Di Pendopo Kota Bandung, PIM Jawa Barat Ajak Generasi Muda Cintai dan Bangga pada Kebaya

9 hours ago 8

harapanrakyat.com,- Alunan musik nan lembut dan derap langkah ratusan perempuan berbusana anggun, menghidupkan suasana bersejarah di Pendopo Kota Bandung, Jawa Barat. Balutan kebaya klasik beragam corak daerah berpadu elok dengan hamparan kain tradisional, menciptakan pemandangan budaya yang memikat dalam puncak peringatan Hari Kebaya Nasional.

Baca Juga: Desa Hantu Cicadas: Ikon Wisata Horor Baru yang Menggerakkan Ekonomi Kreatif Bandung

Helatan sederhana tapi sarat makna membuat sajian Kebaya Menari, diskusi budaya hingga parade pamer busana kian terasa hangat. Sajian itu berlangsung berkat kolaborasi DPD Perempuan Indonesia Maju (PIM) Jawa Barat berkolaborasi Yayasan Mestika Wanodja. 

Alasan Memilih Pendopo Kota Bandung untuk Peringatan Hari Kebaya Nasional

Penyelenggara sengaja memilih cagar budaya Pendopo Kota Bandung sebagai lokasi acara, agar nilai historis dan marwah kebudayaan kebaya terasa kian membekas di hati masyarakat.

Ketua DPD PIM Jawa Barat, Osye Anggandarri mengatakan, pelestarian busana warisan leluhur di era modern membutuhkan pendekatan kultural yang persuasif. Terutama saat merangkul generasi muda.

Baca Juga: Ritual Ngala Cai Kukulu, Warisan Kerajaan Pajajaran di Kampung Budaya Sindang Barang

Ia menilai, pemaksaan gaya berpakaian kurang efektif dibanding pemberian edukasi serta keteladanan secara konsisten.

“Ini puncak peringatan, kalau Hari Kebaya Nasional itu 24 Juli. Kami memilih tempat yang bersejarah seperti ini agar kesan warisan kebaya ini dapat terasa. Kami lihat anak muda sekarang, memang harus sabar dan paham bahwa zaman berubah. Tidak bisa memaksa, tapi perlahan sudah mulai mengenakan kebaya,” kata Osye di sela-sela acara di Pendopo Kota Bandung, Sabtu (25/7/2026).

Membumikan Kebaya Lewat Komitmen Harian dan Dukungan Komunitas

Dewan Penasihat PIM Jabar, Kikit Wirianti Sugata menambahkan, untuk merawat tradisi agar tidak sekadar menjadi ajang seremonial. PIM Jawa Barat memelopori gerakan wajib berkebaya minimal satu hari dalam sepekan bagi seluruh anggotanya.

Ia menekankan, edukasi publik harus dibarengi dengan pemahaman pakem berbusana yang benar, yakni memadukan kebaya dengan kain nusantara dan bukan celana.

“Sudah sepakat, kami akan mengenakan kebaya satu kali dalam satu pekan. Tapi pemakaian kebaya harus dengan kain, bukan celana. Kami ingin budaya ini tetap terjaga,” kata Kikit.

Senada dengan itu, Ketua Komunitas Kebaya Indonesia (KCBI), Yeyen Komar menilai, benih kecintaan terhadap busana daerah kini mulai tumbuh sejak usia dini.

Salah satunya dipicu oleh tradisi wisuda sekolah dan mewajibkan siswi mengenakan kebaya. Dengan begitu, ia berharap pemerintah dan elemen masyarakat dapat berjalan berdampingan dalam mengawal pemajuan kebudayaan lokal. 

“Anak-anak sekarang sudah mulai pakai kebaya, mereka terlihat cantik. Kami akan konsisten melestarikan budaya dan seni angklung,” ujar Yeyen.

Ketua Panitia Pelaksana, Tike Dwi C, memastikan gelora cinta kebaya akan terus dirawat melalui berbagai agenda kreatif.

Baca Juga: Cari Agenda Akhir Pekan di Jawa Barat? Yuk ke PKJB 2026, Bisa Belanja hingga Wisata Kerajinan Gratis

Setelah acara di Pendopo Kota Bandung, terdekat, pihaknya berencana melangsungkan ajang perlombaan kebaya bagi kalangan remaja pada peringatan HUT Ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia mendatang. (Reza/R5/HR-Online/Editor: Adi Karyanto) 

Read Entire Article
Perayaan | Berita Rakyat | | |