Menelusuri Sejarah Gunung Bojogede Pangandaran, Ada Makam Utusan Mataram

9 hours ago 9

harapanrakyat.com,- Rimbunnya kawasan Gunung Bojogede di Dusun Neglasari, Desa Paledah, Kecamatan Padaherang, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat menyimpan jejak sejarah dan legenda yang masih hidup hingga sekarang. Cerita masa lalu yang melekat dengan kawasan tersebut tetap terjaga berkat peran para sesepuh dan juru kunci (kuncen) yang konsisten merawat situs makam keramat para leluhur. 

Totong, selaku sesepuh sekaligus kuncen makam Eyang Jaga Pati dan Eyang Gedeng Mataram, mengungkapkan bahwa Gunung Bojogede memegang nilai historis bagi masyarakat setempat. Jasad para tokoh besar yang diyakini menorehkan pengaruh kuat pada masanya bersemayam di kawasan hutan tersebut.

“Kawasan Gunung Bojogede ini sejak dulu menjadi tempat bernaungnya jejak para leluhur. Sampai hari ini, masyarakat dari berbagai daerah masih rutin datang untuk berziarah sekaligus menghormati perjuangan mereka,” ujar Totong saat ditemui di lokasi, Kamis (4/6/2026). 

Baca Juga: Tepis Isu Kelangkaan Obat di Pangandaran, Dinas Kesehatan: Semua Aman

Totong menceritakan, salah satu tokoh utama yang dimakamkan di sana adalah Eyang Jaga Pati. Berdasarkan narasi tutur yang diterima secara turun-temurun, Eyang Jaga Pati merupakan adik kandung dari Jaga Resmi. 

Ia mendapatkan mandat khusus untuk menjaga dan memelihara wilayah Gunung Bojogede pada era terdahulu. Sosok Eyang Jaga Pati begitu dihormati oleh warga lokal karena dedikasi dan pengabdiannya dalam menjaga keamanan serta ketenteraman wilayah Desa Paledah. 

Peran Generasi Muda Pelajari Sejarah Gunung Bojogede Pangandaran

Komitmen masyarakat dalam merawat makam ini membuatnya tetap utuh dan menjadi salah satu magnet wisata religi di Padaherang. Tidak jauh dari sana, terdapat pula makam Eyang Gedeng Mataram yang menyimpan kisah senada. Menurut penuturan Totong, Gedeng Mataram diyakini sebagai seorang delegasi resmi atau utusan dari Kerajaan Mataram Islam yang melakukan perjalanan dinas menuju wilayah Kerajaan Pajajaran.

Baca Juga: Tiga Makna Penting di Balik Tradisi Hajat Laut Pangandaran 

“Berdasarkan cerita ekosistem leluhur, Gedeng Mataram ini awalnya mengemban tugas dinas dari Kerajaan Mataram. Namun, di tengah perjalanannya, beliau memutuskan untuk menetap di area Gunung Bojogede hingga akhir hayatnya,” lanjut Totong. 

Keberadaan dua makam sakral ini menjadi bukti autentik kekayaan historis yang dimiliki Kabupaten Pangandaran. Situs-situs ini selain sebagai tempat ritual keagamaan juga merupakan media refleksi untuk memahami dinamika sosial dan budaya masa lampau. 

Totong menekankan pentingnya peran generasi muda dalam mengenali dan mempelajari sejarah lokal ini agar tidak tergerus oleh modernisasi. Ia juga mengetuk pintu pemerintah daerah agar memberikan perhatian lebih terhadap kelestarian situs budaya ini.

Baca Juga: Bantah Tudingan DPRD, Puskesmas Padaherang Pangandaran Pastikan Stok Obat Aman dan Siap Bayar TPP 

“Ini bukan sekadar urusan makam kuno, tetapi tentang menjaga fondasi sejarah, kebudayaan, dan identitas asli masyarakat. Ini yang wajib diwariskan ke anak cucu kita nanti,” pungkasnya. (Madlani/R7/HR-Online/Editor-Ndu)

Read Entire Article
Perayaan | Berita Rakyat | | |