Reksadana Saham Anjlok 17.66% YtD, Investor Disarankan Averaging Down Secara Bertahap

15 hours ago 19

Reksadana saham anjlok 17.66% YtD seiring tekanan yang masih membayangi pasar keuangan domestik. Data menunjukkan reksadana saham menjadi produk dengan nilai anjlok paling besar menyentuh 17.66% year to date (YtD). Rupiah melemah, koreksi IHSG, hingga sentimen global membuat kinerja instrumen investasi berbasis pasar modal bergerak di zona negatif.

Baca Juga: Program Pintar Reksadana, Strategi Cerdas Pemerintah untuk Dorong Inklusi Keuangan

Di tengah kondisi tersebut, para pelaku industri investasi memilih bersikap lebih selektif dalam mengelola portofolio. Fokus utama mengarah pada saham-saham yang memiliki fundamental kuat serta masih punya prospek pertumbuhan jangka panjang. Meskipun pada dasarnya pasar sedang mengalami volatilitas sangat tinggi.

Reksadana Saham Anjlok 17.66% YtD di Tengah Tekanan Pasar

Data terbaru memaparkan bahwa tidak hanya reksadana saham yang anjlok. Pasalnya, sejumlah kategori reksadana lainnya juga mengalami perlambatan kinerja. Misalnya saja reksadana campuran yang tercatat turun 5,13% secara bulanan. Bahkan telah melemah 0,62% sejak awal tahun 2026.

Sementara itu, reksadana pendapatan masih mampu mencatatkan kenaikan tipis sebesar 0,22% secara bulanan. Hanya saja jika kita hitung sejak awal tahun, kategori reksadana ini juga terkoreksi anjlok senilai 0,62%. Di sisi lain, reksadana pasar uang menjadi instrumen yang relatif paling stabil. Kinerjanya tumbuh 0,27% secara bulanan dan mencatat kenaikan 1,60% secara YtD.

Pelemahan Rupiah dan IHSG Jadi Faktor Utama

Tekanan terhadap pasar investasi tidak terlepas dari kondisi makroekonomi yang masih penuh ketidakpastian. Pelemahan rupiah terhadap dolar AS menjadi salah satu faktor yang memengaruhi sentimen investor. Hal yang sekaligus membuat reksadana saham anjlok signifikan sentuh angka 17.66% YtD.

Baca Juga: Kupas Tuntas Cara Kerja Reksadana Pendapatan Tetap dari Nol

Di samping itu, koreksi IHSG turut memberikan dampak signifikan terhadap nilai aktiva bersih berbagai produk reksadana saham. Penurunan harga saham di sejumlah sektor membuat kinerja portofolio investasi ikut tergerus. Sejumlah sentimen lain seperti ketidakpastian peringkat kredit Indonesia hingga rebalancing indeks internasional masih menjadi perhatian utama.

Valuasi Saham Dinilai Semakin Menarik

Meski kondisi anjlok dan pasar cenderung bergejolak, sebagian pengelola investasi reksadana saham melihat adanya peluang jangka panjang yang mulai terbuka. Salah satu alasannya adalah valuasi saham Indonesia yang tampaknya berada pada level relatif murah. Apalagi jika membandingkannya dengan beberapa tahun terakhir.

Koreksi yang terjadi sepanjang tahun ini bahkan telah melampaui penurunan saat awal pandemi Covid-19 2020 silam. Kondisi tersebut membuat sejumlah saham diperdagangkan pada valuasi yang lebih rendah dari nilai fundamentalnya. Pandangan itu memunculkan keyakinan bahwa tekanan yang terjadi sekarang lebih banyak terjadi karena sentimen pasar. Bukan perubahan mendasar pada kinerja emiten. Peluang pemulihan pun terbuka lebar saat pasar stabil.

Strategi Investor Menghadapi Volatilitas

Dalam situasi reksadana saham anjlok 17.66% YtD, investor sebaiknya tetap menjaga keseimbangan portofolio. Salah satu langkah terbaik adalah mempertahankan porsi dana pada instrumen yang lebih likuid. Misalnya saja reksadana pasar uang. Koreksi yang terjadi juga dapat investor manfaatkan sebagai momentum untuk melakukan akumulasi investasi bertahap lewat averaging down.

Strategi averaging down artinya membeli aset berkala ketika harga mengalami penurunan. Sehingga rata-rata harga pembelian menjadi lebih rendah. Meski demikian, keputusan investasi tetap perlu menyesuaikan profil risiko, tujuan keuangan dan jangka waktu investasi masing-masing. Jangan terburu-buru karena bisa memicu keputusan keliru.

Baca Juga: Perbedaan Reksadana dan Saham, Pahami Sebelum Berinvestasi

Reksadana saham anjlok 17.66% YtD memang menggambarkan besarnya tekanan yang sedang pasar modal Indonesia hadapi. Namun di balik pelemahan rupiah dan IHSG, sejumlah pelaku pasar masih melihat peluang pemulihan dalam jangka panjang. Dengan strategi tepat, momentum reksadana saham anjlok 17.66% YtD dapat jadi kesempatan membangun portofolio secara bertahap. (R10/HR-Online)

Read Entire Article
Perayaan | Berita Rakyat | | |