Kesenian Surak Ibra menjadi salah satu warisan budaya khas Garut yang memiliki bentuk pertunjukan unik. Dimana Surak Ibra mencakup gerakan tari, musik tradisional, serta suara sorak khas. Tradisi tersebut memiliki karakter kolosal karena dapat melibatkan puluhan hingga ratusan orang.
Baca Juga: Tari Seblang Banyuwangi, Kesenian Tradisional Sakral dari Suku Osing
Pertunjukan ini pun menghadirkan suasana sangat meriah di berbagai event penting. Keberadaannya masih masyarakat pertahankan hingga sekarang melalui berbagai kegiatan budaya. Tidak hanya sebagai hiburan, Surak Ibra juga menyimpan nilai kebersamaan sekaligus semangat masyarakat.
Sejarah Kesenian Surak Ibra
Sejarah Surak Ibra bermula di Kampung Sindang Sari, Desa Cinunuk, Kecamatan Wanaraja, Garut. Kesenian tradisional ini telah berkembang sejak sekitar tahun 1910. Konon pertama kali tercipta oleh Raden Djajadiwangsa, putra Raden Wangsa Muhammad yang populer dengan nama Raden Papak.
Kehadiran kesenian tersebut tidak terlepas dari kondisi masyarakat pada masa pemerintahan kolonial Belanda. Kala itu, masyarakat menghadapi berbagai tindakan yang sewenang-wenang. Kesenian kemudian menjadi salah satu media untuk membangkitkan keberanian serta semangat masyarakat.
Raden Djajadiwangsa menuangkan semangat perlawanan melalui pertunjukan yang melibatkan banyak warga. Pertunjukannya juga menjadi bentuk ekspresi masyarakat dalam menjaga semangat kebersamaan. Nilai gotong-royong sekaligus kemandirian menjadi bagian penting dari kesenian tersebut.
Awalnya Populer sebagai Boboyongan
Kesenian Surak Ibra pada awal perkembangannya juga masyarakat kenal dengan nama Boboyongan Eson. Nama tersebut berkaitan dengan tokoh bernama Eson yang mengembangkan kesenian Boboyongan sekitar tahun 1910. Masyarakat luas kemudian mengenal istilah “Surak Eson”.
Hanya saja, setelah Eson meninggal dunia, sebutan itu perlahan hilang. Banyak orang lebih mengenalnya sebagai Boboyongan atau Surak Ibra. Istilah Surak Ibra sendiri menggambarkan suasana pertunjukan yang penuh senggak dan sorak-sorai. Suara berpadu dengan gerakan para pemain sehingga menghasilkan pertunjukan dinamis.
Melibatkan Puluhan hingga Ratusan Orang
Salah satu keunikan kesenian Surak Ibra terletak pada jumlah pemainnya. Pertunjukannya dapat melibatkan sedikitnya sekitar 40 orang hingga mencapai 100 orang. Banyaknya pemain memperlihatkan kuatnya unsur kebersamaan dalam kesenian tersebut. Setiap bagian pertunjukan membutuhkan koordinasi agar seluruh rangkaian dapat berjalan secara selaras.
Surak Ibra juga menggunakan berbagai instrumen tradisional. Beberapa diantaranya adalah dogdog, angklung, gendang pencak, keprak dan kentongan bambu. Obor dari bambu turut hadir untuk menambah karakter visual pertunjukan. Perpaduan musik, gerakan, sorak dan jumlah pemain membuat Surak Ibra memiliki karakter pertunjukan yang kolosal.
Pada masa lalu, kesenian ini pernah tampil dalam berbagai pesta di Garut. Salah satunya adalah pesta yang terselenggara di kalangan para dalem atau bupati Garut. Perkembangannya kemudian membuat Surak Ibra semakin dekat dengan berbagai kegiatan masyarakat di Desa Cinunuk Kabupaten Garut.
Kerap Memeriahkan HUT RI hingga Hari Jadi Garut
Seiring berjalannya waktu, kesenian Surak Ibra tidak hanya tampil dalam kegiatan budaya masyarakat. Lebih dari itu, pertunjukannya juga kerap menjadi bagian dari berbagai peringatan hari besar. Salah satu momentum yang sering diwarnai pertunjukan Surak Ibra adalah HUT RI. Pertunjukannya dapat menghadirkan suasana semarak sekaligus mengingatkan masyarakat terhadap nilai perjuangan yang melekat dalam sejarahnya.
Surak Ibra juga dapat menjadi ruang untuk memperkuat persatuan antar-warga. Puluhan pemain yang bergerak bersama memperlihatkan bagaimana sebuah pertunjukan membutuhkan kekompakan dan kerja sama. Selain peringatan kemerdekaan, perayaan Hari Jadi Kabupaten Garut kerap menampilkannya.
Di lingkup lebih luas, Surak Ibra pernah tampil dalam Pesta Seni ITB pada tahun 2000. Dalam kesempatan tersebut, puluhan penari membawakan pertunjukan dengan membawa patung Ganesha. Kehadirannya terus menjadi bagian dari upaya mempertahankan kesenian tradisional di tengah perkembangan zaman.
Surak Ibra juga telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2022. Penetapan berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Nomor 414/P/2022. Dalam pencatatan pemerintah, Surak Ibra berasal dari Kabupaten Garut, Jawa Barat, dan masuk dalam domain Seni Pertunjukan.
Baca Juga: Tari Legong Bali, Berasal dari Mimpi Jadi Kesenian Populer
Penetapan tersebut menjadi bentuk pengakuan sekaligus upaya perlindungan terhadap keberadaan kesenian Surak Ibra sebagai warisan budaya. Secara nasional, penetapan WBTb berlangsung melalui proses pengusulan dan penilaian oleh tim ahli. Sehingga status tersebut bukan sekadar sebutan untuk kesenian daerah. Lebih dari itu, kesenian Surak Ibra memiliki posisi yang semakin kuat dalam deretan kekayaan budaya Indonesia. (R10/HR-Online)

8 hours ago
8

















































