Ancaman Tuberkulosis Resisten Obat Mengintai, RSUD Pandega Pangandaran Genjot Edukasi Publik Lewat Program Ngobatan

5 hours ago 5

harapanrakyat.com,- Upaya menekan laju penyebaran penyakit menular terus digencarkan oleh RSUD Pandega Pangandaran. Melalui program inovatif bertajuk NGOBATAN (Ngobrol Bareng Seputar Kesehatan) belum lama ini, rumah sakit pelat merah ini secara konsisten mendekatkan layanan edukasi medis kepada masyarakat luas. Kali ini, topik krusial mengenai kesehatan paru diangkat dengan mengusung tema spesifik, yakni “Kenali Tuberkulosis Resisten Obat”.

Baca Juga: RSUD Pandega Pangandaran Ingatkan Bahaya Leptospirosis, Kenali Gejala dan Langkah Pencegahannya

Hadir sebagai narasumber utama dalam sesi diskusi tersebut adalah Dokter Spesialis Penyakit Dalam RSUD Pandega Pangandaran, dr. Erisanti Nurfarida. Narasumber membedah tuntas bahaya serta pencegahan resistensi obat pada pasien tuberkulosis (TBC).

Kenali Bahaya Tuberkulosis Resisten Obat

Erisanti menjelaskan, bahwa Tuberkulosis Resisten Obat (TB RO) adalah kondisi medis yang patut diwaspadai. Keadaan ini terjadi ketika kuman Mycobacterium tuberculosis, sebagai bakteri penyebab utama TBC, sudah kebal dan tidak lagi mempan terhadap regimen obat anti-TBC (OAT) lini pertama yang biasa digunakan.

Menurutnya, kekebalan bakteri tersebut bukanlah tanpa sebab. Sebagian besar kasus TB RO dipicu oleh ketidakdisiplinan pasien selama menjalani masa penyembuhan.

  • Pengobatan yang tidak tuntas
  • Penggunaan obat yang tidak sesuai dengan petunjuk medis
  • Penghentian terapi secara sepihak sebelum waktunya akibat merasa tubuh sudah membaik

“Tuberkulosis resisten obat sebenarnya sangat dapat dicegah apabila pasien konsisten menjalani pengobatan secara teratur, patuh pada anjuran tenaga kesehatan. Kemudian, tidak menghentikan konsumsi obat meskipun gejala fisik sudah mulai mereda,” tegasnya.

Baca Juga: Stop Asal Minum Obat Tanpa Resep! Apoteker RSUD Pandega Pangandaran Ungkap Risikonya

Lebih lanjut ia mengingatkan, bahwa penanganan TBC memerlukan tingkat kedisiplinan yang sangat tinggi dari pasien maupun pengawas menelan obat (PMO). Sebab, durasi terapi medis ini tergolong panjang.

Apabila pasien mangkir atau abai di tengah jalan, bakteri di dalam tubuh berisiko mengalami mutasi menjadi kebal. Sehingga, proses penyembuhan di masa mendatang akan jauh lebih rumit, memakan waktu lebih lama, dan berbiaya tinggi.

Segera Periksakan

Selain menyoroti pentingnya kepatuhan minum obat, dr. Erisanti juga mengimbau masyarakat agar tidak mengabaikan berbagai tanda klinis awal yang mengarah pada infeksi TBC. Deteksi secara dini menjadi benteng pertahanan utama untuk memutus rantai penularan di lingkungan sosial.

Masyarakat diminta untuk segera mendatangi fasilitas kesehatan terdekat apabila mengalami sejumlah gejala khas, antara lain:

  1. Batuk persisten yang berlangsung lebih dari dua minggu.
  2. Penurunan berat badan secara drastis tanpa sebab yang jelas.
  3. Demam berkepanjangan yang kerap hilang timbul.
  4. Keringat berlebih pada malam hari kendati berada di ruangan yang sejuk.
  5. Rasa lelah dan lesu yang amat sangat (mudah lelah).

Baca Juga: Nyeri Leher Bukan Cuma Kelelahan, Simak Penjelasan Lengkap Fisioterapis RSUD Pandega

“Deteksi dini yang akurat diikuti dengan pemberian pengobatan yang tepat adalah kunci utama. Langkah ini tidak hanya menyelamatkan nyawa pasien dari risiko komplikasi berat, tetapi juga efektif menekan laju penularan kepada orang-orang terdekat di sekitarnya,” imbuhnya. (Adi/R5/HR-Online)

Read Entire Article
Perayaan | Berita Rakyat | | |