Candi Sojiwan di Klaten kini semakin bersinar sebagai destinasi wisata unggulan di Desa Kebondalem Kidul. Terutama dengan hadirnya kemeriahan Festival Candi Sojiwan.
Terletak hanya sekitar dua kilometer dari Candi Prambanan, candi Buddha terbesar kelima di Jawa Tengah ini bukan sekadar tumpukan batu purbakala. Melainkan monumen hidup yang merayakan kebijaksanaan melalui relief fabel unik dan sejarah toleransi yang mendalam.
Kemeriahan Budaya dalam Festival Candi Sojiwan Sewindu
Baca Juga: Rekomendasi Museum Terbaik di Jogja, Destinasi Aesthetic dan Edukatif yang Wajib Dikunjungi
Puncak kemeriahan di kawasan ini baru saja berlangsung pada 12 Juli 2026 melalui gelaran festival tahun kedelapan. Festival kali ini mengusung tagline “Warisan Lestari, Generasi Berseri”.
Salah satu magnet utama acara ini adalah Rayahan Gunungan. Di mana warga memperebutkan hasil bumi dari 12 gunungan sebagai simbol rasa syukur atas kesuburan tanah Klaten.
Selain itu, terdapat lomba tari se-Jawa Tengah dan DIY, kirab budaya dari 11 RW. Hingga pementasan kolosal Sendratari Ramayana.
Berbagai rangkaian kegiatan dalam Festival Candi Sojiwan tersebut berhasil menyedot ribuan wisatawan untuk sekaligus mengenal “perpustakaan moral” berupa 19 hingga 20 relief fabel (Jataka) di kaki candi.
Baca Juga: Menyusuri Jejak Peradaban: Destinasi Wisata Sejarah di Bali yang Mengedukasi dan Instagenic
Relief ini mengisahkan cerita hewan penuh pesan moral. Seperti kisah kecerdikan Kera bersiasat dengan Buaya, perlombaan lari antara Kancil dan Siput. Hingga perkelahian Gajah dan Burung Pipit, yang menjadikannya destinasi edukasi, sangat cocok untuk aktivitas mendongeng bersama anak-anak.
Secara historis, Candi Sojiwan yang dibangun antara tahun 842 hingga 850 M merupakan wujud nyata harmoni antar umat beragama di masa Mataram Kuno. Candi ini diyakini dibangun oleh Raja Balitung yang beragama Hindu sebagai penghormatan kepada neneknya, Nini Haji Rakryan Sanjiwana yang beragama Buddha.
Ritual Suci San Bu Yi Pai
Hingga kini, nilai spiritualitasnya tetap terjaga melalui ritual suci seperti “San Bu Yi Pai” dan meditasi yang dilakukan ribuan umat Buddha setiap perayaan Waisak.
Baca Juga: Kirab Malam 1 Suro Solo: Tradisi Sakral, Ikon Kebo Bule, dan Aturan Tapa Bisu
Bagi pengunjung yang ingin datang, lokasi candi berada di Jl. Banjarsari, Kebondalem Kidul, dengan harga tiket masuk sangat terjangkau, yakni Rp5.000 per orang. Fasilitas yang tersedia cukup lengkap, mulai dari area parkir, toilet, hingga paket wisata outbound dan kemah budaya.
Dengan perpaduan arsitektur setinggi 27 meter yang anggun dan atmosfer pedesaan yang tenang, Festival Candi Sojiwan menjadi bukti bagaimana kearifan masa lalu tetap lestari dan memikat hati wisatawan masa kini. (R3/HR-Online/Editor: Eva)

9 hours ago
13

















































