harapanrakyat.com,- Lahan gambut yang dulu dianggap tak produktif justru menjadi sumber penghidupan yang menjanjikan. Di Desa/Kecamatan Cijulang, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, seorang tokoh masyarakat bernama H Muslih atau H Lilih berhasil menyulap kebun dahon menjadi hamparan kelapa hijau yang subur, berbuah lebat, dan penuh keberkahan.
Berawal dari kebun gambut yang oleh warga setempat dikenal sebagai lahan dahon dan dinilai kurang produktif, H. Lilih justru melihat peluang. Di Blok Mergag, Dusun Haurseah, hamparan kebun kelapa hijau kini tumbuh subur di atas lahan yang sebelumnya nyaris tak bernilai. Kebun tersebut menjadi saksi nyata ketekunan dan kesabaran dalam mengelola alam.
“Awalnya saya membeli lahan yang memang tak produktif, kebun gambut atau di sini disebut dahon. Menanam kelapa itu sebenarnya tidak disengaja,” katanya, Rabu (4/2/2026).
Perjalanan Lahan Gambut Tak Produktif Jadi Kebun Kelapa Penuh Berkah
Karena lahan yang dimiliki cukup luas, ia pun memutuskan memanfaatkannya dengan menanam kelapa tanaman yang sudah akrab dengannya sejak kecil. Keputusan sederhana itu kini berbuah manis. Pohon kelapa yang baru berusia sekitar 2,5 tahun sudah mulai berbuah lebat. “Pohonnya pendek, seperti bonsai, tapi buahnya banyak sekali,” ucapnya.
Perjalanan tersebut tentu tidak instan. Lilih mengakui, proses dari menanam hingga panen penuh tantangan. Hama seperti kumbang tanduk sempat menjadi hambatan. Namun, dengan perawatan yang tekun dan konsisten, semua bisa diatasi.
“Namanya bertani pasti ada rintangan. Tapi kami rawat sebaik mungkin. Alhamdulillah, hasilnya sangat memuaskan,” tuturnya.
Baca Juga: Harga Kelapa di Pangandaran Tembus Rp 8 Ribu Per Butir
Sementara untuk perawatan, ia mengandalkan pupuk alami dari kotoran ayam. Sedangkan pengendalian hama ia lakukan secara terukur. Menurutnya, tantangan terbesar hanya di awal pertumbuhan tanaman. Setelah pohon besar, perawatannya relatif ringan.
Saat ini, sekitar 12 hektare yang sebagian besar sawah dan lahan gambut yang sebelumnya tak produktif, telah ditanami kelapa. Hasilnya pun tak main-main. Buah kelapa menjadi “gaji masa tua” yang mampu mencukupi kebutuhan keluarga, bahkan membantu orang lain.
Tak hanya soal ekonomi, kebun kelapa itu juga membawa keberkahan spiritual. Dari hasil jerih payahnya, Lilih mampu memberangkatkan anggota keluarganya ke Tanah Suci. “Baru-baru ini kami memberangkatkan saudara untuk umroh, dan itu murni dari hasil kelapa,” tuturnya.
Pesan untuk Generasi Muda
Di akhir kisahnya menyulap lahan gambut tak produktif menjadi berkah, Lilih menyampaikan pesan menyentuh bagi generasi muda. Ia mengajak para pemuda milenial, agar tidak gengsi bertani dan berani memanfaatkan lahan yang ada, sekecil apa pun.
“Menanam kelapa itu sangat menjanjikan untuk masa depan. Pohon kelapa tidak peduli kita sedang sakit atau tidur, dia tetap tumbuh dan berbuah,” katanya.
Baginya, tidak semua orang harus menjadi pejabat atau pegawai. Bertani adalah jalan hidup yang mulia, penuh kesabaran, dan sarat berkah. Dari tanah atau lahan gambut yang dulu dianggap tak produktif dan bernilai, H Lilih membuktikan bahwa ketulusan dan kerja keras mampu menumbuhkan harapan bahkan mengantarkan langkah menuju Tanah Suci.
Baca Juga: Harga Kelapa Melonjak Tinggi di Pangandaran, Petani Pilih Menjualnya Lebih Cepat
“Kami sangat bersyukur. Semoga menjadi motivasi bagi para pemuda. Untuk kelapa saya kasih nama kelapa Mergag sesuai daerah,” pungkasnya. (Kiki/R5/HR-Online/Editor: Adi Karyanto)

9 hours ago
6

















































