harapanrakyat.com,- Kasus kekerasan terhadap perempuan di Jawa Barat mengalami peningkatan cukup signifikan dari tahun ke tahun. Berdasarkan data terbaru hingga Mei 2026, UPTD PPA Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Jawa Barat telah mencatat sebanyak 371 laporan kekerasan terhadap perempuan.
Jika berkaca pada dua tahun ke belakang, angka kenaikan ini terlihat sangat nyata. UPTD PPA Jawa Barat mencatat terdapat 472 kasus kekerasan pada 2024. Angka tersebut kemudian melonjak cukup tajam menjadi 615 kasus sepanjang 2025.
Kenaikan angka kasus kekerasan terhadap perempuan juga terekam jelas dalam data Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (SIMFONI) milik Kementerian PPPA.
Baca Juga: Ida Nurlaela Ajak Perempuan Pangandaran Perkuat Peran dalam Keluarga dan Bangsa
Pada 2024, SIMFONI mencatat ada 1.161 kasus di Jawa Barat, yang kemudian merangkak naik menjadi 1.367 kasus pada tahun 2025.
Perbedaan mencolok pada kedua data tersebut terjadi karena perbedaan sumber laporan. SIMFONI mengambil data dari laporan lintas sektoral, termasuk dari kepolisian dan rumah sakit. Sementara itu, data UPTD PPA bersumber langsung dari aduan mandiri atau masyarakat yang melaporkan secara langsung.
Strategi Pemprov Jabar Memutus Rantai Kasus Kekerasan Perempuan
Kepala DP3AKB Jawa Barat, Siska Gerfianti mengatakan, pihaknya terus memaksimalkan upaya pencegahan kekerasan pada perempuan. Langkah preventif melalui edukasi massif dan sosialisasi. Serta memperkuat akses pengaduan ke UPTD PPA Jawa Barat agar korban maupun saksi mata tidak lagi ragu untuk melapor.
“Program DP3AKB Jawa Barat guna mencegah kasus kekerasan atau serupa sudah dilaksanakan, dan akan terus kami sosialisasikan kembali, antara lain melalui gerakan Jabar Cekas (Jawa Barat Berani Cegah Tindakan Kekerasan), dan Puspaga (Pusat Pembelajaran Keluarga),” kata Siska, Senin (6/7/2026).
Salah satu program yang kini menjadi garda terdepan adalah Jabar Cekas. Gerakan ini dirancang khusus untuk membangun keberanian kolektif masyarakat agar mau bersuara, menolak segala bentuk kekerasan. Serta menunjukkan keberpihakan penuh kepada para korban.
Baca Juga: KBP3A Pangandaran Tangani 28 Kasus Kekerasan Perempuan dan Anak Sepanjang 2025
Selain Jabar Cekas, pemerintah provinsi juga memaksimalkan program Puspaga. Program ini berfokus pada penguatan ketahanan internal keluarga. Karena lingkungan rumah tangga sering kali menjadi benteng pertama dalam mencegah potensi kekerasan sejak dini.
Melalui sinergi berbagai program tersebut, Pemprov Jawa Barat berharap kesadaran masyarakat dapat meningkat secara berkala. Hal ini sekaligus untuk memastikan para korban mendapatkan akses perlindungan serta pendampingan yang cepat, aman, dan optimal. (Reza/R3/HR-Online/Editor: Eva)

4 hours ago
4

















































