harapanrakyat.com,- Memasuki musim kemarau, Pemerintah Kota Tasikmalaya mengimbau petani menyesuaikan pola tanam dengan memilih komoditas yang membutuhkan lebih sedikit air. Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi berkurangnya pasokan air irigasi yang mulai dirasakan di sejumlah lahan pertanian, terutama di Kecamatan Tamansari.
Menurut Kepala Bidang Sumber Daya Air Dinas PUPR Kota Tasikmalaya, Rino Isa Muharam, ketahanan ketersediaan air untuk sektor pertanian kini menjadi perhatian utama. Ketersediaan air di Kota Tasikmalaya menurun seiring musim tanam, yakni 100 persen pada MT 1, 80 persen di MT 2, dan tinggal sekitar 40 persen saat memasuki MT 3.
Baca Juga: Kemarau Picu Kebakaran Dua Hektare Lahan Gambut di Sumedang
“Melihat ketersediaan air sekarang berkurang karena kemarau, jadi tidak disarankan menanam tumbuhan yang memerlukan air besar,” ujar Rino kepada Harapan Rakyat, Kamis (09/07/2026).
Rino mengatakan saat ini musim tanam telah memasuki MT 3. Karena pasokan air semakin terbatas, petani disarankan beralih menanam komoditas palawija atau tanaman yang lebih hemat air dibandingkan padi.
“Jangan memaksakan, misal pada padi. Karena kan cukup butuh banyak air, hingga kalau kekurangan akan mengganggu produktivitas,” jelasnya.
Baca Juga: Musim Kemarau, Sejumlah Sawah di Kota Bandung Alami Kekeringan
Rino menjelaskan, saat musim kemarau debit mata air dan situ yang menjadi sumber pasokan air terus menurun. Dinas PUPR pun telah menerima laporan kekeringan dan melakukan peninjauan ke sejumlah lokasi terdampak, seperti Cidongkol dan Cipajaran di Kecamatan Tamansari.
“Kami sedang melakukan upaya gilir air dari yang masih ada alirannya. Namun hal itu harus sesuai kesepakatan pengguna air, salah satunya sungai Citanduy,” tambah Rino.
Petani Alih Pola Tanam Saat Kemarau
Petani di Tamansari mengaku debit air mulai berkurang sehingga tidak semua lahan bisa ditanami. Saat ini, hanya sawah yang berada di bawah aliran Sungai Cipajaran yang masih mendapat pasokan air, meski mayoritas petani di wilayah tersebut biasa menanam padi.
Baca Juga: Antisipasi Dampak Kemarau, Dispar Ciamis Genjot Potensi Wisata Wellness Tourism
“Kalau tidak salah kan sekarang musim panyelang. Nanam padi yang masih kena air sampai sebelum merekah itu agak mendingan. Namun kalau baru nanam akan langsung kekeringan, tanamannya pasti mati,” tuturnya.
Untuk mengatasi kekurangan air, petani memanfaatkan cara tradisional seperti membuat kincir air dan talang darurat. Namun jika pasokan air tetap tidak mencukupi, saat kemarau mereka alih pola tanam, dengan menanam ubi, palawija, kacang, atau jagung. (Rafi/R9/HR-Online/Editor-Dadang)

1 month ago
83

















































