Kabupaten Klaten terus membuktikan daerahnya sebagai gudang destinasi wisata unik yang memadukan keindahan alam dan nilai sejarah. Salah satu objek wisata yang belakangan ini menjadi “hidden gem” viral adalah Bukit Patrum di Dukuh Mojopereng, Desa Krakitan, Kecamatan Bayat.
Destinasi unik ini menawarkan lanskap perbukitan kapur eksotis yang kini bertransformasi menjadi spot foto favorit wisatawan.
Bukit Patrum Klaten Saksi Bisu Industri Tambang Kolonial
Baca Juga: Tempat Wisata di Bandung Selatan, Ini Pilihan Destinasi Hits dan Hidden Gem
Dibalik keindahan tebing kapurnya yang tegak lurus menyimpan jejak sejarah panjang sejak zaman penjajahan Belanda. Berdasarkan dokumen sejarah, bukit ini dulunya merupakan lahan penambangan batu gamping milik perusahaan N.V. Klaten yang sudah terhubung dengan rel lori sejak tahun 1912.
Hasil penambangan dari bukit tersebut diangkut menggunakan lori atau “sepur montit” untuk memasok kebutuhan pemutihan cairan tebu di Pabrik Gula Gondang Winangoen, dan Pabrik Gula Ceper.
Nama “Patrum” sendiri konon berasal dari istilah “Pabrik Trum” atau kata “patrum” yang merujuk pada jenis bahan peledak atau amunisi yang digunakan dalam proses penambangan batu kapur yang sangat keras.
Misteri “Omah Demit” di Atas Tebing
Daya tarik utama yang membuat Bukit Patrum unik adalah keberadaan sebuah bangunan kecil berukuran 3×3 meter yang bertengger di puncak tebing setinggi 30 hingga 40 meter. Masyarakat setempat sering menjuluki bangunan misterius ini dengan sebutan “Omah Demit” atau rumah hantu.
Namun, secara historis bangunan tersebut merupakan bekas gudang dinamit yang sengaja dibangun terpisah dari area utama untuk alasan keamanan saat aktivitas peledakan bukit masih berlangsung.
Struktur bangunan tua yang masih kokoh itu kini menjadi latar belakang foto favorit bagi para pecinta fotografi. Karena memang memberikan kesan vintage dan klasik.
Penetapan Sebagai Warisan Geologi (Geoheritage)
Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah menetapkan Bukit Patrum sebagai salah satu dari 13 situs Warisan Geologi (Geoheritage) di Kabupaten Klaten.
Baca Juga: Pesona Gunung Buleud, Perpaduan Jejak Sejarah Dunia dan Keindahan Alam di Perbatasan Bandung
Keputusan ini berdasarkan pada nilai saintifik batugamping berlapis yang ada di lokasi tersebut, yang sudah mendapat pengakuan nasional maupun internasional.
Penetapan ini menjadi langkah awal pengembangan kawasan Bayat menuju status Geopark Nasional. Lokasi ini berharap dapat terus berfungsi sebagai laboratorium alam bagi pendidikan kebumian, serta penelitian geologi masa depan.
Spot Foto Photorium dan Ragam Aktivitas
Resmi dibuka sebagai objek wisata pada 28 Oktober 2017 oleh Menteri Desa, Eko Putro Sandjojo, Bukit Patrum kini mengusung konsep Photorium. Selain berburu foto di sisa-sisa reruntuhan pabrik kapur, pengunjung juga dapat melakukan trekking ringan, berkemah (camping). Hingga menikmati pemandangan sunrise dan sunset yang spektakuler dari puncak bukit.
Dari ketinggian, wisatawan akan menikmati pemandangan hamparan persawahan hijau dan pemandangan luas yang menenangkan, jauh dari hiruk-pikuk kota.
Bagi Anda yang berencana berkunjung, lokasi Bukit Patrum jaraknya sekitar 1 jam perjalanan dari pusat Kota Solo maupun Yogyakarta. Destinasi ini juga berdekatan dengan objek wisata populer lainnya di Klaten. Seperti Rowo Jombor dan Bukit Sidoguro.
Harga tiket masuk bukit tersebut sangat terjangkau, yakni hanya Rp 5.000 per orang. Untuk biaya parkir kendaraan, pengunjung cukup bayar Rp 2.000 untuk sepeda motor, dan Rp 5.000 untuk mobil.
Baca Juga: Desa Wisata Cibiru Wetan, Padukan Keindahan Alam dan Edukasi
Fasilitas di sekitar lokasi tergolong sederhana namun cukup memadai. Mulai dari area parkir luas, toilet, hingga warung makan milik warga lokal.
Jangan lupa untuk mengenakan alas kaki yang nyaman untuk mendaki dan mengunjungi tempat ini saat cuaca cerah agar dapat menikmati panorama alam Klaten secara maksimal. (R3/HR-Online/Editor: Eva)

5 hours ago
3

















































