Fosil Chiniquodon theotonicus menunjukkan bagaimana evolusi melahirkan spesies mamalia. Sebagaimana kita ketahui bahwa sebagian besar mamalia yang hidup di era modern saat ini berkembang biak melalui proses melahirkan. Akan tetapi, kalangan ilmuwan belum mengetahui sebenarnya kapan cara perkembangbiakan tersebut pertama kali terjadi.
Baca Juga: Penemuan Fosil Musango matusadonaensis, Spesies Dinosaurus Baru di Zimbabwe
Ternyata rasa penasaran ilmuwan sedikit terjawab saat meneliti fosil spesies purba yang satu ini. Hal ini karena fosil tersebut bisa jadi petunjuk baru tentang perjalanan evolusi mamalia. Berikut uraian selengkapnya.
Fosil Chiniquodon theotonicus Ungkap Evolusi Mamalia
Fosil spesies purba yang satu ini sebenarnya sudah ditemukan sejak tahun 2011. Penemuannya di Taman Nasional Talampaya yang ada di Argentina. Saat awal penemuannya, ternyata tak sengaja.
Penemuannya terjadi dalam kelas pascasarjana yang ada di Universitas Buenos Aires di Argentina. Di saat itulah para mahasiswa mengamati potongan tipis dari tulang kaki fosil tersebut. Pengamatannya menggunakan mikroskop.
Dalam pengamatan ini, terungkap bahwa spesies purba tersebut adalah salah satu jenis sinodon. Hal ini berarti kelompok spesies hewan purba yang mirip mamalia dan dekat dengan garis evolusi ke mamalia modern. Dalam penelitian yang mendalam juga mengungkap bahwa spesies tersebut diperkirakan hidup berkisar 236 juta tahun lalu.
Karakteristik Chiniquodon theotonicus
Walaupun sudah lama ditemukan, namun penelitian tentang fosil Chiniquodon theotonicus masih jadi sorotan hingga sekarang. Hal ini tak terkecuali dengan karakteristiknya. Ternyata spesies purba tersebut memiliki ukuran yang besar ketika bayi.
Baca Juga: Peneliti Temukan Jejak Kumbang Pemakan Bangkai pada Fosil Titanosaurus
Kalangan peneliti yang dipimpin oleh paleontolog bernama Leandro Gaetano memperkirakan ukuran tubuh hewan tersebut saat baru lahir. Dijelaskan bahwa bobotnya berkisar 1,7 kg. Sementara itu, berat tubuhnya saat mati kemungkinan mencapai 12 kg.
Apabila dugaan tersebut benar adanya, berarti berat tubuhnya ketika lahir berkisar 14% dari beban tubuhnya saat sudah dewasa. Karena kisaran tersebut, fosil Chiniquodon theotonicus ini cenderung mendekati pola pada mamalia plasenta modern. Untuk mamalia plasenta modern tersebut memiliki rasio sampai 18,77%.
Dengan bobot tersebut, ukuran bayi spesies purba ini kemungkinan hampir mirip bayi duiker teluk. Duiker teluk itu sendiri ialah sejenis antelop berukuran kecil dan hidupnya di kawasan Afrika.
Selain itu, kalangan mahasiswa juga menemukan adanya garis pertumbuhan tak biasa yang ada di dalam tulangnya. Ada garis gelap yang ukurannya sangat kecil. Pada akhirnya, hal tersebut diidentifikasi jadi garis neonatal.
Mengenal Garis Neonatal
Keberadaan garis neonatal yang terungkap lewat proses penelitian spesies purba tersebut memang mengejutkan. Hal ini karena garis neonatal biasanya terbentuk saat tubuh alami tekanan metabolik besar selama proses kelahiran. Oleh karena itu, garisnya bisa jadi batas jaringan tulang yang terbentuknya sebelum maupun sesudah hewan terlahir.
Karena ada garis neonatal tersebut, lantas memunculkan dugaan bahwa spesies purba ini berkembang biak dengan cara melahirkan. Hal ini tentu menepis anggapan kalangan ilmuwan tentang kemungkinan perkembangbiakannya dengan cara bertelur. Dugaan ini semakin kuat apabila meninjau ukuran tubuh spesies purba tersebut ketika baru saja lahir tadi.
Perubahan Evolusi Cara Melahirkan
Penemuan dan penelitian fosil Chiniquodon theotonicus jadi petunjuk baru mengenai awal mula kelahiran pada nenek moyang mamalia. Dalam penemuan tersebut, memang memperlihatkan bahwa nenek moyang spesies hewan mamalia sudah mempunyai mekanisme produksi yang jauh lebih canggih di awal. Hal ini jauh lebih awal dari perkiraan yang selama ini diyakini oleh kalangan ilmuwan.
Maka dari itu, penemuan tersebut mampu mengubah pemahaman mengenai evolusi kapan mamalia mulai berkembang biak dengan cara melahirkan. Kemampuan ini mungkin saja sudah berkembang sekitar 90 sampai 95 juta tahun lebih awal. Dalam perkiraan sebelumnya, ilmuwan menyebut sekitar 160 juta tahun lalu. Penelitian ini sendiri sudah terpublikasi di jurnal Frontiers in Mammal Science.
Akan tetapi, penemuan ini belum jadi bukti akhir. Hal ini karena sebagian ilmuwan masih memiliki pendapat tersendiri bahwa perubahan evolusi mamalia tak secepat asumsi berdasarkan data fosil tersebut. Oleh karena itu, tentu masih membutuhkan penelitian secara lebih lanjut untuk benar-benar membuktikannya.
Baca Juga: Penemuan Bersejarah Fosil Ular Zaman Kapur dengan Kualitas Tiga Dimensi
Terlepas dari hal itu, penemuan sekaligus penelitian terhadap fosil Chiniquodon theotonicus memang mengejutkan. Hal ini karena fosil Chiniquodon theotonicus bisa jadi petunjuk baru tentang kapan mamalia mulai berkembang biak dengan cara melahirkan. Menariknya lagi karena fosilnya sudah berusia 236 juta tahun lalu. (R10/HR-Online)

4 hours ago
5

















































