Budayawan Pangandaran Soroti Jembatan Sodongkopo: Benarkah Diberi Nama Jaya Perkasa?

17 hours ago 4

harapanrakyat.com,- Media sosial Facebook baru-baru ini diramaikan oleh unggahan akun @Cinta Pangandaran yang menampilkan bangunan Jembatan Sodongkopo di Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat. Dalam unggahan tersebut, jembatan itu disebut dengan nama Jembatan Jaya Perkasa, disertai narasi bahwa keberadaannya memperkuat akses transportasi dan ekonomi masyarakat.

Namun, penyebutan nama Jaya Perkasa tersebut menuai perhatian kalangan budayawan. Budayawan Pangandaran Didin Jentreng, yang akrab disapa Abah Didin mengatakan, bahwa hingga kini belum ada keterangan resmi terkait penamaan jembatan tersebut.

“Ini kan belum ada penjelasan resmi, baru sebatas pamflet di Facebook saja,” kata Abah Didin, Senin 2 Februari 2026.

Baca Juga: Jembatan Sodongkopo Jadi Ikon Baru Pangandaran, Tarik Perhatian Warga dan Wisatawan

Siapa Eyang Jaya Perkasa yang Dibuat Nama untuk Jembatan Sodongkopo Pangandaran?

Ia kemudian menjelaskan, bahwa Eyang Jaya Perkasa merupakan tokoh penting dalam sejarah Kerajaan Sumedang Larang. Jaya Perkasa dikenal sebagai patih dari Prabu Geusan Ulun, sekaligus panglima perang yang memiliki kesaktian dan kegagahan luar biasa saat memerangi pasukan Kesultanan Cirebon.

Menurut kisah sejarah, konflik antara Sumedang Larang dan Kesultanan Cirebon kala itu berakhir dengan kemenangan Jaya Perkasa. Pasukan Cirebon dibuat porak-poranda oleh Jaya Perkasa yang bertempur menggunakan gada setinggi sekitar dua meter.

Dalam perjalanan hidupnya, Eyang Jaya Perkasa juga dikenal memiliki sebuah janji spiritual. Ia menanam tanaman hanjuang di Kutamaya sebagai penanda nasibnya di medan perang. Jika hanjuang itu layu, berarti ia kalah, jika tetap segar, berarti ia menang. Setelah perang dimenangkan, ia kembali ke Kutamaya namun mendapati wilayah tersebut telah kosong ditinggalkan penduduk.

Kecewa dengan keadaan itu, Jaya Perkasa kemudian naik ke Gunung Dayeuh Luhur dan menetap di sana hingga akhir hayatnya. Kini, yang tersisa hanyalah patilasan dan tongkatnya yang dipercaya masih berada di kawasan Dayeuh Luhur.

Berkaitan dengan penamaan jembatan, Abah Didin menyampaikan bahwa masyarakat adat Cijulang sejatinya hanya memberikan usulan, bukan penolakan ataupun paksaan.

“Masyarakat adat menyarankan, karena jembatan ini berada di wilayah Bandara Nusawiru, alangkah baiknya tetap menggunakan nama tempat, yaitu Sodongkopo,” jelasnya.

Baca Juga: Kasus Dugaan Penipuan Gadai Mobil Terbongkar, Polres Pangandaran Tangkap AS yang Kabur Sejak September 2025

Asal Usul Nama Sodongkopo

Ia menjelaskan, bahwa sejak dahulu wilayah tersebut dikenal dengan nama Sodongkopo, yang berasal dari kondisi geografisnya berupa legok menyerupai goa, habitat binatang buas seperti buaya, serta banyaknya pohon kopo di kawasan itu. “Nama itu sudah ada dari dulu,” tegasnya.

Selain itu, apabila pemerintah ingin menggunakan nama tokoh, masyarakat adat Cijulang juga mengusulkan tokoh besa. Tokoh ini memiliki keterkaitan langsung dengan wilayah tersebut, yakni Eyang Prabu Waseh atau dikenal sebagai Sang Seurepan Agung.

Tokoh ini tercatat dalam Babad Kacijulangan dan merupakan putra Prabu Haur Kuning, Raja Pangauban yang berpusat di Ciputrapinggan.

“Terkait penggunaan nama Jaya Perkasa sebenarnya tidak masalah. Hanya saja perlu diperjelas, apakah yang dimaksud itu tokoh dari Sumedang Larang atau sekadar frasa bahasa Indonesia yang bermakna jaya dan perkasa,” jelas Abah Didin.

Ia menambahkan, apabila pemerintah daerah Pangandaran memaknai Jaya Perkasa sebagai simbol harapan akan kejayaan dan keperkasaan masyarakat, khususnya di Cijulang dan umumnya Kabupaten Pangandaran, maka hal tersebut perlu disampaikan secara terbuka.

Baca Juga: Dulu Ramai, Taman Alun-Alun Pangbagea di Parigi Pangandaran Saat Ini Tidak Terawat

“Ini kan baru sebatas usulan. Tidak ada masalah, kami hanya meminta kejelasan soal nama tersebut,” ujarnya. (Kiki/R7/HR-Online/Editor-Ndu)

Read Entire Article
Perayaan | Berita Rakyat | | |