Sejarah Transportasi Laut Pangandaran dan Insiden Karamnya Kapal Mij Soekapoera

12 hours ago 12

harapanrakyat.com,- Mengulik sejarah transportasi laut Pangandaran memberikan gambaran masa lalu yang sangat penting untuk ilmu pengetahuan. Pada awal abad ke-20, kawasan pesisir selatan ini mulai perlahan terbuka. Sebelum jalur kereta api beroperasi, angkutan air menjadi urat nadi pergerakan masyarakat.

Baca juga: Mengungkap Jejak Sejarah Kuno Pangandaran Tahun 1724 dan Pembukaan Kawasan di Awal Abad ke-20 

Pemerintah kolonial Hindia Belanda menyadari besarnya peluang ekonomi di pesisir ini. Jalur laut dianggap sangat krusial untuk menghubungkan berbagai wilayah yang terisolasi jauh. Eksplorasi maritim awal mendorong munculnya berbagai layanan kapal penumpang dan barang dagangan.

Sejarah Kapal Mij Soekapoera, Transportasi Vital di Laut Pangandaran 

Dalam surat kabar Algemeen Handelsblad yang terbit 07 Februari 1917 menyebutkan, perusahaan Mij Soekapoera hadir sebagai pelopor utama layanan perahu motor komersial publik. Mereka membuka layanan pelayaran harian dari Tjilatjap menuju pelabuhan kecil wilayah Kalipoetjang. Rute pelayaran kapal ini membelah kawasan perairan Segara Anakan.

Kemudian, kapal motor tersebut mengangkut muatan kopra, rotan, padi serta berbagai hasil bumi lainnya. Sementara itu, penduduk lokal maupun pedagang memanfaatkan kapal ini untuk bepergian pada setiap hari. Kehadiran armada Soekapoera ini diklaim berhasil membebaskan hasil panen penduduk dari permainan harga tengkulak.

Masih dari sumber yang sama, perjalanan kapal melintasi perairan rawa pasang surut ini memakan waktu 4 jam. Namun, kapal sering melambatkan kecepatan saat melewati area pemukiman panggung di atas air. Para pencari ikan juga sering melompat ke atas kapal yang sedang melaju perlahan.

Baca juga: Teluk Mauritsbaai, Sejarah Nama Pantai Pangandaran di Zaman Kolonial Belanda yang Nyaris Terlupakan

Sementara itu, dalam laporan Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië pada 14 Februari 1919 mengungkapkan, layanan angkutan air ini bahkan sempat diperluas rutenya hingga Batoe Karas Kecamatan Cijulang

Namun, lantaran kurangnya fasilitas tempat berlabuh yang tenang membuat rute tersebut akhirnya segera dihentikan. Meski begitu, perusahaan pelayaran ini tetap fokus melayani pergerakan penumpang menuju pelabuhan Teluk Mauritsbaai atau Pantai Timur Pangandaran saat ini.

Insiden Kapal Karam dan Sambungan Rel Kereta

Mengarungi perairan laut selatan Jawa ternyata memiliki tingkat bahaya alam sangat tinggi. Bulan Juli tahun sembilan belas dua puluh mencatat sebuah kecelakaan lautan tragis. Berdasarkan tulisan De avondpost pada 01 September 1920, mengabarkan jika Kapal Soekapoera pecah menabrak karang saat baru meninggalkan kawasan Teluk Mauritsbaai.

Saat itu, kapal nahas tersebut sedang membawa 60 penumpang serta muatan penuh kopra. Dari total penumpang yang ada, hanya tiga orang yang berhasil selamat dari keganasan gelombang samudra laut tersebut. Dari peristiwa memilukan ini, menggambar betapa berbahayanya pelayaran menyusuri pesisir selatan pulau Jawa.

Di sisi lain, bersamaan dengan dinamika angkutan perairan, pemerintah kolonial saat itu sedang giat membangun jalur transportasi darat berupa rel kereta. 

De Preanger bode menerbitkan berita pada 17 Agustus 1921 bahwa perusahaan Staatsspoorwegen merintis pembuatan rel kereta api menuju Parigi melalui perbukitan kapur. Pembangunan infrastruktur proyek besar ini menelan biaya luar biasa mencapai 9 juta gulden.

Menariknya, armada perusahaan Soekapoera rupanya berperan penting mendukung penyelesaian proyek jalur kereta api. Kapal tersebut ternyata juga berperan mengangkut material berat untuk pembangunan stasiun langsung dari pelabuhan Tjilatjap. Kerja sama dua jenis moda angkutan ini sangat mempercepat tahapan penyelesaian proyek trem.

Baca juga: Sejarah Pembangunan Jalur Kereta Api Banjar-Pangandaran yang Bikin Bangkrut Pengusaha Swasta

Sehingga, dengan beroperasinya trem uap ini menciptakan persaingan tarif angkutan penumpang maupun harga pengiriman barang. Bahkan, ada yang menyebut terjadi persaingan transportasi antara kapal laut dan kereta di Pangandaran saat itu. Apalagi pengiriman hasil panen kopra dalam jumlah besar mulai beralih menggunakan gerbong kereta.

Sebagaimana diketahui, hadirnya angkutan kereta api secara perlahan mulai menggantikan peran dominan perahu perintis perairan. Meski begitu, pelayaran menyusuri teluk selatan ini akhirnya menjadi kenangan masa kolonial yang berharga. Dari catatan sejarah transportasi laut Pangandaran ini membuktikan gigihnya upaya peradaban menaklukkan pesisir selatan. (Muhafid/R6/HR-Online)

Read Entire Article
Perayaan | Berita Rakyat | | |