Perjalanan kuliner merakyat yang kini menjamur di kota-kota besar bermula dari sebuah desa di Klaten, Jawa Tengah, dan kini terdokumentasikan dengan baik di Museum Angkringan. Berawal dari semangat bertahan hidup seorang pemuda asal Desa Ngerangan bernama Karso Jukut pada tahun 1930-an, angkringan kini telah diakui secara resmi sebagai Warisan Budaya Tak Benda.
Akar sejarah ini bermula ketika Karso merantau ke Solo dan mulai menjajakan minuman hangat serta makanan dengan cara dipikul.
Mengenal Filosofi Sego Kucing di Museum Angkringan
Sejarah mencatat bahwa pada tahun 1943, inovasi muncul saat Karso mulai menambahkan cerek berisi kopi dan jahe pada pikulannya. Istilah “angkring” sendiri lahir dari kebiasaan pelanggan yang menikmati sajian sambil duduk bebas atau “nangkring” di atas bangku kecil.
Seiring berjalannya waktu, tradisi ini berkembang dari penggunaan pikulan kayu menjadi gerobak dorong yang mulai populer secara nasional sejak tahun 1975.
Baca Juga: Wedang Dongo Keprabon, Kuliner Legendaris Solo yang Hangatkan Malam Sejak 1963
Selain menyajikan sejarah fisik, pengunjung dapat memahami makna mendalam dibalik menu ikonik seperti Sego Kucing saat mempelajari koleksi di Museum Angkringan.
Nama “Sego Kucing” muncul karena porsinya yang kecil menyerupai porsi makan kucing. Meski begitu, porsinya lengkap dengan lauk sederhana berupa sambal dan ikan asin (gereh pindang). Lebih dari sekadar tempat makan murah, angkringan telah bertransformasi menjadi ruang publik egaliter yang menjunjung tinggi komunikasi tatap muka di tengah modernitas.
Keberadaan tempat tersebut di kota-kota besar kini berfungsi sebagai oase sosial. Di mana tidak ada sekat kelas antara mahasiswa, pengemudi ojek, hingga pejabat. Mereka duduk berdampingan di bangku yang sama tanpa perlakuan istimewa. Sebuah kontras yang tajam dengan suasana cafe modern yang cenderung individualis.
Baca Juga: Pesona Rasamadu Heritage di Sukoharjo, Wajah Baru Wisata Klasik Bergaya Eropa
Sebagai upaya melestarikan sejarah panjang ini, Pemerintah Kabupaten Klaten telah meresmikan Museum Angkringan di Desa Ngerangan pada tahun 2020.
Destinasi wisata sejarah ini tidak hanya menampilkan replika alat jualan dari masa ke masa. Tetapi juga menjadi simbol kebanggaan bagi sekitar 600 hingga 700 kepala keluarga di Desa Ngerangan. Hingga kini mereka masih menggantungkan hidupnya dari warisan budaya “wong cilik” tersebut. (R3/HR-Online/Editor: Eva)

8 hours ago
8

















































