harapanrakyat.com,- Pemahaman tentang sejarah Candi Cetho sangat penting untuk mengenal warisan budaya dari masa akhir Kerajaan Majapahit Nusantara. Selanjutnya, bangunan suci Hindu ini terletak di lereng Gunung Lawu dengan ketinggian seribu empat ratus meter. Oleh karena itu, monumen bersejarah ini menawarkan pesona alam yang indah serta udara pegunungan yang sangat sejuk.
Baca juga: Mengungkap Misteri dan Sejarah Candi Brahu di Trowulan
Pada awalnya, penelusuran sejarah awal penemuan candi bernama Cetho ini dilakukan oleh arkeolog Belanda bernama Van de Vlis. Kemudian, penemuan pada tahun delapan belas empat puluh dua ini mulai menarik banyak perhatian dari ahli purbakala dunia. Walaupun demikian, kompleks situs budaya ini baru dipugar secara besar-besaran pada masa pemerintahan orde baru silam.
Latar Belakang dan Sejarah Candi Cetho Majapahit
Sementara itu, peninggalan bersejarah ini diperkirakan dibangun secara khusus pada masa pemerintahan Prabu Brawijaya V yang agung. Selain itu, nama bangunan ini diambil dari bahasa Jawa yang memiliki arti jelas atau pandangan yang luas. Dengan demikian, para pengunjung dapat secara langsung melihat pemandangan alam secara leluasa dari atas bangunan suci tersebut.
Di samping itu, kompleks peninggalan ini memiliki arsitektur unik berupa punden berundak yang mirip dengan bangunan prasejarah. Sejalan dengan itu, bentuk struktur berteras ini sangat berbeda dengan bentuk peninggalan bangunan suci lain di Jawa Tengah. Akibatnya, banyak peneliti sering membandingkan gaya arsitektur bangunan sakral ini dengan kebudayaan suku Maya di benua Amerika.
Baca juga: Sejarah Candi Bajang Ratu Majapahit di Mojokerto Jawa Timur
Lebih lanjut, bangunan peninggalan Majapahit ini memiliki fungsi utama sebagai tempat peruwatan untuk membersihkan diri dari bahaya kutukan. Tentu saja, fungsi sakral tersebut sangat terlihat jelas dari keberadaan relief cerita Sudamala dan juga ukiran cerita Garudeya. Pada akhirnya, Prabu Brawijaya V juga diyakini melakukan moksa di tempat suci ini setelah selesai melakukan proses penyucian.
Selanjutnya, relief hewan berbentuk katak dan ketam pada bangunan ini membentuk suryasengkala yang bernilai sejarah tinggi. Pastinya, angka tahun pada sengkalan memet tersebut secara jelas merujuk pada tahun seribu empat ratus lima puluh satu masehi. Begitu pula, ukiran kura-kura raksasa di teras bangunan dipercaya sebagai lambang kuatnya dasar penciptaan alam semesta nusantara.
Arca Dua Tokoh Majapahit
Kemudian, monumen bersejarah ini juga menyimpan arca Sabdapalon dan Nayagenggong sebagai dua tokoh penasihat spiritual raja Majapahit. Singkatnya, kedua tokoh penting tersebut merupakan abdi setia dari sang raja yang selalu menjaga ajaran luhur budaya. Bahkan, umat beragama dan penganut aliran kepercayaan setempat masih sering menggunakan tempat ini untuk melakukan upacara ritual.
Baca juga: Sejarah Candi Tikus Peninggalan Majapahit di Trowulan Mojokerto
Kesimpulannya, nilai luhur sejarah Candi Cetho selalu menghadirkan banyak pesan moral kehidupan dan kekayaan tradisi lokal yang bermakna. Tambahan pula, keberadaan arca lingga dan yoni di tempat suci ini menjadi sebuah lambang kesuburan alam semesta seutuhnya. Oleh karenanya, masyarakat sangat diwajibkan untuk terus menjaga kelestarian monumen sakral peninggalan peradaban nusantara kuno ini selamanya abadi. (Muhafid/R6/HR-Online)

16 hours ago
12

















































