Simpangsche Societeit Surabaya, Jejak Kaum Elit Kolonial Belanda

12 hours ago 4

Balai Pemuda atau Simpangsche Societeit Surabaya terkenal sebagai bangunan penting bagi masyarakat di Kota Pahlawan tersebut. Menilik dari catatan sejarah kolonial Belanda, sebelum menjadi pusat aktivitas budaya, gedung ini disebut sebagai “Simpang Club”, tempat kaum elit Belanda dan Eropa untuk bersenang-senang pada masa penjajahan. Kini, gedung yang berdiri di Jalan Gubernur Suryo No 15 ini berguna sebagai ajang kreativitas untuk memperkenalkan budaya bagi masyarakat. 

Baca Juga: Sejarah Benteng Fort Willem I Ambarawa Sebagai Jejak Peninggalan Hindia Belanda di Jawa Tengah

Menelusuri Jejak Simpangsche Societeit Surabaya pada Masa Belanda

Frank Clune dalam buku Surabaya: Di mana Kau Sembunyikan Nyali Kepahlawananmu? karya Ady Setyawan, mencatat bahwa Simpang Club atau Simpangsche Societeit populer sebagai tempat eksekutif dan mewah pada masanya. Tempat ini menjadi ajang pertemuan bagi tokoh kolonial Belanda dan tamu dari negara Eropa lainnya. Di tempat tersebut, mereka berkumpul untuk bermain tenis, kartu, billiart atau melakukan aktivitas lain, seperti dansa. 

Sejarah Gedung Simpangsche Societeit

Dalam sejarahnya, gedung Simpangsche Societeit menyimpan berbagai kisah menarik dari era kolonial hingga masa modern. Sejarah gedung ini bermula pada tahun 1970. Pada saat itu, pembangunan gedung berlangsung di bawah pemerintah kolonial Belanda dengan nama De Simpangsche Societeit, sebelum akhirnya terkenal sebagai Balai Pemuda. 

Simpangsche Societeit memiliki nilai arsitektur dan sejarah yang begitu penting. Pada masa itu, gedung berguna sebagai pertemuan sosial bagi masyarakat kelas atas. Gedung juga difungsikan sebagai tempat hiburan bagi kolonial Belanda kelas atas yang saat itu tinggal di Surabaya. 

Sekilas, arsitektur Simpangsche Societeit Surabaya tampak bergaya kolonial dengan elemen yang mencerminkan budaya Eropa. Mulai dari penggunaan jendela besar, ornamen dekoratif indah hingga pilar-pilar yang kokoh. Letaknya yang begitu strategis di pusat kota menjadikan gedung ini sebagai ikon yang mudah untuk diakses. 

Dulunya, di halaman gedung terdapat dua papan hitam bertuliskan sebuah kalimat menggunakan cat putih. Tulisannya adalah “Verboden voor Inlander en hond!”, artinya dilarang masuk bagi pribumi anjing. 

Tulisan tersebut dinilai merendahkan, rasialis dan sangat diskriminatif. Meskipun begitu, tulisan ini juga mendapat kritikan dan protes keras dari beberapa tokoh Belanda. Sayangnya, bukti tulisan tersebut sudah tidak ada. Papan sudah tidak terlihat, baik dalam bentuk dokumentasi foto ataupun lainnya. 

Peran Gedung Setelah Indonesia Merdeka

Setelah Indonesia merdeka, Simpangsche Societeit berhasil diambil alih oleh kaum pribumi. Semenjak saat itu, gedung mengalami berbagai perubahan fungsi. Misalnya saja, gedung menjadi tempat berkumpul bagi para pemuda Surabaya pada tahun 1945.

Baca Juga: Agama Penduduk Lakbok Ciamis Tahun 1899 dalam Catatan Peneliti Belanda 

Mereka memanfaatkan gedung untuk menyusun berbagai strategi guna memperjuangkan kemerdekaan. Khususnya pada peristiwa pertempuran yang terjadi pada 10 November. 

Berbagai peran historis tersebut membuat Simpangsche Societeit Surabaya menjadi simbol semangat bagi pemuda untuk melawan penjajahan. Seiring berjalannya waktu, gedung akhirnya mengalami beberapa renovasi untuk menjaga kelestariannya. Kini, Balai Pemuda berguna sebagai pusat seni, budaya dan pucak kegiatan masyarakat Surabaya. 

Di dalamnya, ada banyak fasilitas yang berguna untuk mendukung kegiatan masyarakat. Mulai dari ruang pertunjukan, ruang pameran hingga ruang pertemuan untuk acara diskusi, budaya dan kegiatan komunitas. 

Pernah Jadi Gedung Kesenian Cak Durasim

Seiring berjalannya waktu, Simpangsche Societeit atau Balai Pemuda juga pernah berfungsi sebagai rumah penting bagi Gedung Kesenian Cak Durasim. Saat itu, gedung ini menjadi pusat kegiatan seni dan budaya tradisional dari Jawa Timur. Berbagai pertunjukan dan aktivitas budaya diselenggarakan rutin untuk melestarikan warisan seni dari daerah tersebut. 

Sebagai cagar budaya penting di Surabaya, pemerintah terus berupaya untuk melestarikan Balai Pemuda. Upaya pelestarian tersebut berlangsung untuk mengenang peran penting gedung dalam sejarah perjalanan kota Surabaya. Terlebih, mengingat keberadaan Balai Budaya yang bertujuan untuk memperkaya kehidupan seni dan budaya bagi masyarakat sekitar. 

Baca Juga: Menelusuri Sejarah Cagar Alam Pangandaran yang Diproyeksikan Kolonial Jadi Replika Taman Nasional Yellowstone Amerika Serikat

Balai Pemuda atau Simpangsche Societeit Surabaya menjadi bukti nyata soal pentingnya upaya dalam menjaga warisan budaya. Pelestarian Simpangsche Societeit Surabaya ini menjadi bentuk penghormatan atas perjalanan kota sekaligus kontribusinya dalam mendukung dunia seni dan budaya lokal. Oleh sebab itu, penting untuk turut serta menjaga dan memanfaatkan gedung ini sebagai ruang edukasi, apresiasi seni dan penguatan identitas budaya dari masyarakat sekitar. (R10/HR-Online)

Read Entire Article
Perayaan | Berita Rakyat | | |