Yayasan Galuh Koesoemadiningrat Ciamis Angkat Nilai Sejarah Tradisi Ngabungbang di Situs Jambansari

1 day ago 15

harapanrakyat.com,- Tradisi Ngabungbang kembali dihadirkan di Situs Jambansari, Kabupaten Ciamis, pada Rabu (29/7/2026) malam bertepatan dengan malam 14 Maulud. Melalui kegiatan bertema “Ngamumule Warisan Kanjeng Prebu: Menggali Makna Tradisi Ngabungbang pada Masa R.A.A. Koesoemadiningrat”, Yayasan Koesoemadiningrat mengajak masyarakat memahami kembali nilai sejarah dan budaya yang melekat pada warisan Kanjeng Prebu.

Kegiatan yang dimulai pukul 20.00 WIB itu digelar sebagai upaya melestarikan tradisi lokal sekaligus memperkuat pemahaman masyarakat terhadap sejarah Tatar Galuh. Malam 14 Maulud dipilih karena sejak lama diyakini sebagai momentum penting untuk berdoa, mengenang jasa para leluhur, serta menghormati R.A.A. Koesoemadiningrat atau Kanjeng Prebu.

Baca juga: Tradisi Jamasan di Situs Jambansari Ciamis, Merawat Benda Pusaka Peninggalan RAA Koesoemadiningrat 

Mewakili Yayasan Koesoemadiningrat, Ketua Penyelenggara Raden Adi Garjita, S.Hut., menegaskan kegiatan ini bukan untuk menghidupkan kembali ritual lama, melainkan menjadi ruang edukasi budaya yang berlandaskan sejarah dan kearifan lokal.

Menurut Adi, Tradisi Ngabungbang merupakan bagian dari identitas masyarakat Galuh yang menyimpan banyak nilai kehidupan. “Melalui kegiatan tersebut, masyarakat diajak memahami makna Ngabungbang sebagai sarana refleksi sejarah. Penghormatan kepada para pendahulu, serta penguatan jati diri budaya, bukan sekadar tradisi berjaga semalaman,” ungkap Adi.

Ia menambahkan, warisan Kanjeng Prebu tidak hanya berupa situs dan peninggalan fisik, tetapi juga nilai kepemimpinan, kebersamaan, serta kepedulian terhadap masyarakat yang tetap relevan untuk diwariskan kepada generasi masa kini.

Rangkaian acara diawali dengan pembukaan, tawasul, pembacaan rajah, dan doa bersama sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur. Suasana kemudian semakin khidmat melalui penampilan seni kacapi suling yang mengiringi jalannya kegiatan.

Acara dilanjutkan dengan pemaparan sejarah Tradisi Ngabungbang di Jambansari, termasuk perkembangannya pada masa R.A.A. Koesoemadiningrat dan peran Jambansari sebagai salah satu pusat sejarah Galuh. Sesi ini menjadi ruang dialog untuk menghubungkan sejarah, tradisi lisan, dan upaya pelestarian budaya di tengah perkembangan zaman.

Baca juga: Mata Air di Situs Jambansari Ciamis Konon Bisa Sembuhkan Penyakit

Tradisi Ngabungbang Tiap Tanggal 14 Maulud di Jambansari Ciamis

Adi menjelaskan, berdasarkan cerita masyarakat dan tradisi lisan yang berkembang, malam 14 Maulud sejak dahulu menjadi waktu masyarakat berkumpul di Jambansari untuk berdoa, bersilaturahmi, dan mengenang jasa Kanjeng Prebu. Seiring perubahan zaman, tradisi tersebut mengalami perkembangan sehingga perlu dipahami kembali melalui pendekatan sejarah agar makna aslinya tetap terjaga.

Yayasan Koesoemadiningrat berharap melalui kegiatan ini, masyarakat semakin memahami nilai-nilai yang terkandung dalam Tradisi Ngabungban. Mulai dari penghormatan kepada leluhur, edukasi sejarah, pelestarian budaya, hingga penguatan rasa kebersamaan dan tanggung jawab menjaga identitas budaya Galuh.

“Selain menjadi wadah diskusi budaya, kegiatan ini juga diharapkan menjadi langkah awal menjadikan Situs Jambansari sebagai pusat edukasi sejarah dan kebudayaan yang terbuka bagi masyarakat. Akademisi, pelajar, mahasiswa, budayawan, komunitas seni, serta para pemerhati sejarah,” pungkas Adi. (Jujang/HR Online)

Read Entire Article
Perayaan | Berita Rakyat | | |