harapanrakyat.com,- Lesunya kondisi ekonomi kian dirasakan masyarakat kelas bawah di Kecamatan Pamarican, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Perputaran uang yang terasa seret membuat pelaku usaha mikro harus memutar otak demi menyambung hidup. Bagi sebagian pedagang kecil di Pamarican meraih keuntungan bersih Rp100 ribu per hari kini terasa sulit.
Salah satu yang merasakan dampaknya adalah Iis Istikomah, warga Dusun Kertaharja, Desa Kertahayu. Perempuan yang kini berjualan gorengan itu mengaku pendapatannya merosot tajam dibanding tahun-tahun sebelumnya.
“Dalam sehari saya hanya bisa mendapatkan keuntungan bersih sekitar Rp25 ribu saja. Sangat tipis dan jauh berbeda dengan dulu,” keluh Iis, Kamis (12/02/2026).
Baca Juga: Lagi Asyik Main di Acara Ultah, Bocah 11 Tahun di Pamarican Ciamis Terlindas Truk Pasir
Iis menuturkan, usaha gorengan yang dijalaninya saat ini merupakan pilihan terakhir setelah bisnis kredit peralatan rumah tangga yang dulu digelutinya gulung tikar.
Menurutnya, kehadiran pasar digital membuat masyarakat lebih memilih belanja secara daring ketimbang mengambil kredit konvensional.
“Dulu saya kreditkan perabotan, tapi sekarang sudah tidak bisa diharapkan lagi karena kalah saing sama online. Makanya sekarang jualan gorengan, dititipkan ke warung-warung. Tapi hasilnya sangat minim,” ungkapnya.
Ia berharap ada perhatian pemerintah, terutama akses bantuan modal dengan bunga rendah agar bisa kembali mengembangkan usaha.
Pedagang Kecil di Pamarican Ciamis Terpaksa Pinjam ke Bank Emok
Hal serupa dialami Teti, pedagang ketoprak dan soto yang mangkal di depan Kantor Kecamatan Pamarican. Ia mengaku keuntungan bersihnya kini rata-rata hanya sekitar Rp50 ribu per hari. “Tidak sampai Rp100 ribu. Sekarang susah sekali,” katanya.
Teti menyebut, lonjakan harga sayuran dan bahan pokok lainnya membuat margin keuntungan semakin menipis. Di sisi lain, jumlah pembeli juga menurun drastis.
“Semenjak kondisi ekonomi begini, yang jajan juga berkurang. Mungkin karena masyarakat lain juga sama-sama lagi susah,” imbuhnya.
Baca Juga: Kantor Kelurahan Ciamis Peninggalan Belanda Resmi Jadi Cagar Budaya
Untuk menutup kekurangan modal, Teti bahkan terpaksa meminjam uang ke koperasi keliling atau yang dikenal dengan sebutan bank emok, meski bunganya cukup memberatkan.
“Kalau ada, saya sangat berharap pinjaman lunak dari pemerintah yang bunganya ringan. Lebih bagus lagi kalau ada bantuan hibah modal untuk pedagang kecil seperti saya,” pungkasnya.
Baca Juga: Kendalikan Hama Tikus, Pemuda di Lakbok Ciamis Pasang Rumah Burung Hantu di Sawah
Para pedagang kecil di Pamarican kini hanya bisa berharap kebijakan pemerintah yang lebih berpihak pada wong cilik, agar daya beli masyarakat kembali meningkat dan roda ekonomi desa kembali bergerak. (Suherman/R7/HR-Online/Editor-Ndu)

14 hours ago
5

















































