Bahaya Sifat Kufur Nikmat yang Merusak Keberkahan Hidup Manusia

1 day ago 14

harapanrakyat.com,- Bahaya sifat kufur nikmat seringkali menjebak manusia yang terlalu sibuk mengejar keinginan duniawi semata. Mereka melupakan tumpahan anugerah Tuhan sehingga terjerumus dalam perilaku nista yang merusak keberkahan hidup.

Para ulama mendefinisikan sikap ini sebagai bentuk penutupan diri terhadap kebenaran anugerah yang telah Allah limpahkan. Pemahaman yang benar dalam ajaran Islam mengenai istilah ini menjadi fondasi utama dalam membangun kepribadian yang lebih bersyukur.

Memahami Hakikat dan Bahaya Sifat Kufur Nikmat dalam Islam

Secara etimologi, kata kufur berakar dari kafara yang bermakna menutupi atau menyembunyikan kebaikan yang telah diterima. Di sisi lain, nikmat berasal dari kata na’ama yang melambangkan kelapangan serta kehidupan yang baik bagi makhluk.

Baca juga: Rahasia Bangun Tidur dari Imam Al Ghazali agar Mendapatkan Pahala dan Hidup Berkah

Al-Jurjani memandang nikmat sebagai pemberian Tuhan yang mendatangkan manfaat nyata bagi kesenangan serta kebahagiaan hidup manusia. Al-Asfihani memperdalam makna tersebut dengan menegaskan hakikat anugerah berkaitan erat dengan adanya unsur pertambahan manfaat.

Ibnu Abbas bahkan memberikan perspektif menyentuh dengan mengartikan nikmat sebagai diutusnya Nabi Muhammad untuk menyucikan jiwa manusia. Kufur nikmat terjadi saat seseorang menutup diri dari pengakuan atas segala kemurahan Tuhan tersebut.

Imam Al-Baghawi menjelaskan bahwa pengingkaran terhadap anugerah memiliki kedudukan berbeda dengan kekufuran di bidang akidah. Ia memisahkan sikap ini dari kategori kufur ingkar yang secara otomatis membatalkan keimanan seseorang.

Meskipun demikian, seorang mukmin tetap berisiko terjerumus ke dalam perilaku ini apabila meremehkan anugerah sekecil apa pun. Kesadaran ini menjadi pengingat bahwa status beriman belum menjamin seseorang terbebas dari sikap sombong.

Ulama mutakalimin menetapkan batasan kafir berdasarkan aspek pendustaan atau ketidaktahuan mendalam terhadap Tuhan di hati manusia. Sementara itu, para fuqaha lebih menitikberatkan kategori tersebut pada konsekuensi hukum formal dalam kehidupan sosial.

Baca juga: Amalan Saat Terdesak Hutang, Jangan Hanya Berpangku Tangan

Sintesis dari kedua pandangan ini menunjukkan bahwa kufur nikmat merupakan ancaman nyata bagi setiap muslim. Pemisahan ini memposisikan pengingkaran nikmat sebagai penyakit hati berbahaya yang dapat menyerang siapa saja setiap waktu.

Manifestasi Sikap Kufur dan Ancaman Azab

Seseorang melakukan kufur nikmat secara nyata ketika menyalahgunakan kesehatan tubuhnya untuk melakukan berbagai tindakan maksiat. Penggunaan harta benda untuk mendukung aktivitas negatif mencerminkan pengingkaran terhadap tujuan sejati pemberian kekayaan tersebut.

Tindakan tersebut menunjukkan individu gagal memfungsikan sumber daya hidup sesuai kehendak Sang Pencipta yang Maha Memberi. Penyalahgunaan fasilitas hidup menjadi bukti kuat atas ketidaktulusan seseorang dalam menerima kemurahan Tuhan.

Syekh Nawawi Banten menegaskan bahwa kegagalan mensyukuri nikmat mencerminkan kerendahan diri yang merusak martabat manusia. Seseorang menunjukkan standar moral rendah saat ia meremehkan bantuan tulus dari keluarga atau sesama.

Individu yang memiliki kemampuan finansial namun menolak berkontribusi bagi kepentingan sosial telah menutup pintu keberkahan dirinya. Pengakuan terhadap kebaikan orang lain merupakan bagian integral dari rasa syukur yang harus dipraktikkan.

Surat Ibrahim ayat 7 menyampaikan peringatan tegas mengenai ancaman azab berat bagi mereka yang mengingkari nikmat. Namun, Allah juga memberikan jaminan tambahan anugerah berlipat ganda kepada hamba yang memelihara rasa syukur.

Baca juga: Macam Macam Ihsan dalam Islam dari Ibadah hingga Interaksi Sosial

Al-Qur’an menggambarkan dampak nyata pengingkaran ini melalui kisah negeri yang hancur dalam Surat An-Nahl ayat 112. Penduduk negeri tersebut semula menikmati keamanan sebelum akhirnya berbuat sombong dengan mengingkari kemurahan Tuhan.

Allah menimpakan bencana kelaparan serta ketakutan sebagai balasan setimpal atas perilaku buruk yang dilakukan secara sadar. Narasi tragis ini memberikan pelajaran bahwa stabilitas suatu bangsa sangat bergantung pada integritas hati penduduknya.

Menjaga hati dari racun bahaya sifat kufur nikmat merupakan langkah penting untuk mengamankan keberlangsungan anugerah Tuhan. Kita harus berkomitmen menggunakan fasilitas kehidupan di jalan yang benar dengan ibadah agar terhindar dari azab pedih. (Muhafid/R6/HR-Online)

Read Entire Article
Perayaan | Berita Rakyat | | |