harapanrakyat.com,- Duka mendalam menyelimuti keluarga korban kecelakaan kerja yang tewas setelah terjatuh dari tower eks SIMDA di komplek perkantoran Purwaharja, Kota Banjar, Jawa Barat, pada Sabtu (4/7/2026).
Istri korban, Robiyanti, kini hanya bisa meratapi kepergian sang suami Apip Kusmayadi, sembari menuntut iktikad baik dan tanggung jawab dari pihak pemberi kerja.
Insiden tragis ini terjadi pada hari ketiga yang seharusnya menjadi hari terakhir korban menyelesaikan pekerjaan pembongkaran tower tersebut.
Menurut keterangan Robiyanti, tidak ada firasat aneh sebelum suaminya berangkat kerja pada pagi hari kejadian sekitar pukul 05.30 WIB agar terhindar dari terik matahari. Korban sempat mengirimkan pesan terakhir melalui WhatsApp pada pukul 07.00 WIB untuk berpamitan naik ke atas tower.
“Pekerjaan dimulai dari jam 6 pagi, rencana turun jam 10. Tapi pas kejadian sekitar 08.30 WIB, saya langsung dapat kabar kalau Aa sudah jatuh,” ungkap Robiyanti, Minggu (5/7/2026).
Baca Juga: Kesaksian Rekan Korban saat Dua Pekerja di Kota Banjar Jatuh dari Tower Triangle
Pembongkaran Tower Berujung Celaka di Kota Banjar
Berdasarkan cerita almarhum semasa hidup, pembongkaran tower triangle setinggi 80 meter tersebut dikelola oleh seseorang bernama Cecep. Pekerjaan tersebut menggunakan sistem borongan dengan target penyelesaian selama tiga hari.
Ia menjelaskan, rincian sistem pengupahan yang dijanjikan bagi pemanjat Rp 1 juta rupiah per orang untuk sistem borongan selama 3 hari. Sedangkan bagi pekerja yang berada di bawah Rp 150 ribu per hari.
Nahas, hingga besi tower berhasil diturunkan sekitar 40 meter dan berujung pada kecelakaan fatal, pihak keluarga sama sekali belum menerima sepeser pun hak atau upah dari pemberi pekerjaan.
Sementara itu, Robiyanti membeberkan bahwa suaminya sebenarnya adalah pekerja yang sudah sangat berpengalaman dalam memanjat menara tinggi, bahkan sering mengambil proyek serupa hingga ke Jakarta. Namun, sang suami sempat mengeluhkan kondisi rekan-rekan satu timnya pada pekerjaan kali ini.
“Suami saya cerita, teman-teman yang ikut naik kali ini rata-rata tidak punya pengalaman. Jadi kerjanya agak terhambat, yang berpengalaman cuma Aa saja,” tambahnya.
Hingga saat ini, keberadaan Cecep selaku penanggung jawab masih belum diketahui dan belum mendatangi rumah duka. Pihak keluarga korban kini tengah berupaya melakukan pencarian untuk meminta pertanggungjawaban yang jelas.
“Saya cuma pengen iktikad baiknya saja dari Pak Cecep untuk datang menemui saya sebagai istrinya. Bagaimana pertanggungjawabannya ke depan? Ini masalah nyawa, dan nyawa tidak bisa diganti dengan uang,” pungkasnya. (Sandi/R7/HR-Online/Editor-Ndu)

4 hours ago
3

















































