Benteng Keraton Buton merupakan wisata bersejarah yang rasanya wajib dikunjungi saat liburan di Kota Bau-Bau. Situs budaya ini akan mengajak pengunjung menyelami sejarah sekaligus melihat indahnya pemandangan alam sekitarnya. Di dalam area benteng ini pun, pengunjung bisa melihat berbagai peninggalan yang pastinya sangat berharga.
Baca Juga: Sejarah Panjang Benteng Fort Rotterdam dari Masa Kerajaan Gowa-Tallo
Daya Tarik Benteng Keraton Buton yang Tawarkan Sejarah Sekaligus Keindahan Alam
Indonesia memiliki banyak sekali peninggalan sejarah berupa benteng yang masih terawat hingga saat ini. Bahkan banyak benteng yang kini terbuka untuk masyarakat umum sebagai destinasi wisata sejarah. Salah satunya yaitu Benteng Keraton Buton atau Benteng Wolio yang berada di Kota Bau-Bau, Sulawesi Tenggara.
Benteng bersejarah ini berlokasi di Jalan Labuke, Melai, Kecamatan Murhum, Kota Bau-Bau, Sulawesi Tenggara. Tempat ini telah mendapat penghargaan dari Museum Rekor Indonesia atau MURI dan Guiness Book Record. Penghargaan tersebut menyatakan bahwa tempat ini menjadi benteng terluas di dunia dengan luas sekitar 23.375 hektar.
Sejarah Pendiriannya
Sultan Buton III yang bernama La Sangaji membangun Benteng Wolio ini pada abad ke-16. Bangunannya terbuat dari batu kapur yang ditumpuk secara sederhana namun memiliki kekuatan sangat baik. Fungsi pentingnya yaitu untuk melindungi istana dan pusat pemerintahan Kesultanan Buton dari serangan musuh.
Di masa pemerintahan Sultan Buton IV yaitu La Elangi, Benteng Keraton Buton semakin besar dan kokoh. Ia memperkuat bangunan benteng ini secara permanen menggunakan dinding batu yang lebih besar dan kuat. Bangunan pertahanan ini pun menjadi simbol kekuatan Kesultanan Buton yang memiliki wilayah luas di Sulawesi Tenggara.
Bangunan pertahanan ini juga menjadi saksi bisu perjuangan Kesultanan Buton dalam melawan penjajah dan VOC. Disinilah Sultan Buton berulang kali mengangkat senjata dalam pertempuran terbuka melawan VOC seperti tahun 1751 dan 1776. Berkat sistem pertahanan yang kuat, bentang ini pun berhasil bertahan dari gempuran para musuh.
Baca Juga: Situs Raja Mawikng Dikembangkan Jadi Cagar Budaya, Jaga Warisan Leluhur
Arsitektur dengan 3 Komponen Utama
Benteng Keraton Buton yang memiliki gelar terluas di dunia dikelilingi tembok dengan panjang sekitar 2.740 meter. Terdapat 3 komponen utama yaitu lawa atau pintu gerbang, badili atau meriam, dan baluara atau bastion. Ketiga komponen tersebut tentunya memiliki fungsi masing-masing yang sama pentingnya pada masa lampau.
Lawa atau pintu gerbang merupakan penghubung keraton dengan kampung-kampung yang ada di sekitar benteng. Terdapat 12 lawa yang katanya mewakili jumlah lubang di tubuh manusia sebagai simbol bahwa benteng ini merupakan tubuh manusia. Masing-masing lawa juga memiliki nama tersendiri berdasarkan gelar orang yang bertugas untuk menguasainya.
Badili atau meriam merupakan meriam dari besi yang memiliki ukuran sekitar 2 hingga 3 depa. Meriam ini merupakan peninggalan dari Portugis dan Belanda yang terdapat hampir pada seluruh benteng di Bau-Bau. Meriam tersebut tentunya menjadi senjata penting yang berguna untuk menghalau musuh saat akan melakukan penyerangan.
Benteng Keraton Buton juga memiliki baluara atau bastion yang pembangunannya pada masa Sultan Buton ke-4, La Elangi. Terdapat 16 baluara yang memiliki bentuk berbeda-beda sesuai dengan kondisi dan kondisi lahan sekitarnya. Dua dari 16 baluara tersebut memiliki godo atau gudang sebagai penyimpanan peluru dan mesiu.
Peninggalan Kesultanan Buton dan Pemandangan yang Indah
Di dalam benteng ini juga terdapat berbagai peninggalan Kesultanan Buton yang pastinya bersejarah. Contohnya yaitu terdapat Masjid Keraton Buton yang berdiri tahun 1712 pada masa Sultan Sakiuddin Durul Alam. Selain masjid, terdapat peninggalan lain yaitu Batu Popaua yang menjadi tempat pengambilan sumpah para sultan Buton.
Dari atas bangunan pertahanan ini, pengunjung juga bisa melihat pemandangan Kota Bau-Bau yang pastinya menarik. Pengunjung bisa melihat keindahan pemandangan perkotaan sekaligus lautan biru yang luas dan memanjakan mata. Saat sore hari, pengunjung bahkan bisa melihat indahnya pemandangan matahari terbenam dengan langit kemerahan.
Baca Juga: Sejarah Candi Menggung, Punden Berundak Misterius di Tawangmangu
Benteng Keraton Buton menjadi peninggalan yang kaya akan nilai sejarah terkait kesultanan maupun kolonial. Di sini pengunjung bisa melihat berbagai peninggalan sekaligus belajar tentang sejarahnya yang panjang. Selain itu, pengunjung juga bisa melihat pemandangan Kota Bau-Bau yang indah dan tidak membosankan. Berkat daya tarik tersebut, Benteng Keraton Kesultanan Buton telah menjadi salah satu destinasi populer dan terfavorit. (R10/HR-Online)

2 hours ago
7

















































