Tidak ada larangan ibu menyusui makan tape, namun dalam jumlah terbatas dan bijak. Tape ialah makanan tradisional hasil dari fermentasi singkong dan ketan. Makanan ini cukup populer di Indonesia. Bagi busui, untuk mengonsumsinya perlu perhatian khusus, sebab proses fermentasinya menghasilkan kadar alkohol alami. Jika kandungan alkohol masuk ke aliran darah, kemudian terserap ke dalam asi ibu. Meski kadar alkoholnya tidak tinggi, namun jika mengonsumsi tanpa batas tetap mempengaruhi kualitas nutrisi air susu.
Baca Juga: Mengetahui Beberapa Mitos Ibu Menyusui dan Faktanya
Ibu Menyusui Makan Tape, Inilah Panduan Aman Mengonsumsi
Terkadang keinginan ibu menyusui untuk makan tape sangat kuat. Sayangnya ada beberapa langkah mitigasi risiko yang harus wajib busui ketahui dan jelaskan, seperti:
- Langkah Pertama: Pilih tape yang masih baru jadi (melalui proses fermentasi satu hari), sebab, tape baru punya kadar alkohol lebih rendah dari pada tape yang sudah tersimpan lama (kadar alkohol tinggi dan sangat menyengat).
- Langkah Kedua: Perhatikan bagian tape yang akan dimakan secara teliti. Air tape yang keluar dari proses fermentasi mengandung konsentrasi alkohol paling tinggi, otomatis, busui lebih disarankan memeras, lalu membuang air terlebih dahulu. Sebaiknya mengonsumsi bagian padatnya saja dan hanya porsi kecil (sekadar mencicipi).
Ingat, waktu konsumsi memegang peranan krusial, terutama dalam menjaga keamanan bayi. Itulah mengapa para ahli kesehatan menyarankan untuk menunggu sekitar 1-3 jam setelah makan tape baru bisa menyusui kembali. Dengan jeda waktu tepat, memberi kesempatan tubuh memetabolisme dan menurunkan kadar alkohol dalam aliran darah dan ASI.
Risiko Kandungan Alkohol Jika Mengonsumsi Tape Berlebih
Dalam proses pembuatan tape, tentu melibatkan ragi yang berperan mengubah karbohidrat menjadi gula, kemudian menjadi alkohol dan gas karbondioksida. Kadar alkohol akan terus meningkat seiring lamanya waktu fermentasi dan penyimpanan. Alkohol dalam tape punya sifat mudah larut, bisa berpindah ke dalam air susu ibu dalam waktu singkat usai dikonsumsi.
Baca Juga: Tidak Terduga, Inilah Manfaat Alpukat untuk Ibu Menyusui
Keberadaan alkohol berlebih pada asi, berpotensi mengubah rasa serta aroma air susu. Hal ini seringkali menyebabkan bayi enggan menyusu. Alkohol dalam tape, juga menghambat hormon oksitosin yang berperan mengeluarkan air susu (let-down reflex). Mengakibatkan, produksi asi terasa lambat, atau berkurang sementara, tepatnya usai ibu mengonsumsi tape.
Pengaruh Tape pada Perilaku dan Kondisi Bayi
Bayi mempunyai organ hati belum sempurna, otomatis kemampuan tubuhnya untuk memproses alkohol lebih lambat dari orang dewasa. Apabila ibu mengonsumsi tape berlebih, dapat memicu efek negatif pada bayi yang menyusu. Adapun efek paling umum terlihat, yaitu perubahan pola tidur, yang mana bayi biasanya terlihat sangat mengantuk namun punya kualitas tidur dangkal.
Kandungan alkohol tape dalam asi, menyebabkan penurunan asupan susu, sebab bayi merasa tidak nyaman dengan rasa susu yang berubah. Jika ibu sering mengonsumsi dalam jangka panjang, paparan alkohol akan jauh lebih konsisten, walaupun dalam kadar rendah, dikhawatirkan mempengaruhi perkembangan motorik kasar bayi. Itulah mengapa ibu menyusui wajib waspada terhadap reaksi bayi usai mengonsumsi makanan hasil fermentasi.
Baca Juga: Penyebab ASI Tidak Keluar dan Cara Mengatasinya
Pada dasarnya, ibu menyusui boleh makan tape, asalkan dengan porsi sangat sedikit dan frekuensi yang jarang. Karena risiko kandungan alkohol alami tape tetap ada, bahkan berpotensi besar memengaruhi kondisi fisik sekaligus pola menyusu bayi. Utamakan keselamatan dan perkembangan bayi dengan menghindari keinginan mengonsumsi makanan yang berisiko. Namun jika keinginan ibu menyusui makan tape tidak bisa ditahan, boleh memakan, namun disertai konsumsi tepat. (R10/HR-Online)

5 hours ago
9

















































