Sejarah PLTU Suralaya kembali jadi perhatian masyarakat pasca isu terkait pasokan listrik dan gangguan kelistrikan beberapa waktu terakhir. Keberadaan PLTU Suralaya tidak hanya menarik dari sisi kapasitas besar, tetapi juga latar belakang sejarah pembangunannya. Fasilitas ini lahir pada masa Orde Baru era Soeharto ketika Indonesia tengah gencar membangun berbagai infrastruktur.
Baca Juga: Kisah Kelam Peragawati Ditje Budiarsih pada Masa Orde Baru di Jalan Dupa
Khususnya dalam rangka mendukung pertumbuhan ekonomi sekaligus industrialisasi. Hingga kini, pembangkit tersebut masih menjadi bagian penting dari sistem kelistrikan nasional. Perannya sangat strategis karena menyuplai energi bagi kawasan dengan tingkat konsumsi listrik tertinggi di Indonesia, yakni Jawa-Bali.
Sejarah PLTU Suralaya dari Era Orde Baru hingga Jadi Tulang Punggung Listrik Nasional
PLTU Suralaya atau PLTU Banten 1 berlokasi di Kecamatan Pulo Merak, Kota Cilegon, Provinsi Banten. Lokasinya berada sekitar 7 kilometer dari Pelabuhan Merak. Letaknya tidak jauh dari kawasan industri maupun pusat pembangkit lainnya di wilayah tersebut. Keberadaan PLTU ini dipilih karena letaknya strategis untuk distribusi energi ke sistem Jawa-Bali.
Selain itu, akses terhadap jalur logistik batu bara juga menjadi pertimbangan utama dalam pengembangan proyek. Dengan kapasitas mencapai 3.500 Megawatt (MW), PLTU Suralaya menjadi salah satu pemasok listrik terbesar di Indonesia. Kapasitasnya memungkinkan pembangkit menyumbang sekitar 25 persen kebutuhan listrik di jaringan Jawa-Bali pada masa operasional puncaknya.
Baca Juga: Latar Belakang Tritura sebagai Tonggak Sejarah Lahirnya Orde Baru
Untuk menghasilkan listrik dalam jumlah besar, kebutuhan bahan bakarnya juga sangat tinggi. Konsumsi batu bara di sini kerap mencapai sekitar 32.000 ton per hari. Angka itu menunjukkan betapa vitalnya pembangkit Suralaya dalam menjaga stabilitas pasokan listrik nasional. Adapun area tempat PLTU berdiri seluas lebih dari 240 hektare.
Pembangunan Bertahap Sejak 1980-an
Sejarah pengembangan PLTU Suralaya tidak berlangsung sekaligus, melainkan melalui beberapa tahapan selama puluhan tahun. Tahap pertama mulai pada awal dekade 1980-an sebagai bagian dari program percepatan pembangunan infrastruktur energi nasional. Unit pertama pembangkit mulai menghasilkan listrik pada Agustus 1984.
Setahun kemudian, tepatnya pada 11 Agustus 1985, Presiden Soeharto meresmikan unit tersebut. Ini sebagai bagian dari pengoperasian resmi PLTU Suralaya. Keberhasilan tahap awal mendorong pemerintah melanjutkan pembangunan unit-unit berikutnya. Soeharto sangat berambisi negara bisa membangun PLTU berskala mega.
Tahap kedua berlangsung pada tahun 1989, disusul tahap ketiga pada 1997. Penambahan kapasitas secara bertahap ini bertujuan untuk menyesuaikan pertumbuhan kebutuhan listrik yang terus meningkat di Pulau Jawa. Apalagi dengan berkembangnya kawasan industri dan meningkatnya jumlah penduduk.
Penyelesaian Unit Terakhir pada Era SBY
Meskipun proyeknya berakar dari kebijakan pembangunan era Orde Baru, proses pengembangannya berlanjut hingga beberapa dekade setelahnya. Tahap keempat pembangunan menjadi penutup dari rangkaian ekspansi PLTU Suralaya. Unit tambahan pada fase terakhir mulai beroperasi pada tahun 2011, saat pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
Dengan beroperasinya unit baru tersebut, kapasitas pembangkit semakin besar. Sekaligus memperkuat posisi PLTU Suralaya sebagai pemasok utama listrik untuk sistem Jawa-Bali. Penyelesaian tahap akhir ini menunjukkan bahwa proyek energi berskala besar membutuhkan waktu panjang untuk mencapai kapasitas optimal.
Nilai Investasi Fantastis dan Jadi yang Terbesar di Asia Tenggara
Sejarah PLTU Suralaya juga melejit berkat nilai investasinya yang sangat besar pada masa pembangunan. Proyek ini berlangsung di bawah komando PT PLN bersama sejumlah perusahaan internasional dan nasional. Semua perusahaan yang terlibat tergabung menjadi satu dalam konsorsium.
Beberapa perusahaan yang terlibat berasal dari China. Termasuk China National Technical Import and Export Corporation (CNTIC) dan China National Machinery Import and Export Corporation. Ada juga kerja sama dari Zhejiang Electric Power Design Institute. Dari dalam negeri, proyeknya mendapat dukungan PT Rekayasa Industri.
Adapun total investasi untuk pembangunan tahap besar proyek ini mencapai sekitar Rp4,08 triliun. Nilai tersebut tergolong sangat besar pada masanya sekaligus mencerminkan ambisi pemerintah untuk memperkuat sektor ketenagalistrikan nasional. Berkat kapasitas besar, PLTU Suralaya tidak hanya menjadi salah satu pemasok listrik terbesar di Indonesia, tetapi juga Asia Tenggara.
Baca Juga: Mengenal Sosok Zaharah Zakaria Politikus Era Orde Baru dari Bengkalis Riau
Sejarah PLTU Suralaya tidak dapat terlepas dari perjalanan pembangunan Indonesia pada masa Orde Baru. Dari era Soeharto hingga sekarang, PLTU Suralaya jadi sejarah pentingnya pembangkit listrik tenaga uap. Khususnya dalam mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus industrialisasi ketenagalistrikan nasional. (R10/HR-Online)

8 hours ago
7

















































