Bawang Merah yang Mengubah Hidup Pemuda Asal Panawangan Ciamis

4 hours ago 10

harapanrakyat.com,- Banyak anak muda memilih merantau untuk mencari pekerjaan. Namun berbeda dengan Jundi Nurrabani (31), pemuda asal Dusun Cipeundeuy, Desa Sadapaingan, Kecamatan Panawangan, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Ia justru memilih pulang kampung ke Ciamis dan menekuni sektor pertanian hingga berhasil membangun jaringan bisnis bawang merah yang melibatkan puluhan petani.

Usaha yang dirintisnya kini tidak hanya memberi manfaat bagi warga di desanya, tetapi juga menjangkau petani di wilayah perbatasan Kabupaten Majalengka.

Jundi mengaku sudah mengenal dunia pertanian sejak kecil karena mengikuti jejak orang tuanya yang berprofesi sebagai petani. Namun, ia mulai serius mengembangkan bisnis bawang merah pada masa pandemi Covid-19 tahun 2020.

Baca Juga: Sembilan Tahun Menunggu, Yayasan di Panawangan Ciamis Ini Kini Punya Ambulans Sendiri

“Kalau bertani memang sudah dari 2011 karena meneruskan usaha orang tua. Tapi untuk usaha niaga bawang merah, saya mulai serius mengembangkannya sejak pandemi Covid-19,” ujar Jundi kepada harapanrakyat.com, Rabu (24/6/2026).

Tidak ingin hanya mengandalkan hasil panen, Jundi kemudian mengembangkan usaha hingga ke sektor penyediaan bibit dan pemasaran hasil pertanian. Langkah tersebut menjadi titik awal terbentuknya ekosistem usaha bawang merah yang kini berkembang cukup besar.

BRI Bantu Permodalan Bisnis Bawang Merah Pemuda Ciamis

Perjalanan bisnisnya semakin maju setelah mendapatkan dukungan permodalan melalui program Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI pada tahun 2023. Dana tersebut digunakan untuk pengadaan bibit bawang merah yang kemudian didistribusikan kepada para petani mitra.

Bawang Merah yang Mengubah Hidup Pemuda Asal Panawnagan CiamisBawang merah di gudang milik Jundi di Panawanagn Ciamis siap dikirim ke pelanggan. Foto: Fahmi Albartiansyah/HR

Melalui sistem tersebut, petani memperoleh akses bibit dan sarana produksi, sementara hasil panen mereka ditampung kembali oleh Jundi untuk dipasarkan.

“Awalnya saya mendapatkan KUR Rp100 juta untuk pengadaan bibit. Bibit itu disalurkan ke petani, lalu setelah panen hasilnya kami tampung kembali. Alhamdulillah sekarang kapasitasnya meningkat pesat. Kalau dulu hanya satu sampai dua ton, sekarang bisa puluhan ton dan hampir satu desa ikut menanam bawang merah,” katanya.

Seiring berkembangnya usaha, plafon pembiayaan yang diperolehnya juga meningkat menjadi Rp200 juta. Dana tersebut dimanfaatkan untuk memperluas gudang penyimpanan bawang merah miliknya.

Meski kini usahanya berkembang, perjalanan Jundi tidak selalu mulus. Ia mengaku beberapa kali mengalami kerugian besar akibat tingginya risiko bisnis komoditas hortikultura.

Salah satu pengalaman pahit yang masih diingatnya terjadi pada akhir tahun 2025. Saat itu, satu truk berisi 9,5 ton bawang merah yang didatangkan dari Bima, Nusa Tenggara Barat, mengalami keterlambatan pengiriman hingga 10 hari. Akibatnya, seluruh muatan membusuk sebelum sampai ke tujuan.

“Saat tiba, kondisi bawang sudah hitam dan busuk semua. Kerugian waktu itu sekitar Rp175 juta. Sebelumnya, tahun 2021 saya juga pernah rugi hingga Rp350 juta karena harga pasar tiba-tiba jatuh,” kenangnya.

Meski beberapa kali mengalami kegagalan, Jundi memilih bangkit dan menjadikan pengalaman tersebut sebagai pelajaran berharga dalam mengelola usaha.

Rangkul Pertani Bawang Merah hingga Majalengka

Kini, jaringan tanam bawang merah yang dibangunnya terus berkembang. Dari lahan awal sekitar 7.000 meter persegi, usaha tersebut tumbuh menjadi ekosistem pertanian yang melibatkan banyak petani dan didukung fasilitas gudang penyimpanan sendiri.

Jundi pun mengajak generasi muda untuk tidak ragu melihat sektor pertanian sebagai peluang usaha yang menjanjikan.

“Di kampung sendiri sebenarnya banyak peluang. Tidak harus selalu mencari pekerjaan jauh ke luar kota atau luar negeri. Yang penting mau belajar, sabar, dan siap menghadapi risiko. Kalau ditekuni, pertanian juga bisa menjadi jalan untuk sukses,” katanya.

Keberadaan jaringan usaha yang dibangun Jundi ternyata turut dirasakan manfaatnya oleh petani di luar Kabupaten Ciamis. Salah satunya Amung, petani asal Desa Cidulang, Kecamatan Cikijing, Kabupaten Majalengka.

Selama tiga tahun terakhir, Amung menjadi salah satu petani yang bermitra dengan Jundi. Menurutnya, kerja sama tersebut sangat membantu petani kecil karena mendapatkan akses bibit, obat-obatan hingga kepastian pasar.

Baca Juga: Perantara Rezeki dari Kota ke Kampung, Cerita Bibah Agen BRILink di Gunungcupu Ciamis

“Dengan adanya Pak Jundi, kami petani kecil merasa terbantu. Bibit dan obat-obatan tersedia, sementara harga hasil panen juga mengikuti harga pasar sehingga petani tidak dirugikan,” katanya. (Fahmi/R7/HR-Online/Editor-Ndu)

Read Entire Article
Perayaan | Berita Rakyat | | |