Tuntut Dialog Revitalisasi, Ratusan Pedagang Pasar Cimalaka Sumedang Blokade Jalan Nasional

3 hours ago 4

harapanrakyat.com,- Ratusan pedagang yang tergabung dalam Ikatan Warga Pasar Cimalaka (Ikwapaci) menggelar aksi unjuk rasa besar-besaran di depan kawasan pasar, Kecamatan Cimalaka, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Aksi protes ini diwarnai dengan penutupan total jalur utama yang menghubungkan wilayah Bandung dan Cirebon.

Baca juga: Ribuan Relawan MBG di Garut Kepung Gedung DPRD, Ada 8 Tuntutan Termasuk Perbaikan BGN

Massa yang telanjur kecewa nekat membakar ban bekas di tengah aspal serta membentangkan berbagai spanduk penolakan di sepanjang jalan penutupan. Langkah ini diambil sebagai bentuk protes atas rencana eksekusi pengosongan lahan lapak jualan secara sepihak. Hal ini dilakukan demi memuluskan proyek pembenahan infrastruktur pasar.

Pedagang Pasar Cimalaka Blokade Jalan Nasional

Akibat pemblokiran jalan poros utama tersebut, arus lalu lintas dari kedua arah mengalami kelumpuhan total. Kondisi ini bahkan memicu antrean kendaraan sepanjang beberapa kilometer.

Petugas gabungan dari Satlantas Polres Sumedang dibantu Dinas Perhubungan terpaksa melakukan rekayasa arus kendaraan ke sejumlah jalur siber alternatif. Tujuan rekayasa ini adalah untuk mengurai kemacetan parah di lapangan.

Ketua Ikwapaci, Dian Kusdian, menegaskan bahwa para pedagang pada dasarnya mendukung penuh program penataan dan modernisasi bangunan Pasar Cimalaka dari pemerintah. Namun, mereka menuntut jaminan kejelasan regulasi mengenai penempatan stan. Selain itu, mereka meminta kepastian biaya sewa lapak baru sebelum diminta angkat kaki dari lokasi lama.

“Ukuran dan harga sewa belum pernah dimusyawarahkan dan menurut kami tidak sesuai. Otomatis perekonomian atau perdagangan kami tidak bisa berlanjut,” kritik Dian, Senin (6/7/2026).

Baca juga: Mahasiswa Tasikmalaya Soroti Potensi Kebocoran PAD dan Izin Lingkungan Hotel, Tuntut Transparansi Pajak Air Tanah

Dian menambahkan, lahan tempat penampungan sementara di kawasan Alun-Alun Cimalaka dinilai tidak representatif untuk menampung komoditas dagangan, terutama bagi pedagang daging. Ruang relokasi yang hanya berukuran 1,5 x 2 meter dianggap mustahil untuk menampung peralatan inventaris berukuran besar seperti lemari pembeku (freezer).

Jajaran pengurus pedagang menyayangkan minimnya ruang musyawarah yang dibuka oleh pihak pengelola pasar dari jajaran Pemerintah Desa Cimalaka. Padahal, keputusan pemindahan paksa tanpa solusi konkret ini menyangkut hajat hidup 140 kepala keluarga pedagang. Tak hanya itu, mereka juga memiliki tanggungan biaya sekolah anak hingga cicilan usaha.

Hingga menjelang sore, situasi di sekitar lokasi berangsur kondusif setelah jalur transportasi kembali dibuka normal dengan pengawalan ketat aparat keamanan. Kendati demikian, ratusan pedagang menegaskan akan tetap bertahan menghuni kios lama mereka sampai ada titik temu resmi terkait polemik biaya sewa pascarevitalisasi. (Aang/R6/HR-Online)

Read Entire Article
Perayaan | Berita Rakyat | | |