Meluruskan Mitos Candi dan Menelusuri Jejak Peninggalan Sejarah di Cimahi

16 hours ago 7

harapanrakyat.com,- Peninggalan sejarah di Cimahi kini menjadi sorotan hangat setelah sempat beredar kabar bohong mengenai penemuan candi megah di daerah tersebut. Faktanya, para pegiat sejarah menegaskan bahwa video penemuan situs mirip candi yang viral di media sosial itu adalah hoaks. Meskipun demikian, kota militer ini menyimpan kekayaan sejarah kolonial dan cagar budaya yang sangat menarik untuk ditelusuri.

Baca juga: Heboh Dugaan Candi Raksasa di Cimahi, Misteri dan Fakta yang Belum Terungkap

Sejarawan menjelaskan bahwa satu-satunya temuan arkeologi kuno di Cimahi hanyalah 16 arca perunggu di Leuwigajah pada tahun 1878. Dari belasan arca kuno tersebut, hanya enam arca yang kini tersimpan dengan aman sebagai koleksi di Museum Nasional. Sementara itu, keberadaan sepuluh arca lainnya hingga saat ini masih belum diketahui secara pasti dan perlu penelitian lebih lanjut.

Jejak Militer Kolonial sebagai Peninggalan Sejarah di Cimahi

Perkembangan wilayah ini tidak terlepas dari keputusan pemerintah kolonial Belanda yang membangun pangkalan militer besar pada akhir abad ke-19. Selain barak tentara, mereka juga mendirikan fasilitas pendukung seperti Rumah Sakit Dustira dan pusat hiburan bernama Societeit voor Officieren. Gedung rekreasi para perwira yang berdiri sejak tahun 1886 ini sekarang berganti nama menjadi gedung bersejarah bernama The Historich.

Bangunan cagar budaya ini sempat terbengkalai lama sebelum akhirnya disewa dan direnovasi oleh seorang pengusaha pada tahun 2012. Sebagian besar peninggalan tersebut kini dilindungi secara hukum oleh pemerintah daerah untuk menjaga keaslian arsitektur kuno mereka.

Baca juga: Menilik Makam Peninggalan Belanda, Ereveld Leuwigajah Cimahi

Salah satu bangunan militer paling legendaris yang didirikan pada tahun 1886 adalah Penjara Poncol di Baros. Tempat ini awalnya berfungsi memenjarakan tentara Belanda yang indisipliner sebelum akhirnya beralih fungsi menjadi kamp konsentrasi semasa pendudukan Jepang. Penjara militer ini juga menjadi saksi sejarah kaburnya Edi Sampak, seorang terpidana mati kasus pembunuhan pada tahun 1984.

Pelarian tersebut sangat menggemparkan masyarakat karena Edi kabur hanya menggunakan kain sarung yang disambung-sambung. Dia berhasil bersembunyi dari buruan aparat keamanan selama 22 tahun lamanya sebelum akhirnya terendus kembali.

Stasiun Cimahi dan Jalur Distribusi Ekonomi Priangan

Selain penjara militer, Stasiun Cimahi merupakan infrastruktur vital lainnya yang mulai beroperasi sejak tahun 1884. Jalur kereta api ini awalnya dibangun untuk mempercepat pengiriman hasil bumi yang subur dari wilayah Priangan ke Batavia. Transportasi kereta api memangkas waktu perjalanan secara signifikan dari berhari-hari menjadi hanya sekitar enam hingga delapan jam saja.

Baca juga: Menyibak Misteri Asal Usul Watu Tugu Semarang, Antara Legenda Batas Kerajaan dan Pelabuhan Kuno

Stasiun ini juga dilengkapi menara air kuno untuk pengisian lokomotif uap yang menjadi ciri khas satu-satunya di jalur tersebut. Namun, bagian talang air pada bangunan bersejarah itu dilaporkan telah hilang dan belum dipasang kembali hingga saat ini. Pelestarian stasiun kereta api ini sangat penting agar masyarakat tetap bisa mengagumi keunikan peninggalan sejarah di Cimahi. (Muhafid/R6/HR-Online)

Read Entire Article
Perayaan | Berita Rakyat | | |