Timur. Tradisi ini menjadi daya tarik tersendiri dari wilayah Sumba yang telah sukses menarik perhatian banyak orang. Bahkan Pasola juga sudah menjadi daya tarik wisata yang membuat banyak orang tertarik datang ke Sumba.

Baca Juga: Nyiram Gong Sekati, Tradisi Cirebon untuk Sambut Maulid Nabi

Mengenal Tradisi Pasola Sumba di NTT

Sumba di Nusa Tenggara Timur memang memiliki banyak daya tarik yang unik dan khas. Salah satunya yang akan kita bahas kali ini yaitu Pasola yaitu tradisi turun-temurun dari zaman dulu. Pasola telah menjadi bagian penting sekaligus kebanggan masyarakat Sunda yang masih terus dilestarikan hingga kini.

Pasola sendiri merupakan permainan perang yang akan dilakukan oleh dua kelompok dengan pemain laki-laki. Mereka akan menunggangi kuda serta membawa tombak kayu khas yang kemudian akan mereka lemparkan selama permainan. Kata Pasola sendiri berasal dari kata sola atau hola yang artinya lembing atau tombak kayu.

Sejarah Pasola

Sejarah ritual ini berasal dari legenda cinta segi tiga yang pernah terjadi di masa lampau. Kisahnya melibatkan 3 bersaudara dari kampung Waiwuang yaitu Ubu Dulla, Yagi Waikareri, dan Ngongo Tau Matutu. Menurut sejarah tradisi Pasola Sumba, mereka pergi berlayar ke Negeri Muhu Karera untuk mencari ikan demi istri-istri mereka.

Setelah beberapa hari berlayar, ternyata ketiga bersaudara tersebut tidak kunjung kembali ke kampung. Para istri dari ketiga saudara tersebut dan warga sekitar pun menjadi cemas. Bahkan Rabu Kabba yang merupakan istri Ubu Dulla sering pergi ke pantai dan berharap suaminya kembali.

Baca Juga: Kesenian Surak Ibra, Tradisi Unik Garut Kerap Warnai Perayaan HUT RI

Suatu hari, Rabu Kabba bertemu dengan seorang pemuda dari Kodi yang bernama Teda Gaiparona. Akhirnya Rabu Kabba dan Teda Gaiparona saling jatuh cinta karena keduanya memang sering bertemu. Namun karena adat setempat, mereka tidak bisa bersama sehingga memutuskan untuk kawin lari.

Tak lama kemudian, Ubu Dulla dan saudaranya kembali ke Weiwuang namun istrinya telah pergi dengan pria lain. Ubu Dulla merasa tidak terima namun kemudian merelakan istrinya dengan syarat tertentu untuk Teda Gaiparona. Keduanya kemudian juga sepakat untuk menyelenggarakan tradisi Pasola Sumba sebagai penghormatan untuk Ubu Dulla atas kebesaran hatinya.

Waktu dan Proses Pelaksanaannya

Masyarakat bisa menggelar ritual Pasola setahun sekali di antara bulan Februari hingga Maret. Ada beberapa kampung yang menggelar tradisi ini seperti Lamboya, Gaura, Kodi, dan Wonokaka. Pelaksanaannya pun tidak boleh sembarangan dan harus melakukan tradisi nyale terlebih dahulu.

Masyarakat akan menggelar Pasola di padang luas dan disaksikan langsung oleh warga hingga wisatawan. Akan ada 2 kelompok yang bertanding dengan melibatkan anggota hingga sekitar 100 pemuda. Masing-masing peserta akan mengendarai kuda dan menggunakan tombak kayu dengan ujung yang tumpul.

Dalam pelaksanaan Tradisi Pasola Sumba, pemain dari kedua kelompok akan memacu kuda sambil melesatkan tombak ke arah lawan. Di samping itu, pemain pun harus bisa menghindari lemparan tombak kayu tersebut dari lawan. Gerakan kuda yang lincah membuat tradisi ini mengundang sorak sorai dari para penonton.

Makna Ritual Pasola

Pasola bukan hanya ritual biasa namun memiliki makna yang mendalam bagi masyarakat Sumba. Ritual ini memiliki makna untuk memperkuat rasa kebersamaan dan solidaritas antar warga desa. Sebab meskipun menampilkan peperangan, namun tradisi ini menunjukkan kekompakan, keberanian, dan rasa hormat pada adat dan leluhur.

Tradisi ini juga menjadi simbol kesuburan tanah dan harapan agar mendapatkan hasil panen yang melimpah. Lewat ritual ini masyarakat memohon berkah dari alam dan leluhur agar kehidupan mereka selalu diberkahi. Selain itu ritual ini juga menjadi cara untuk melestarikan nilai luhur seperti keberanian, penghormatan, dan gotong royong.

Baca Juga: Taman Benyamin Sueb: Menelusuri Jejak sang Legenda Betawi di Jatinegara

Tradisi Pasola Sumba bukan hanya menjadi hiburan semata yang menunjukkan atraksi peperangan menegangkan dengan kuda. Pertunjukkan ini juga memiliki makna mendalam yang menggambarkan keberanian, kekayaan tradisi, dan semangat gotong royong. Selain itu ritual ini juga telah menjadi daya tarik wisata bagi wisatawan lokal maupun internasional. Karena itu tidak heran jika masyarakat di Sumba selalu berusaha menjaga dan melestarikan tradisi Pasola ini. (R10/HR-Online)

Read Entire Article
Perayaan | Berita Rakyat | | |